Masyarakat Jangan Takut Tertular, MUI: Tak Boleh Menolak Pemakaman Korban Corona

Harian Terbit/Safari
Masyarakat Jangan Takut Tertular, MUI: Tak Boleh Menolak Pemakaman Korban Corona
Ilustrasi (ist)

Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Anton Tabah Digdoyo menegaskan, masyarakat tidak boleh menolak pemakaman korban wabah corona atau COVID-19 atau wabah penyakit apapun.  Karena proses pemakaman korban wabah penyakit ditangani oleh petugas medis yang sangat profesional. Sehingga diyakini tidak akan tertular ke masyarakat umum.

"Jenazahnya pun diperlakukan sangat khusus. Yang meninggal karena wabah juga mati syahid. Jangan takut tertular karena setelah dikubur akan disemprot cairan disinpektan pembasmi kuman. Jadi virusnya langsung hilang dalam hitungan menit," ujar Anton Tabah Digdoyo kepada Harian Terbit melalui saluran telepon, Selasa (31/3/2020).

Mantan petinggi Polri ini menyesalkan adanya penolakan warga untuk pemakaman korban wabah corona. Dengan alasan kematiannya buruk sehingga dilarang mendekati jenazah. Imbasnya, hal tersebut tentu akan sedikit yang melayat dan mensholatkan jenazah. Bahkan keluarganyapun tak boleh mendekat mayat dan tak boleh ikut menguburkan kecuali melihat dari jauh. 

Padahal setiap orang yang wafat terkena wabah maka ia wafat dalam keadaan syahid. Sehingga kematian yang baik tanpa hisab. Ada tiga hadist yang menegaskan syahidnya orang meninggal karena wabah. Yaitu, hadist riwayat Abu Daud Nomor 2704, Bukhory 615 dan Nasai 1846. 

Nabi SAW bersabda: "Mati syahid selain gugur di jalan Allah (dalam majelis ilmu atau perang) ada 7 lagi, yaitu: meninggal karena terkena penyakit thaun (wabah), karena tenggelam, mati karena sakit radang selaput dada, meninggal karena sakit perut, meninggal karena terbakar, wafat terkena reruntuhan dan wanita muslimat yang meninggal dalam keadaan hamil atau ketika melahirkan.

Anton yang juga pengurus Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat ini juga meminta semua elemen bangsa harus memberi penjeladan yang intens pada masyarakat tentang proses pemakaman korban wabah yang syahid ini. Saat ini MUI Pusat juga sudah mengeluarkan Fatwa dengan detail pada tanggal 16 Maret 2020 yang lalu termasuk prosesi penanganan jenazah sampai pemakamannya. 

"Terjadinya penolakan jenazah korban wabah corona akibat kurangnya komunikasi dan informasi pada masyarakat," tegas Ketua Penanggulangan Penodaan Agama tersebut. 

Diketahui, proses pemakaman jenazah pasien positif virus corona di Pemakaman Giri Tama, Kampung Jati, Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, mendapat penolakan warga satu kampung. Warga menolak karena takut tertular virus corona dari jenazah pasien yang semasa hidup tinggal di Kota Depok itu. Camat Tajurhalang hingga TNI-Polri pun mesti turun tangan untuk memediasi warga. Namun mediasi gagal. Jenazah tak boleh dikebumikan di sana.

"Tadi ada warga infonya meninggal karena corona, warga Desa Tonjong, seputar Makam Giri Tama ini menolak karena mungkin takut, jadi warga sekitar menolak. Tadi ada Babinsa, Bhabinkamtibmas yang menengahi warga yang menolak," kata Kades Tonjong, Nur Hakim, saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2020).

#Corona   #covid-19   #makam   #mui