Ditengah Pandemi Covid-19, `Menjual` Rakyat Miskin Dongkrak Popularitas Menuju Pilpres 2024

Sammy
Ditengah Pandemi Covid-19, `Menjual` Rakyat Miskin Dongkrak Popularitas Menuju Pilpres 2024
Ilustrasi pembagian paket sembako untuk warga terdampak COVID-19 (ist)

Jakarta, HanTer - Berbagai upaya penanganan Covid-19 tentunya berimplikasi terhadap berbagai hal. Salah satunya, menjadi komoditas tersendiri dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitas para kepala daerah dan elit politik lainnya menuju panggung Pilpres 2024.

Disisi lain, Indikator Politik Indonesia (IPI) melakukan survei terkait penanganan Covid-19 dan implikasinya terhadap beberapa sektor, termasuk politik. Pandemi Covid-19 ini disebut bisa menjadi panggung mendongkrak popularitas dan elektabilitas para kepala daerah.

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, mengatakan kepentingan politik sesaat itu, memang tidak bisa dinafikan. Tetapi ditengah wabah berat seperti sekarang ini, semua akan percuma.

"Nanti 2022 baru ketahuan tuh para Capres 2024 asli, yang bisa diterima rakyat," katanya di Jakarta, Senin (8//6/2020).

Menurutnya, kalaupun memang ada kepentingan terselubung dari elit, yang bergerak atas nama bantuan Covid-19, tidak perlu dipertanyakan. Asalkan, semua bergerak demi tujuan yang sama, menyelematkan bangsa dari Covid-19, apapun motifnya.

"Sekarang sih kompak tangani corona aja dulu, trus perbaiki ekonomi, jaga negara, mau sekalian pencitraan bisa kok. Tapi mesti lebih gede ngobrolin kamu," kata dia.

Karena, lanjut Hendri, partai politik telah memindahkan bantuan sosial, dan melakukan publikasi publik di media sosial.

Tanpa kesulitan untuk berprasangka negatif, masyarakat di masa depan akan sangat membutuhkan bantuan sumbangsihnya, bagi upaya penyelamatan dari wabah Covid-19.

Panggung Politik

Disisi lain, Indikator Politik Indonesia (IPI) melakukan survei terkait penanganan Covid-19 dan implikasinya terhadap beberapa sektor, termasuk politik. Pandemi Covid-19 ini disebut bisa menjadi panggung mendongkrak popularitas dan elektabilitas para kepala daerah.

Direktur Eksekutif IPI Burhanuddin Muhtadi menyoroti selama dua bulan terakhir di mana penanggulangan Covid-19 bergeser dari pusat ke daerah.

"Itu memberikan kesempatan pada kepala daerah yang pintar memanfaatkan panggung setidaknya menjaga popularitas dan elektabilitasnya," ujarnya di Jakarta, Senin (8/6/2020).

Dalam hasil survei yang dilakukan IPI, ada empat kepala daerah yang berada dalam posisi tujuh tertinggi dalam hal pilihan politik dari 14 nama yang disurvei. Mereka adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Ganjar menempati posisi kedua di bawah tokoh lama, Prabowo Subianto. Posisi Ganjar diikuti oleh Anies dan Ridwan Kamil pada posisi ketiga dan keempat. Sedangkan, Khofifah ada pada posisi ketujuh.

Meski demikian, setelah Covid-19, dari empat nama kepala daerah tersebut, hanya dua di antaranya mengalami kenaikan. Sedangkan dua di antaranya justru menurun. Kenaikan dan penurunan ini dibandingkan dengan survei serupa yang digelar IPI sebelum pandemi, yakni Februari 2020.

Burhanuddin menjelaskan, kenampakan para kepala daerah di depan publik pada masa pandemi inilah yang berperan pada popularitas politik mereka. Faktor ini pula yang membuat tokoh lain yang tak terkait Covid-19 mengalami penurunan, misalnya Prabowo, Sandiaga dan AHY.

"Karena mereka memang tidak terlalu punya posisi publik untuk berbicara masalah Covid-19," kata dia.

Burhanuddin juga mengingatkan soal proporsi pemilih partisan. Ia mencontohkan, pendukung Anies rata rata merupakan pemilih Prabowo di Pemilu sebelumnya. Anies harus berbagi dengan pendukung Prabowo sendiri, Sandi, AHY, bahkan Gatot Nurmantyo.

Sedangkan pendukung Emil dan Ganjar berasal dari pendukung Jokowi. "Kalau boleh dibilang, basis pak Jokowi ini masih kosong. Sementara pemilih Pak Prabowo terbagi beberapa tokoh," ujar Burhanuddin.

Para pendukung kepala daerah itu juga masih berasal dari daerah yang mereka pimpin. Padahal populasi masing-masing daerah jelas berbeda. "Secara umum masih Jago Kandang," ujar Burhanuddin.

Burhanuddin pun menyimpulkan, pada intinya, Covid-19 ini membuat pertarungan 2024 menjadi lebih berimbang. Dengan ada Covid, kata dia, minimal ada lima nama yang punya kans berimbang, yakni Prabowo, Ganjar, Anies, Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno.

"Jadi seharusnya pertarungannya lebih kompetitif," kata dia menegaskan.