Kritik Cerdasnya Sering Disalahpahami: Rizal Ramli, Tokoh Bangsa yang Menolak Banyak Tawaran Jadi Pejabat

Alee
Kritik Cerdasnya Sering Disalahpahami: Rizal Ramli, Tokoh Bangsa yang Menolak Banyak Tawaran Jadi Pejabat
Ekonom senior Rizal Ramli

Jakarta, HanTer - Tokoh bangsa DR Rizal Ramli (RR) selama ini dikenal sebagai sosok yang vokal mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Bahkan saking vokalnya ada yang salah memahami sikap kritis tokoh perubahan yang menyatakan sudah mewakafkan hidupnya untuk rakyat Indonesia.  

Sikap kritis RR itu sudah dilakukannya sejak masih mahasiswa di Institute Teknologi Bandung (ITB), sekalipun dia dijebloskan ke penjara oleh rezim Orba. Saat berada di dalam pemerintahan pun RR terus melakukan kritik-kritik cerdas.

Beberapa hari terakhir RR mengkiritik agar Presiden Joko Widodo untuk menghentikan sementara semua proyek-proyek infrastruktur, termasuk proyek pembangunan ibu kota baru, ketimbang melakukan realokasi anggaran radikal.

Dia juga mengkritik keinginan pemerintah menambah defisit anggaran dari 3% ke 5% GDP dengan cara menambah utang lagi dan/atau ‘cetak uang’ dgn bungkus recoverybond. Nilai rupiah akan semakin jatuh. Pengembalian BLBI dalam bentuk asset, ketika dipaksa jual IMF, recovery ratenya hanya 25%. Tanpa governance dan transparansi yang benar, R-bonds kemungkinan hanya akan jadi skandal keuangan berikutnya.

Meski kerap mengkritik, RR selalu memuji yang dilakukan pemerintah jika itu pro rakyat. Dia  memuji pembebasan biaya listrik 3 bulan untuk 24 juta pelanggan listrik 450VA, dan diskon 50% untuk 7 juta pelanggan 900VA bersubsidi. “Ini sangat membantu golongan menengah bawah,” paparnya.

Diserang Buzzer

Saat menjabat di pemerintahan ekonom senior ini selalu ‘bunyi’. Semua ini dilakukan pria kelahiran Padang, Sumatera Barat ini, untuk mencerdaskan, mensejahterakan, memberdayakan dan memajukan bangsanya.

Akibat sikap kritisnya itu, tak heran bila mantan Menko Kemaritiman ini mendapat banjir tekanan. Namun RR mengaku tidak gentar, jalan terus demi perbaikan nasib rakyat dan bangsa ini.

Baru-baru ini RR mengaku diserang buzzer di media sosial. Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman bahkan sudah sering terbiasa menghadapi serangan dari pihak-pihak yang tidak sepemikiran, terutama para pembela pemerintah.
 
Namun, belakangan Rizal Ramli merasakan serangan dunia maya kepada dirinya makin massif. Dalam sepekan terakhir saja, Rizal mengaku mendapatkan serangan dari setidaknya 7000 akun yang ia sebut buzzerRP. Serangan juga datang dari para influencer. “Mereka itu jangan jadi  pengecut!” ujar RR.

Rizal mengatakan, serangkan kepada dirinya akan lebih massif lagi dalam pekan-pekan mendatang. Ia menduga, ada pihak yang menggerakkan para buzzerRP dan influencer tersebut untuk menyerang dirinya.

"Tolong bantu ‘fight back’ kawan2 sosmed. Seminggu terakhir, 7000an buzzerRP serang RR dgn kosa kata itu2 aja, kasar $ nora Grinning faceGrinning face belum lagi influenser2 nora minus kecerdasan.
Minggu ini akan lebih masif lagi, ada yg perintahkan," tulis Rizal Ramli dalam akun twitternya pada Senin (6/4/2020).

Mantan Kabulog ini mengaku para buzzer yang menyerangnya itu bukanlah utusan presiden Joko Widodo maupun Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko.

RR pun meminta agar orang yang membayar atau menggerakkan para buzzer itu untuk tidak menjadi pengecut.

@ramlirizal: Serangan2 ribuan buzzer & influensers yang tidak cerdas dan nora thd RR selama seminggu terakhir, saya yakin bukan atas perintah Presiden @jokowi atau Mas @Dr_Moeldoko , tapi membantu membusukkan JKW. Yg beri perintah dan bayar ngaku dong, jangan jadi pengecut.

