Masker Langka Harga Selangit, Per Box Dijual Rp350.000-400.000: Pemerintah Diminta Tak Berdiam Diri

Sammy/Safari
Masker Langka Harga Selangit, Per Box Dijual Rp350.000-400.000: Pemerintah Diminta Tak Berdiam Diri

Jakarta, HanTer - Keberadaan masker masih sulit didapatkan sejak virus corona mulai mewabah di Indonesia beberapa waktu lalu. Kalau pun masker ada harganya mencekik leher. Sejumlah toko dan apotek pun belum dapat memastikan kapan barang tersebut kembali hadir. 

Dari pantauan Harian Terbit, harga masker mencapai Rp350.000 per boks bahkan ada yang menjual Rp400.000 per boks dengan isi 50 masker. Ini pun barangnya tidak ada. "Di sini kita sudah tidak menjual masker sejak dua bulan yang lalu, karena stoknya sudah tidak ada," kata seorang petugas apotek di Jakarta Timur.

Kelangkaan masker tersebut juga dikeluhkan oleh seorang calon pembeli masker, Suryo. "Saya sudah masuk lima apotek di sekitar sini, tapi semuanya bilang sudah habis, enggak ada lagi maskernya.  Di toko dekat rumah tersedia tapi harganya Rp350.000," kat Suryo Saputro, warga Cipayung, Jakarta Timur.

“Sudah hampir dua mingguan ini masker kosong," kata seorang petugas apotik di Cimanggis kepada Harian Terbit, Kamis (26/3/2020).

Menurut sejumlah petugas apotik,  harga jual yang mahal itu dipengaruhi juga dari pihak supplier. "Kita jualnya tergantung harga dari supplier berapa," ujar dia.

"Beberapa hari lalu masker baru masuk, langsung habis. Mungkin beberapa hari lagi barang datang, tapi belum tahu ada masker atau tidak. Kalau pun ada kami hanya mendapat jatah dua dus,” ujar Tono, pegawai apotik di daerah Kalimalang.

Sam, warga yang ditemui mengaku, dirinya pun cukup kesulitan membeli masker. Dia menyebut, kedua barang itu pun masih langka di sekitar rumahnya di wilayah Kebon Nanas, Jakarta Timur.

Dia pun sudah mencoba mencari di beberapa toko dan supermarket yang ada di sekitar tempat kerjanya di Pulo Gadung, Jakarta Timur. “Tetap aja tidak dapat. Saya sudah coba nyari di toko online habis melulu, kalaupun ada harganya juga mahal. Masa sih urus masker aja pemerintah tidak bisa?” papar Sam terheran-heran.

Ulah Spekulan

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, menduga, langkanya masker dikarenakan adanya ulah spekulan kesehatan yang menimbun persediaan masker untuk keuntungan pribadi.

"Barangnya ada tapi sengaja ditimbun, kalau harga sudah naik dan langka baru dilepas ke pasar. Marjinnya luar biasa. Bahkan di toko online ada yang Rp1 juta per box nya. Itu kan spekulan," katanya di Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Selain itu, ada kepanikan berlebihan di masyarakat di mana virus corona membuat masyarakat lebih menjaga diri di tempat umum dengan membeli masker diluar kewajaran. Kepanikan ini menaikkan harga masker secara drastis.

Ditindak Tegas

Pengamat Kebijakan Publik, Jerry Massie, mendorong pemerintah untuk menindak tegas oknum-oknum nakal yang diduga menimbun masker. Tindakan tegas perlu dilakukan pemerintah, mengingat peredaran masker tetap langka di pasaran.

"Saya kira stok cukup tapi sudah ada yang menimbun seperti BBM. Langkah cepat dan tepat perlu dilakukan pemerintah," kata Jerry di Jakarta.

Ia menganggap, orang sehat saat ini juga butuh masker. Terlebih, wabah viruscCorona sudah bertambah dengan dua orang yang kembali dinyatakan positif terpapar virus tersebut.

Menurutnya, seharusnya langkah antisipasi dilakukan maksimal oleh pemerintah, termasuk dengan penyediaan masker bagi warga.
 
Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) ini menyarankan, pihak terkait harus turun ke lapangan mengecek kelangkaan masker di titik mana saja di Jakarta. "Stok masker perlu diperbanyak, lantaran ini bagi warga sangat mendesak," tandasnya. 

Sementara itu, pengamat sosial Karnali Faisal mengatakan, kelangkaan masker hingga membuat harganya mencekik leher maka sebaiknya pemerintah menempuh jalan darurat. Pemerintah bisa meminta perusahaan-perusahaan BUMN untuk melakukan fund rising dari dana CSR. Selain itu pemerintah bisa mengimpor masker dari negara lain dengan prosedur yang cepat.

Harga masker mencekik karena berlaku hukum ekonomi. Yakni, persediaan terbatas, sementara permintaan naik drastis, maka tentu harga pun menjadi naik. Ditambah pula, produksi maupun distribusi masker sepenuhnya pasar yang menentukan. Selain itu juga kurang antisipasi yang dilakukan pemerintah sehingga masker langka di pasaran. 

"Maka sekarang perlu langkah darurat seperti BUMN memproduksi masker," ujar Karnali Faisal kepada Harian Terbit, Kamis (26/3/2020).

Berbahaya

Ketua Umum PB Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Bintang Wahyu Saputra mengatakan, langkanya masker dan kalaupun ada harganya mahal maka sangat berbahaya bagi keberlangsungan bangsa dan negara. Apalagi saat ini masyarakat mengalami gangguan psikologis akibat dari melonjaknya jumlah penderita Covid-19 dan instabilitas ekonomi.

"Tentu kami mendesak pemerintah untuk melakukan stabilisasi nasional dari segala sektor dalam waktu dekat karena saya khawatir jika ini tidak dapat dikondisikan dengan cepat akan berdampak buruk bagi indonesia, dampak terburuknya adalah civil war dan ini kehancuran bagi kita semua," ujarnya. 

Bintang menuturkan, kelangkaan masker dan kalaupun ada harganya mencekik karena adanya oknum yang melakukan tindakan tidak manusiawi yang memanfaatkan momentum wabah Covid-19. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya ekspor atau barang berupa masker yang dikirim keluar negeri. Padahal seharusnya masker dipersiapkan ketika wabah Covid-19 melanda Indonesia.

#Masker   #ilegal   #polisi   #corona