Kasus ABK Indonesia: Wa Ode Rabia Al Adawia Minta TKI Dihormati Hak-haknya

Anugrah
Kasus ABK Indonesia: Wa Ode Rabia Al Adawia Minta TKI Dihormati Hak-haknya
Wa Ode Rabia Al Adawia, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyampaikan keprihatinan sekaligus kekhawatirannya mengenai nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) yang saat ini bekerja di berbagai perusahaan asing.

Jakarta, HanTer - Beberapa hari terakhir publik Indonesia  dihebohkan oleh video viral pelarungan jenazah Anak Buah Kapal (ABK) yang terjadi di kapal penangkap ikan berbendera Tiongkok. 

Video tersebut berasal dari ABK berkebangsaan Indonesia yang sedang berlabuh di Pelabuhan Busan, Korea Selatan, dan  pertama kali ditayangkan oleh Munhwa Broadcasting Corporation (MBC) pada tanggal 6 Mei 2020.

Menanggapi situasi ini, Wa Ode Rabia Al Adawia, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyampaikan keprihatinan sekaligus kekhawatirannya mengenai nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) yang saat ini bekerja di berbagai perusahaan asing.

"Perlindungan tenaga kerja merupakan isu penting dalam hubungan antar bangsa, jadi apabila terjadi penghilangan hak dasar pekerja kita, tentu negara harus melakukan penyelidikan atau perlindungan kepada mereka," kata Wa Ode Rabia Al Adawia, senator anggota DPD RI dari Sulawesi Tenggara.

Menurut Wa Ode Rabia Al Adawia, tenaga kerja merupakan komponen penting dalam hubungan dunia industri, namun demikian hak-hak pekerja harus dipenuhi karena mereka dilindungi berbagai konvensi ketenagakerjaan internasional.

"Berdasarkan informasi yang ada, awak kapal , mendapat perlakuan tidak manusiawi, seperti minum air laut ataupun kurangnya waktu istirahat, padahal pekerjaan mereka termasuk berisiko tinggi," lanjut Wa Ode Rabia Al Adawia, salah seorang anggota DPD RI termuda saat ini.

Wa Ode Rabia Al Adawia juga heran dengan pemakaman  jenazah ABK ke laut karena alasan dapat menularkan penyakit.

"Sudah digaji rendah, minum air laut, masak jenazahnya dibuang pula ke laut dengan alasan penyakit menular," tegas Wa Ode Rabia Al Adawia, tidak dapat menahan kegeramannya atas perlakuan kapal asing tersebut kepada awak kapal Indonesia.

Salah satu kekhawatiran terbesar Wa Ode Rabia Al Adawiya adalah peristiwa di kapal penangkap ikan tersebut merupakan fenomena gunung es, jadi tidak hanya terjadi kepada awak Long Xin 605 dan Tian Yu yang kebetulan bisa meminta pertolongan di Busan, Korea Selatan tersebut.

"Posisi awak kapal lemah, apalagi kalau lokasi pekerjaannya di lautan. Aturan tinggal aturan, tergantung  perusahaan atau kapten kapal mau menjalankannya atau tidak. Jadi rentan diperlakukan tidak manusiawi," tegas Wa Ode Rabia Al Adawiya.

Wa Ode Rabia Al Adawia berharap agar perlakuan terhadap tenaga kerja oleh perusahaan asing, baik di dalam dan di luar negeri dapat mengacu pada tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) agar hak-hak pekerja terlindungi dan daerah juga mendapat manfaat ekonomi, sosial dan budaya dalam jangka panjang.

"Indonesia memiliki potensi bonus demografi yang besar, artinya kita perlu menyiapkan akses rakyat kita ke dunia kerja seluas-luasnya. Pada sisi lain, mereka harus terlindungi agar dapat terus produktif dalam jangka panjang dan membawa know-how industri ke ekonomi kita," kata Wa Ode Rabia Al Adawia mengakhiri pernyataan persnya kepada media.