Tak Gila Jabatan

Rizal Ramli jalan terus. Dia terus memberikan usulan-usulan cerdas, pro rakyat dan berlandaskan data yang akurat. Dia terus vokal demi mencerdaskan, mensejahterakan, memberdayakan dan memajukan bangsanya, sekalipun kehilangan jabatan.

Namun tentu saja akibat sikap kritisnya itu ada saja orang-orang tidak waras yang salah memahami, seakan RR itu gila jabatan, cari muka dan hanya pencitraan. 

“RR itu tokoh yang paling banyak ditawarkan jabatan, banyak yang beliau tolak.  Zaman akhir Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, menolak tawaran Menteri. Baru menerima setelah Gus Dur minta RR untuk ketiga kalinya, Ketua Bulog dan selanjutnya Menteri Perekonomian,” kata Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS).
 
Pada era Presiden SBY sebelumnya tawarkan dan sudah tanda tangan RR jadi Menko ekonomi, diterpedo Mantan Wapres JK. Ketika akhirnya ditawarkan Menteri Perindusrian, RR tolak. Zaman  Presiden Jokowi menolak sampai kali tawaran Jokowi untuk jadi Menko Maritim, baru  setelah Pak  Jokowi katakan ini yang minta bukan hanya Presiden, tapi rakyat Indonesia yang ingin hidup lebih baik, baru RR menerima. Setelah tidak jadi Menteri, RR ditawarkan jadi Preskom PLN, RR menolak.

RR terus berpikir dan bergerak untuk mencari solusi bagi permasalahan bangsa, dia tak henti mengingatkan Pak Jokowi demi perbaikan bangsa dan negara, akibatnya dia diserang para buzer bayaran dan dibenci buzzer secara keji. RR rela berkorban demi cita-cita mewujudkan pasal 33 UUD45. Trisakti Bung Karno, Reformasi Agrasia dan Ekonomi Kerakyatan yang adil dan  benar, Pancasila yang diamalkan.
 
RR itu hanya setia kepada cita-cita untuk maslahat bangsa, tapi sering disalahpahami dan Dubes RI  Presiden Jokowi untuk Polandia Peter Gontha berkata: ''Kalian Kayak Nggak Tahu RR aja? RR itu setia terhadap cita-cita.'' Dan apakah dia bertindak optimal untuk rakyat? Sejarah dan bangsa ini yang akan menentukan jalannya. ''Gitu aja kok repot,'' mengacu kata-kata Gus Dur.
 
Melawan Neolib

Mazhab neoliberalisme kejam dan rakus. Sistem ekonomi yang menurut mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie, telah diterapkan Indonesia sejak 1967 tersebut, terbukti telah gagal membawa rakyat Indonesia sejahtera. Bahkan neolib telah menjadi pembuka pintu lebar-lebar bagi masuknya neokolonialisme dan neoimperialisme.

Di Indonesia, amat sedikit pejabat publik yang melakukan perlawanan terhadap hegemoni neolib. Barangkali kita hanya bisa menyebut dua nama, Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli. Keduanya sudah lama dikenal sebagai pengeritik keras kaum neolib. Keduanya terus saja bersuara lantang, baik ketika di dalam maupun luar kekuasaan. 

Sikap kritis Rizal Ramli terhadap neolib bahkan sudah disuarakan sejak amat belia, saat masih menjadi mahasiswa di ITB tahun 1978an. Bukunya berjudul Rizal Ramli, Lokomotif Perubahan: Langkah Strategis dan Kebijakan Terobosan, 2000-2001, memaparkan bagaimana ekonomi negeri ini bisa dibangkitkan tanpa membebek doktrin neolib.

Saat menjabat Menkeu era pemerintahan Gus Dur, RR membuktikan sejumlah kebijakan terobosan berbasis ekonomi konstitusi yang diambilnya, justru mampu ekonomi terbang lebih tinggi, rakyatnya lebih sejahtera, dan membuat Indonesia digdaya di mata dunia.

“Tapi begitulah Indonesia. Mereka yang bekerja dengan hati bagi negeri justru dikebiri. Para pengeritik dicutik agar tak berisik. Tidak ada tempat bagi pejabat penentang neolib. Sebaliknya, para komparador kian mesra berkarib dengan neolib. Pejabat penjual negara terus berpesta memijak rakyat yang menderita. Ironis. Tragis!” kata Edy Mulyadi.