Tajuk: Pandemi COVID-19, Ekonomi Ambruk, Cetak Orang Miskin Baru

***
Tajuk: Pandemi COVID-19, Ekonomi Ambruk, Cetak Orang Miskin Baru
Ilustrasi (ist)

Pandemi Covid-19 tidak hanya menjadi isu kesehatan, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi. Pandemi ini sudah memberikan dampak buruk di bidang ekonomi. Dari mulai PHK massal, penutupan pabrik-pabrik, goncangan terhadap supply and demand hingga terjadinya penurunan daya beli (konsumsi) masyarakat. 

Sektor UMKM yang sering disebut sebagai sabuk pengaman ekonomi, kini justru yang paling parah terkena dampaknya.  Akibatnya, ekonomi secara keseluruhan collaps dan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun 2020 diperkirakan para pakar ekonomi akan anjlok secara dramatis. 

Muhammad Misbakun, anggota DPR mengatakan, krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 saat ini lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan krisis-krisis ekonomi yang terjadi sebelumnya. Hal ini karena yang terkena hantaman dari krisis ini adalah supply and demand secara bersamaan. 

Prof. Didik Rachbini mengemukakan bahwa krisis akibat pandemi ini berbeda dibandingkan krisis-krisis sebelumnya. Menurutnya, krisis ekonomi tahun 1998 hanya menyelesaikan dampaknya, karena masalahnya sudah selesai. Namun, saat ini antara masalah dan dampaknya terjadi secara bersamaan. Hal ini membuat bangsa ini diliputi dengan ketidakpastian. 

Saat ini pandemi sudah sangat berdampak pada dunia usaha, terlebih sejak diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).  Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan agar dunia usaha tidak makin tertekan dan bahkan membuat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan merumahkan karyawan.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani si Jakarta, Senin, mengatakan, tekanan besar bagi dunia usaha sudah tidak bisa lagi ditahan. Namun, di sisi lain, sudah tidak ada yang bisa dilakukan untuk membantu dunia usaha di saat seperti ini.

Sebelumnya Wapres Ma'ruf Amin, menurutnya, akibat COVID-19 tidak hanya saja mengakibatkan terganggunya kesehatan, tetapi juga berdampak pada masalah sosial dan ekonomi, angka kemiskinan menjadi berlipat, bertambah.

Berapa perkiraan jumlah orang miskin baru di negeri ini?  Riset terbaru SMERU Research Institute menyebutkan, dalam skenario terburuk, pukulan pandemi Covid-19 terhadap kondisi ekonomi bisa menambah jumlah orang miskin baru sebanyak 8,5 juta jiwa. 

Peneliti SMERU Research Institute Asep Suryahadi dalam diskusi daring, Selasa (21/4) menyebutkan, Pandemi Covid-19 akan menghapus kemajuan dalam mengurangi kemiskinan dalam satu dekade.

Berdasarkan data Angka Kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) yang sudah dikalkulasi silang dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS, jumlah orang miskin di Indonesia per September 2019 sebanyak 24,79 juta jiwa atau 9,22%. Prestasi angka kemiskinan di bawah satu digit ini dicapai sejak 2018.

Meningkatnya angka kemiskinan juga diakui kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, menurutnya, sebanyak 1,1 juta orang berpotensi menjadi miskin. Bahkan, angka itu bisa naik lebih banyak lagi jika kondisi kian memburuk. Dalam skenario berat, (angka kemiskinan) bisa naik 1,1 juta orang atau dalam skenario lebih berat kita akan 3,78 juta orang.

Bertambahnya orang miskin baru bisa dipahami karena masyarakat kehilangan mata pencaharian sebagai dampak dari kebijakan-kebijakan untuk mencegah penyebaran virus corona. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan banyak warung kecil yang tutup. Jadi, jumlah orang miskin pun makin bertambah. 

Tentu saja untuk mencegah ancaman kemiskinan hingga kelaparan di tengah pandemi Covid-19, kita sependapat dengan sosiolog Imam Prasodjo yang mengatakan, kuncinya dalah kebersamaan masyarakat bergotong-royong membantu tenaga medis dan masyarakat terdampak Covid-19. 

Dalam situasi saat ini kepemimpinan (leadership) menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah ekonomi dan dampak-dampak ikutannya. 

Kita menyarankan lebih baik pemerintah memfokuskan diri terlebih dahulu pada masalah ketahanan hidup (survival).  

Di di sisi lain,aktivitas pasar harus tetap dijalankan, namun dengan menggeser medianya dari infrastruktur fisik menjadi infrastruktur digital. Normalitas baru (the normal) akan berkonsekuensi pada efisiensi dalam kegiatan ekonomi.

 COVID-19 memang telah berdampak besar terhadap berbagai sektor kehidupan, terutama sosial-ekonomi. Meskipun demikian, situasi tersebut harus dijadikan sebagai peluang dan momentum untuk membangun kemandirian ekonomi dengan dukungan kekuatan modal sosial yang dimiliki oleh umat. 

Harapan kita pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap program penanggulangan kemiskinan yang telah diluncurkan. Diharapkanpe merintahan Joko Widodo bekerja keras membuat berbagai kebijakan dan program untuk mencegah bertambahnya orang miskin baru, pengangguran dan PHK.

Tentu saja seluruh anak bangsa untuk ikut berkontribusi dan berjuang bersama dalam menyelesaikan krisis sosial-ekonomi yang elanda negeri ini.