Tajuk: Mewaspadai Aksi Kejahatan Jelang Lebaran

***
Tajuk: Mewaspadai Aksi Kejahatan Jelang Lebaran
Ilustrasi (ist)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, jumlah tindak kriminal selama bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri mengalami peningkatan. Di tengah pandemic COVID-19 aksi-aksi kejahatan, terutama pencurian dan perampokan juga mengalami peningkatan.

Data statistik kejahatan Mabes Polri mencatat bahwa angka kriminalitas di seluruh Indonesia pada dua pekan jelang Hari Raya Idul Fitri, tercatat naik 7,04 persen.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divhumas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Senin mengemukakan, di pekan ke-20, ada kenaikan 7,04 persen angka kriminalitas bila dibandingkan pekan ke-19.

Pada pekan ke-19 tahun 2020 atau awal Mei 2020 tercatat terjadi 3.481 kasus kriminalitas. Di pekan ke 20 tahun ini atau pekan kedua Bulan Mei, jumlah kasus kriminalitas naik 245 kasus menjadi 3.726 kasus.

Melihat adanya peningkatan masyarakat hendaknya  untuk selalu berhati-hati dan waspada jika hendak keluar rumah. Masyarakat untuk lebih waspada menghindari hal-hal yang bisa memancing dan memicu terjadinya tindak kejahatan. 

Masyarakat harus meningkatkan kehati-hatian. Kalau pergi tidak sendirian, mengendarai kendaraan tidak sendirian, juga berhati-hati saat meninggalkan rumah.

Tentu saha masyarakat tidak perlu resah dalam beraktivitas karena Polri menjamin keamanan masyarakat. Dalam menjalankan tugas menjaga kamtibmas kepolisian juga dibantu oleh TNI dan para penegak hukum lainnya.

Sementara itu di tengah pandemi COVID-19 saat ini, sejumlah kalangan termasuk pihak kepolisian memprediksi meningkatnya aksi-aksi anarkis dan kriminalitas yang meresahkan masyarakat dan mengancam stabilitas keamanan. Hal ini akibat himpitan ekonomi yang dihadapi warga akibat aktivitas ekonomi dibatasi. 

Direktur Keamanan Negara Mabes Polri Brigadir Jenderal Umar Effendi, 
potensi aksi anarkis dan kriminalitas selalu ada, terutama dalam situasi seperti ini. Untuk itu, kepolisian sudah berkoordinasi hingga level Polsek agar terus mengawasi dan membina.

Pelaksana tugas Deputi V KSP, Jaleswari Pramodhawardani, mengatakan pemerintah mengantisipasi ancaman stabilitas keamanan dan meningkatnya kriminalitas. Alasannya pandemi Corona menurunkan daya beli masyarakat dan naiknya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).

Jaleswari mengemukakan, isu keamanan termasuk hal yang KSP pantau. Meningkatnya angka pengangguran, misalnya, perlu diantisipasi agar dampaknya tidak menimbulkan konflik sosial dan keamanan.

Sejumlah pengamat ekonomi dan sosial mengemukakan adanya penurunan daya beli dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena terdampak pandemi COVID-19, menjadi pemicu terjadinya aksi kriminalitas dan aksi yang mengganggu stabilitas keamanan bahkan stabilistas politik.

Kita mengapresiasi sejumlah upaya yang sudah dan akan dilakukan pemerintah untuk mengurangi dan mengantisipasi aksi-aksi tersebut antara lain dengan berbagai skema ekonomi.  

Biasanya pelaku kejahatan berangkat dari ekonomi yang morat-marit, hingga akhirnya tidak mengherankan berbagai aksi nekat kejahatan  semakin meningkat.

Penyebab lain adalah masalah urbanisasi, kemiskinan, pengangguran serta kepadatan penduduk yang tinggi.  Kondisi ekonomi masyarakat yang lemah mengakibatkan jalan pintas yang diambil sebagian pihak.   

Polri sebagai penanggung jawab keamanan dituntut bekerja lebih keras lagi agar bisa memberikan rasa aman terhadap masyarakat. Sudah saatnya dibuat kebijakan dan langkah-langkah khusus secara nasional untuk mengatasi maraknya kejahatan jalanan ini. Jangan sampai publik menganggap polisi gagal memberikan rasa aman kepada mereka. 

Itulah sebabnya, Polri harus bisa berbuat lebih untuk melindungi masyarakat. Disisi lain, pemerintah harus bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan-kebijakan yang prorakyat. 

Kewaspadaan terhadap aksi kejahatan harus ditingkatkan warga Jakarta dan daerah sekitarnya yang kini menerapkan PSBB. Karena, ada saja oknum dan pihak tertentu yang memanfaatkan situasi ini untuk melakukan tindak kejahatan.
 
Masyarakat harus meningkatkan kehati-hatian. Kalau pergi tidak sendirian, mengendarai kendaraan tidak sendirian, juga berhati-hati saat meninggalkan rumah.