Jokowi Didesak Tangkap Pelaku yang Permainkan Harga Gula 

Safari
Jokowi Didesak Tangkap Pelaku yang Permainkan Harga Gula 

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo memerintahkan jajaran kementerian terkait untuk mengungkap penyebab tingginya harga gula pasir dan bawang merah karena terdapat dugaan tingginya dua bahan pokok tersebut akibat permainan harga yang menguntungkan segelintir pihak.

"Saya ingin ini dilihat masalahnya di mana, apakah masalah distribusi, atau stoknya kurang, atau ada yang sengaja permainkan harga untuk sebuah keuntungan yang besar," kata Presiden rapat terbatas melalui telekonferensi video mengenai Antisipasi Kebutuhan Pokok dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu.

Pengamat kebijakan publik Rusmin Effendi SH MH menegaskan, permainan harga komoditi seperti saat ini gula putih dan bawang merah sulit diberantas sepanjang masih adanya kepentingan oknum-oknum pemerintah. Gejolak harga pangan, selalu diciptakan demi mengeruk keuntungan yang dijdikan bancakan

Rusmin mengatakan kalau memang Pemerintah pro rakyat harusnya dibuktikan dong dengan diberantasnya para mafia pangan. Juga, meminimalisir peluang-peluang spekulan yang mengatur kebijakan-kebijakan terkait impor. Bukan hanya sekedar menyampaikan di media tanpa ada tindakan tegas seperti menangkap atau memperkarakan pelakunya.

“Saat ini rakyat sedang menunggu langkah konkret yang dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga-harga pangan. Bukan hanya sekedar menyampaikan ke media ada permainan harga. Tapi tanpa ada tindakan nyata untuk menstabilkan harga komoditi yang dibutuhkan rakyat. Apalagi saat ini kondisi juga sedang sulit karena wabah Covid-19 yang membuat daya beli masyarakat turun,” kata Rusmin kepada Harian Terbit, Rabu (13/5/2020).

Sementara itu, pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, ada cara yang paling mudah untuk mengetahui ada permainan mafia impor yakni melihat stok di petani seperti gula, bawang, padi, garam, dan sebagainya masih cukup tersedia atau tidak. Karena agak aneh juga di era Jokowi banyak petani yang mengeluh harga garam, tebu, padi jatuh murah sekali sehingga banyak numpuk di gudang. Tapi harga komoditi tersebut di pasar justru terlalu mahal. 

"Publik juga bisa melihat dengan gamblang bagaimana Kabulog Budi Waseso pernah naik pitam karena beras impor di gudang masih numpuk bahkan harus rugi untuk sewa gudang karena over suply tapi Menperindag yang dibackingi Kantor Kepresidenan ngotot terus mau impor," jelasnya.

Apalagi, sambung Aminudin, Jokowi tidak bertindak adanya mafia pangan karena platform ekonomi Jokowi sejak di Pilpres 2014 dan 2019 jelas tidak pro poor (rakyat miskin) dan tidak pro petani. Oleh karena itu, Jokowi tidak memandang penting kebijakan pertanian sehingga lebih  mementingkan infrastruktur pelaku ekonomi besar seperti industri dan unicorn yang valuasinya di atas Rp10 trilyun.

"Itu juga terlihat dari spending atau belanja negaranya yang terus mengurangi alokasi untuk pertanian," tandasnya.

#Jokowi   #gula   #sembako   #pangan