Pengamat: Turunkan Harga BBM 

Safari
Pengamat: Turunkan Harga BBM 
Ilustrasi

Jakarta, HanTer-- Pengamat energi Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman mengaku bingung dengan sikap pemerintah terkait dengan harga BBM yang tidak kunjung turun. Padahal harga minyak dunia sedang turun dan saat ini rakyat semakin susah akibat virus corona. Apalagi Presiden Jokowi juga sudah menugaskan menterinya untuk mengkalkulasi harga BBM.

"Pertamina akan mengoreksi harga BBM. Ada penurunan penggunaan BBM nasioanal sekitar 8%, yaitu 134,78 ribu kiloliter dan 124, 74 ribu kilo liter perhari," jelas Yusri Usman kepada Harian Terbit, Minggu (5/4/2020).

Yusri memaparkan, Kementerian ESDM, Minggu (5/4/2020 juga merilis bahwa selama maret 2020, harga minyak ICP terkoreksi 40% dari bulan sebelumnya, artinya selama kuartal pertama sidah terkoreksi sekitar 60%, disisi lain nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika terkoreksi sekitar 15%, karena 2 komponen utama pembentuk harga dasar BBM, maka seharusnya Pertamina sudah mengoreksi harga jual ecerannya sekitar 40% dari harga normal sekarang, dan itu harusnya dimulai 1 April 2020.

"Kalau sampai hari ini Pertamina belum mengoreksi harga jual BBM nya, maka potensi uang rakyat ya langaung disedot secara tak wajar oleh Pertamina adalah," paparnya.

Tak Harus Turun

Pengamat Energi Sofyano Zakaria mengatakan, turunnya harga minyak dunia tidak menjamin bahwa harga tersebut selamanya akan bertahan pada posisi tersebut.

“Harga minyak dunia sewaktu waktu bisa naik, misalnya hanya dengan komunikasi antara Pemimpin Amerika dengan Raja Arab Saudi dan Pemimpin Rusia dan ini harus disikapi secara bijak,” lanjut Sofyano

Terkait harga minyak dunia yang fluktuatif harganya, pemerintah perlu memahami psikologis konsumen BBM negeri ini, karena masyarakat negeri ini secara umum belum memahami benar ketika harga BBM naik maka tidak otomatis bisa menerima kenaikan harga dan ini akhirnya bisa merepotkan pemerintah. Karena itulah Pemerintah dan Pertamina harus bijak menyikapi hal ini.

“Disaat harga minyak dunia turun maka sebaiknya Pemerintah mengambil kebijakan bahwa selisih harga yang dihasilkan akibat penururunan itu disimpan sebagai cadangan ketika harga minyak dunia kelak merangkak naik kembali dan menahan harga BBM untuk tak serta merta naik pula,” kata Sofyano.

Terpisah, Direktur Indonesian Resources Studies, (IRESS) Marwan Batubara mengatakan, walaupun harga minyak dunia turun maka lebih cenderung harga BBM di Indonesia tidak ikut turun. Namun tidak turunnya harga BBM tersebut harus diimbangi dengan harus dibentuknya badan atau lembaga dana stabilisasi yang dikelola secara transparan.

"Harga BBM harus diatur agar produksi BBN atau EBT pun ikut berkembang," ujar Marwan Batubara kepada Harian Terbit, Senin (6/4/2020).

Marwan mengakui, kondisi harga minyak dunia memang satu paket dengan harga BBM yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu adanya selisih harga jual BBM yang ada di Indonesia harus disimpan sebagai antisipasi jika harga minyak dunia naik lagi maka harga BBM di Indonesia tetap  stabil dan tidak mengikuti kenaikan harga minyak dunia.

"Makanya apapun namanya ada dana stabilisasi. Dana itu haris dikelola transparan," tegasnya.