Hoaks Kejahatan di Media Sosial Semakin Marak

Safari
Hoaks Kejahatan di Media Sosial Semakin Marak

Jakarta, HanTer - Hoaks peristiwa kriminalitas seperti pencurian dan perampokan belakangan ini marak beredar di media sosial. Salah satu contoh peristiwa perampokan di Ranch Market, Pondok Indah, Jakarta Selatan, baru-baru ini. 

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyebut informasi lewat pesan berantai tersebut hoaks. "Informasi perampokan itu hoaks" kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus saat dikonfirmasi, Senin.

Adapun isi pesan yang beredar via aplikasi pesan instan WhatsApp itu menyebut adanya perampok bersenjata tajam guna yang menodong korbannya di lorong sepi di Ranch Market, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pesan hoaks tersebut juga menyebut perampok berhasil membawa kabur dua telepon genggam dan uang tunai sebesar Rp1,5 juta milik korbannya.

Menebar Ketakutan

Menanggapi hoaks ini, kriminolog Universitas Indonesia (UI), Ferdinand T Andri Lolo mengatakan, ada berbagai motivasi pelaku menyebarkan hoaks di media sosial. Di antaranya ingin menebarkan ketakutan. Selain itu pelaku menyebarkan hoaks karena ada tujuan untuk mendiskreditkan otoritas, dan ada juga yang dibuat untuk menebarkan kebencian terhadap kelompok tertentu.

"Ada campuran yang tepat, antara ketakutan masyarakat, dilepaskannya napi melalui program asimilasi, serta kurangnya penjelasan pemerintah sehingga menimbulkan situasi dimana hoaks bisa berkembang subur," jelasnya.

Ferdinand mengakui, hoaks memang diproduksi oleh pihak-pihak tertentu untuk menarik keuntungan. Namun yang pasti ada motif dibalik penyebaran hoaks. Sementara tentang siapa yang memproduksi dan menyebarkan hoaks maka tugas intelijen dan aparat terkait cyber atau ITE crime untuk menganalisis dan menemukan sumbernya.

"Agar masyarakat tidak terhasut dengan informasi hoaks maka selalu check dan recheck dengan sumber resmi (pemerintah) atau outlet media mainstream yang terpercaya. Jangan gampang menelan mentah mentah berita atau gambar yang belum jelas asal usulnya. Jangan terlalu cepat meneruskan sesuatu yang belum jelas atau belum terkonfirmasi melalui media sosial," paparnya. 

Manfaatkan Situasi

Sementara itu, pegiat Media Sosial (Medsos), Darmansyah mengatakan, dua pelaku penjambretan handphone di Cakung yang ditembak Tim Rajawali Polres Jakarta Timur sebagaimana yang viral memang benar terjadi.

"Dua kasus tersebut, menurut saya lantaran pelaku kejahatan memanfaatkan situasi dimana jalanan terlihat sepi karena warga banyak di rumah saja sesuai protap PSBB. Ditambah lagi, minimnya patroli polisi di tempat-tempat rawan terjadi aksi kejahatan," jelas Darmansyah kepada Harian Terbit, Senin (20/4/2020).

Darmansyah menuturkan, di tengah kebijakan PSBB maka harusnya polisi lebih giat berpatroli di perkampungan, khususnya tempat-tempat yang terjadi aksi pembegalan seperti di Fly Over Bandengan perbatasan wilayah hukum Polsek Metro Penjaringan dan Polsek Tambora. Protapnya polisi melakukan patroli minimal 1-2 jam sekali untuk mencegah terjadinya kejahatan.

#Hoaks   #hoax