Tajuk: Masjid Dibuka, Kerinduan Umat Akhirnya Terobati

***
Tajuk: Masjid Dibuka, Kerinduan Umat Akhirnya Terobati

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyatakan bahwa secara bertahap kegiatan ibadah di rumah ibadah dibuka kembali dengan menaati protokol kenormalan baru yang akan direvisi izinnya setiap bulan.

Menurut Menag, dibukanya rumah ibadah dalam tatanan normal baru setidaknya menjawab kerinduan umat kepada rumah ibadah, meningkatkan pahala ibadah, dan meningkatkan upaya spiritual, memberikan “reward” kepada daerah yang telah terbukti berhasil mengurangi angka penyebaran COVID-19 dan memberikan ketenangan batin kepada seluruh rakyat Indonesia.

Kalangan ulama juga meminta pemerintah agar tempat ibadah seperti masjid dan musholah dibuka kembali. Hal ini terkait dengan rencana relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dampaknya tentu orang sudah mulai boleh berkumpul-kumpul di mall, bandara serta tempat-tempat publik lainnya. Maka di masjid, mushola atau surau pun juga sudah bisa dilakukan untuk kembali dibuka untuk beribadah.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Mejelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas meminta semua orang (jamaah untuk tetap memperhatikan dan mematuhi protokol medis yang ada karena kalau tidak resiko terjadinya penularan dari virus tersebut tentu akan  sangat besar.

Anwar memaparkan, sesuai protokol medis maka physical distancing atau menjaga jarak sangat menjadi perhatian. Jarak antara satu orang dengan orang lain minimal 1 meter. Hal ini tentu menjadi masalah jika di masjid, mushola atau surau yang jumlah jamaahnya membludak. Di hari Jum'at, biasanya jamaah sudah memenuhi masjid. Bahkan ada masjid yang tidak muat dengan jumlah jamaah sholat Jum'at. 

Menurut Anwar pihaknya akan menyampaikan kepada Komisi Fatwa MUI untuk mempelajari apakah bisa dimungkinkan pelaksanaan sholat Jum'at di tengah wabah Covid-19 dilakukan secara bergelombang. Misalnya, gelombang pertama pukul 12.00, kedua pukul 13.00 dan ketiga pukul 14.00, sehingga masalah jarak dan keterbatasan ruang atau space  akan bisa teratasi. 

Atau, lanjutnya, pihaknya juga bisa mengatasi masalah tersebut dengan menambah dan memperbanyak tempat penyelenggaraan sholat Jum'at yang sifatnya sementara dengan mengubah aula atau ruang pertemuan untuk menjadi tempat pelaksanaan shalat Jumat sehingga jamaah yang ada bisa tertampung dalam waktu yang sama  tampa melanggar protokol medis.

Para ulama mengemukakan pemerintah wajib memfasilitasi umat Islam beribadah jika telah melonggarkan aktivitas sosial di tengah pandemi Covid-19. Sesuai Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020, umat Islam di wilayah dengan kondisi pandemi yang terkendali wajib melaksanakan ibadah yang melibatkan banyak orang di masjid atau tempat umum lainnya, seperti salat wajib, salat Jumat, pengajian, dan majelis taklim.

Sebelumnya, pemerintah kembali melontarkan wacana relaksasi rumah ibadah. Kali ini, wacana itu digulirkan setelah pemerintah mencanangkan tatanan kehidupan baru atau new normal. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyampaikan pelonggaran masjid rencananya hanya untuk kegiatan sholat. Untuk kegiatan lain seperti pengajian akan dilonggarkan jika kondisi dinilai memungkinkan.

Untuk edukasi, kata Menag, biasanya ceramah, kultum di rumah ibadah termasuk misalnya penjelasan soal covid ada tahapnya. Tahap pertama sepakat hanya ibadah salat saja dan sesingkat mungkin," kata Fachrul dalam jumpa pers usai rapat terbatas, Rabu (27/5/2020). 

Kita mengingatkan, kebijakan Normal Baru seharusnya berlaku di semua kehidupan sosial masyarakat termasuk tempat ibadah, kantor, dan tempat belajar. 

Tidak adil kiranya jika mall dan penerbangan dibuka sementara masjid tetap ditutup. Intinya penerapam kebijakan Normal Baru tidak memilih-milih tempat dan berlaku umum sesuai standar.

Kepada umat Islam harus memperhatikan protokol kesehatan, jaga jaraknya. Dengan protokol jarak satu sama lain satu meter maka ada persoalan jamaah masjid biasanya membludak.
 
Protokol kesehatan melalui relaksasi masjid idealnya diterapkan secara ketat salah satunya jamaah diwajibkan membawa sandal dan sepatu ke dalam. Tujuan dari metode itu agar tidak menimbulkan kerumunan di tempat meletakkan alas kaki di luar masjid seusai shalat.

Selain itu, relaksasi di masjid itu mengajak jamaah untuk tidak merapatkan shaf shalatnya dengan menjaga jarak sekira satu meter, menggunakan alas sujud sendiri, menggunakan masker dan penerapan protokol kesehatan terkait lainnya.

Dengan dibukanya masjid selain untuk sholat, umat Islam bisa melakukan terus berbagai kegiatan dengan melibatkan jamaah, seperti pengajian dan lainnya.

#Corona   #covid-19   #psbb   #newnormal   #masjid   #mal