Heboh Penjualan Daging Babi, DPR: Pengawasan Pemerintah Lemah

Safari
Heboh Penjualan Daging Babi, DPR: Pengawasan Pemerintah Lemah
Ilustrasi (ist)

Jakarta, HanTer - Jelang Hari Raya Idul Fitri, kerap terjadi kasus peredaran daging yang dikesankan sebagai daging sapi. Peredaran ini membuat gaduh dan meresahkan masyarakat. Aparat penegak hukum diminta bertindak tegas.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengatakan, adanya peredaran daging babi yang diolah menyerupai daging sapi karena kurangnya pengawasan dari pemerintah khususnya Kementerian Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Akibatnya, kejadian serupa selalu berulang khususnya ketika kebutuhan daging sapi meningkat seperti saat ini menjelang Hari Raya Idul Fitri atau lebaran.
 
"Kejadian seperti ini (oplos daging babi dengan daging sapi) hampir selalu berulang setiap tahunnya ketika menjelang lebaran, karena tingginya permintaan masyarakat akan daging menjelang lebaran sering kali dimanfaatkan pedagang curang yang menggantinya dengan daging babi. Ini karena kurangnya pengawasan dari Kementerian Pertanian dan BPOM" kata Netty di Jakarta, Rabu (13/05/2020).
 
Netty sangat menyayangkan adanya peredaran daging babi apalagi jaringan pelakunya sudah beroperasi selama setahun dan sudah menjual puluhan ton daging babi yang diolah mirip daging sapi. "Bisa dibayangkan berapa banyak masyarakat muslim yang sudah mengonsumsi daging olahan tersebut. Ini harus dibongkar sampai ke akarnya, apalagi ada kaitannya dengan pemasok dari Solo. Bisa jadi pemasok Solo tidak hanya mengirim ke Bandung, tapi juga ke daerah-daerah lain" ujar legislator dari Jawa Barat ini.
  
Diketahui, Polresta Bandung, Jawa Barat, berhasil mengungkap peredaran daging babi yang diolah menyerupai daging sapi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (9/5/2020). Pelaku pengedaran  berjumlah empat orang berinisial T (54), MP (46), AR (38), dan AS (39). Berdasarkan keterangan dari Polresta Bandung, para pelaku sudah beroperasi selama setahun lebih dengan perkiraan jumlah penjualan 63 ton.

Para pelaku sengaja memalsukan daging babi dengan berbagai cara agar bisa menyerupai daging sapi. Daging babi diberi boraks agar warna dan tekstur menyerupai. Daging lalu dibebukan dan dijual dengan harga lebih murah dari harga pasaran.

MUI

Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) merespons dengan keprihatinan atas beredarnya daging babi yang dikesankan sebagai daging sapi. 

"Ini praktik bisnis yang tidak hanya curang dan jahat. Namun juga meresahkan masyarakat karena daging palsu tersebut beredar di kalangan konsumen muslim yang mengharamkan daging babi," ujar Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim, di Jakarta, Rabu (13/52020). 

Dia mengatakan, peredaran daging babi yang dikemas seolah-olah daging sapi tak bisa dilihat secara parsial. Sebab kejadian selalu berulang dan terjadi jelang perayaan Idul Fitri

Menurutnya, persoalan utama ini karena tingginya permintaan dan suplai. Pun, lemahnya penegakan hukum juga jadi faktor lain.

Dia menekankan pemalsuan daging haram jadi halal merupakan ranah tindak pidana. Maka itu, pemerintah terutama jajaran kepolisian harus mengusut tuntas kasus tersebut. Pelaku yang terlibat mesti ditindak tegas.

#Lebaran   #daging   #babi   #dpr   #bpom