Di Tengah Pandemi COVID-19, Waspada Aksi Anarkis dan Kejahatan Meningkat

Safari
Di Tengah Pandemi COVID-19, Waspada Aksi Anarkis dan Kejahatan Meningkat
Ilustrasi aksi begal yang membuat warga resah

Jakarta, HanTer - Di tengah pandemi COVID-19 saat ini, aksi anarkis dan kriminalitas yang meresahkan masyarakat dan mengancam stabilitas keamanan diprediksi meningkat dan marak. Hal ini akibat himpitan ekonomi yang dihadapi warga karena aktivitas ekonomi dibatasi. Pandemi corona menurunkan daya beli masyarakat dan naiknya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).
    
Kasus pencurian motor hingga penjambretan akhir-akhir ini kerap beraksi. Kelompok anarko, misalnya, disebut pihak kepolisian ingin membuat kerusuhan. 

Sementara, aksi kriminal yang memanfaatkan situasi di tengah pandemi Covid-19 adalah peristiwa perampokan toko emas di Pasar Kemiri, Kembangan, Jakarta Barat. Pelaku perampokan empat orang berhasil menggondol puluhan perhiasan berbahan perak dan emas senilai 400 juta rupiah. 

Masih memanfaatkan situasi pendemi corona, pencurian kotak amal terjadi di Petukangan Utara, Jakarta Selatan saat sebagian warga memilih beribadah di rumah.

Meningkat

Kantor Staf Presiden menggelar rapat bersama Badan Intelijen Negara dan Kepolisian Republik Indonesia. Direktur Keamanan Negara Mabes Polri Brigadir Jenderal Umar Effendi mengatakan melihat ada risiko meningkatnya tindakan kriminal di tengah pandemi Covid-19.

“Potensi aksi anarkis dan kriminalitas selalu ada, terutama dalam situasi seperti ini. Untuk itu, kami sudah berkoordinasi hingga level Polsek agar terus mengawasi dan membina,” katanya dalam siaran pers KSP, Kamis (16/4/2020).

Pelaksana tugas Deputi V KSP, Jaleswari Pramodhawardani, mengatakan pemerintah mengantisipasi ancaman stabilitas keamanan dan meningkatnya kriminalitas. Alasannya pandemi Corona menurunkan daya beli masyarakat dan naiknya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).
    
“Isu keamanan termasuk hal yang KSP pantau. Meningkatnya angka pengangguran, misalnya, perlu diantisipasi agar dampaknya tidak menimbulkan konflik sosial dan keamanan,” kata Jaleswari.

Faktor Ekonomi

Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Ferdinand T Andri Lolo mengatakan, wabah virus corona yang membuat ekonomi turun memang menjadi celah untuk aksi kriminalitas. Apalagi banyak orang yang kehilangan pendapatan atau penghasilan karena dampak melambatnya ekonomi. Sementara orang tersebut tidak mempunyai sumber penghasilan lain seperti tabungan. 

"Sementara orang itu mempunyai tanggungan (keluarga, punya utang, dan sebagai) bisa memotivasi atau mendorong orang yang putus asa ke tindak kejahatan sebagai jalan pintas," paparnya.

Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Yophie Septiady mengatakan, angka kriminalitas meningkat di wabah virus corona kemungkinan bisa saja terjadi. 

Yophie menuturkan, pengertian "kesempatan dalam kesulitan dan kelengahan orang lain," bukan di rumah, karena hampir semua masyarakat di Indonesia "tinggal" di rumah. Tapi kesempatan yang dilakukan penjahat yakni, di tempat kerja, toko-toko, pusat perbelanjaan, dengan kondisi sepi yang tidak atau kurang mendapat perhatian keamanan.