Tajuk: Perlu Investigasi Pelarungan Jasad ABK WNI ke Laut

***
Tajuk: Perlu Investigasi Pelarungan Jasad ABK WNI ke Laut

Dugaan kerja paksa yang dialami Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia di kapal ikan Long Xing 629 dan Tian Yu 8 ikan asal China yang menyebabkan kematian dikecam dan dinilai tidak berperikemanusiaan. Kasus ini merupakan bukti nyata masih berlangsungnya perbudakan modern di sektor perikanan tangkap. 

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PPP Muhammad Iqbal mengatakan kejadian anak buah kapal warga negara Indonesia yang meninggal dan dilarung ke laut dari sebuah kapal asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merupakan tragedi kemanusiaan. 

Mereka dan belasan ABK Indonesia lainnya selama ini diperlakukan tidak manusiawi.Tindakan yang didapat oleh para ABK WNI itu, yakni dengan jam kerja panjang dan dipaksa minum air laut yang disuling, sementara para ABK asal RRT minum air mineral botolan.

Terkait hal ini sejumlah kalangan meminta kasus perbudakan dan kematian ABK WNI ini harus diusut tuntas. Itulah sebabnya, diusulkan agar Kementerian Luar Negeri melakukan investigasi untuk mengiungkap kasus tersebut.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid meminta masalah ini harus diusut secara tuntas. Kemenlu bisa bekerja sama dengan otoritas Korea Selatan atau komunitas internasional terkait lainnya.

Apalagi, kata dia, kekerasan yang terjadi ditengarai telah menimbulkan korban kematian yang jenazahnya “dibuang” ke laut. Dugaan kasus perbudakan seperti yang diberitakan media Korsel tersebut jelas-jelas telah mencoreng wajah seluruh bangsa Indonesia.

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB Abdul Kadir Karding mengingatkan Pemerintah Indonesia perlu membentuk tim investigasi bersama Pemerintah China untuk mendalami kejadian meninggalnya empat ABK WNIdi kapal berbendera China.

Dia menilai kejadian tersebut merupakan persoalan serius, karena menyangkut pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang menimpa WNI di luar negeri. Pemerintah Indonesia harus segera meminta klarifikasi kepada Pemerintah China tentang kejadian tersebut.

Namun, pihak China, baik pemerintah maupun perusahaan pengelola kapal ikan Long Xing 629 dan Tian Yu 8 menyebut pelarungan tiga jenazah anak buah kapal (ABK) Indonesia telah sesuai prosedur internasional dan disetujui keluarga yang bersangkutan.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi kepada wartawan dalam pernyataan pers secara daring, Kamis (7/5) sore.

KBRI di Beijing telah mengirim nota diplomatik kepada Pemerintah China untuk meminta klarifikasi ulang mengenai kasus pelarungan jenazah kedua ABK Indonesia itu.

Harapan kita, jika dari penyelidikan terbukti terjadi pelanggaran, maka Indonesia harus meminta otoritas RRT untuk melakukan penegakan hukum secara adil.

Selain itu, pemerintah juga harus meminta pemilik, pengelola kapal ikan tersebut untuk bertanggung jawab dalam memenuhi hak-hak atas pekerja Indonesia, baik yang dipulangkan ke tanah air, maupun yang telah meninggal dunia.

Jika peristiwa itu benar, pemerintah harus bersikap tegas. Menurut anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dave Akbarshah Fikarno, Pemerintah Indonesia harus bersikap tegas atas kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dialami WNI yang menjadi ABK di kapal China, bahkan kalau perlu diambil langkah moratorium.

Selain itu, juga meminta Kemlu agar mendesak RRT untuk menindak para pelaku dan pemilik kapal dengan hukuman berat. Bukan tidak mungkin masih banyak ABK lain mengalami hal yang sama.

Pemerintah harus agresif kontak seluruh WNI dan buat sikap tegas, bahkan kalau perlu moratorium pengiriman ABK pada kapal atau perusahaan mana pun berbendera China. Langkah moratorium itu perlu dilakukan sampai ada kepastian bahwa pekerja asal Indonesia terlindungi hak-haknya.

Kita mengharapkan langkah tegas harus segera diambil pemerintah agar ke depannya tidak terjadi lagi WNI di luar negeri dirampas hak asasinya dan tidak diperlakukan secara layak.

Pemerintah harus menjadikan tragedi kemanusiaan di kapal RRT itu sebagai momentum untuk mendata kembali semua pekerja migran kita di luar negeri, khususnya mereka yang bekerja di kapal agar kejadian itu tidak terulang.

#Abk   #wni   #china