Penggunaan Dana Haji Untuk Penanganan Covid-19 Dikecam: Umat Ngumpulin Duitnya dengan Cucuran Keringat

Harian Terbit/Safari
Penggunaan Dana Haji Untuk Penanganan Covid-19 Dikecam: Umat Ngumpulin Duitnya dengan Cucuran Keringat

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Idah Syahidah menegaskan, dirinya tak sependapat dengan usulan rekannya sesama anggota Komisi VIII Nanang Samodra terkait penggunaan dana ibadah haji untuk penanganan wabah virus corona atau COVID-19. Sebab, dana itu adalah harta pribadi hak khusus masyarakat.

"Umat muslim yang mau berangkat menunaikan rukun Islam ke-5 itu bermacam latar belakangnya. Dan mereka mengumpulkan uang mungkin ada yang berpuluh-puluh tahun. Jadi, sangat tidak tepat digunakan untuk hal lain," kata Idah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/4/2020).

Anggota DPR dari Dapil Gorontalo ini menjelaskan, jika dana dari hasil pajak yang digunakan untuk penanganan COVID-19, itu tidak masalah. Karena, termasuk harta milik bersama dan itu dikelola oleh negara dalam bentuk APBN.

Sementara, dana haji, tutur dia, tidak boleh diintervensi oleh siapa pun di luar si pemiliknya. Dana haji itu termasuk harta khusus, bukan harta umum.  Kendati, saat ini dana tersebut sedang dititipkan kepada negara yang dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), tapi bukan berarti seenaknya dipergunakan, diluar kebutuhan si pemilik. 

Dana Investasi

Disisi lain, Idah memberikan solusi yaitu pemanfaatan sebagian hasil investasi dana haji dari jamaah yang telah melunasi dana haji.  "Mungkin dana dari hasil investasi haji bisa digunakan untuk membantu penanganan COVID-19. Membantu masyarakat, memberikan keperluan untuk pencegahan COVID-19. Tapi, kalau pakai dana haji, bukan hasil investasi, saya sangat tidak setuju," paparnya.

Lagi pula, hingga saat ini, lanjut Idah, Komisi VIII DPR belum ada pembahasan mengenai penyelenggaraan haji tahun 2020 diputuskan ditunda atau tidak. Karena, belum ada keputusan dari Pemerintah Arab Saudi.

"Jangan sampai keputusan ditunda atau tidak pelaksanaan Haji tahun 2020 ini belum dibuat, dananya mau diarah-arahkan untuk tujuan tertentu, tanpa persetujuan dari pemilik dana. Ingat, umat Islam yang ingin berangkat haji itu tidak semuanya orang mampu, tapi mereka mengumpulkan sedikit demi sedikit, untuk berangkat haji, dengan cucuran keringat" tandasnya.

Tidak Tepat

Terpisah, pengamat haji, Mustholi Siradj mengatakan, perlu diperjelas dana haji yang mana dimaksud yang akan digunakan untuk penamganan Covid-19. Jika yang dimaksud dana setoran dari jemaah (setoran awal maupun pelunasan) maka tentu saja tidak tepat digunakan untuk penanganan Covid -19 karena itu sumbernya dari pribadi-pribadi jemaah.

"Karena persoalan pandemi Covid - 19 adalah tanggung jawab negara maka harus menggunakan dana APBN, bukan dana haji," ujar Mustolih Siradj kepada Harian Terbit, Minggu (12/4/2020).

Mustolih menegaskan, tidak ada dasar hukumnya dana haji dipakai untuk penanganan Covid--19. Jika perjalanan ibadah haji tahun ini ditunda karena wabah virus Corona, maka dana harus dikembalikan kepada jamaah yang telah bersusah payah menabung dan menunggu lama untuk berangkat haji. Oleh karena itu dana haji bisa disimpan dengan jaminan tetap utuh sehingga tidak bisa digunakan untuk hal yang lain.

Sebelumnya dalam rapat yang digelar secara online, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyatakan, kementeriannya akan mengkaji usulan soal pengalihan dana haji untuk penanganan Covid-19. Usulan itu disampaikan bila haji tahun ini diputuskan ditunda oleh Arab Saudi.

"Tentang kemungkinan haji ditunda mungkin dananya bisa dialihkan untuk covid-19. Mungkin akan kita kaji lagi lebih lanjut nanti," kata Fachrul dalam rapat daring bersama Komisi VIII DPR RI.

Usulan ini muncul dari anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Nanang Samodra. Menurut Nanang, usulan ini berlaku bila penyelangaraan haji tahun ini tertunda. "Saya ingin mengajak Pak Menteri mengasumsikan bahwa, atau membuat semacam skenario apabila ini ditunda, kira-kira dana untuk keperluan haji ini bisa dialihkan untuk menangani Covid-19," kata Nanang.

#Corona   #covid-19   #danahaji   #umatislam   #dpr