Kerugian Akibat Penutupan Ibadah Umrah Bisa Triliunan Rupiah

Safari
Kerugian Akibat Penutupan Ibadah Umrah Bisa Triliunan Rupiah

Jakarta, HanTer - Sudah hampir sebulan Arab Saudi menangguhkan sementara kunjungan ibadah umrah untuk jemaah Indonesia. Kebijakan untuk mencegah penyebaran virus corona atau COVID-19 ini membuat industri travel dalam negeri rugi besar. Kerugian yang dialami industri travel dan calon jamaah umrah bisa mencapai triliunan rupiah.

Menurut catatan Almira Fhadilla, mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Gunadharma, diperkirakan dalam sehari ada ribuan jamaah umrah yang berangkat berdasar musim dan tanggal keberangkatannya. Diperkirakan ada 5 ribu hingga 10 ribu jemaah yang diberangkatkan sesuai jadwalnya. Biaya perjalanan per orangnya diperkirakan Rp20 juta.

“Bila dijumlahkan, maka setidaknya Rp200 miliar yang berpotensi hangus. Belum lagi dalam satu bulan, jumlahnya bisa mencapai 110 ribu jamaah. Kalau demikian bisa diperkirakan berapa triliun kerugian yang ditanggung,” kata Almira Fhadillah dalam tulisannya yang diterima Harian Terbit, Rabu (25/3/2020).

Menurutnya, kebijakan yang dikeluarkan Arab Saudi pada 27 Februari 2020 menangguhkan kunjungan ibadah umrah itu untuk mencegah wabah corona itu  tentu berdampak kerugian besar. "Ini tentu membuat industri travel merugi besar dan calon jamaah umrah kebingungan akan nasib keberangkatannya," ujarnya.

Ditambah lagi, tidak adanya kepastian dari Arab Saudi kapan akan berakhir kebijakan ini membuat jadwal ulang pesawat dan hotel pun ikut tak pasti. Kondisi ini tentu membuat industri travel umrah mengalami kerugian jauh lebih besar lagi akibat tidak menentu kapan kebijakan ini dicabut. 

“Dari pihak calon jamaah pun juga ikut merugi mengingat visa umrah hanya berlaku 14 hari. Visa yang dimiliki sekitar 50 ribu calon jemaah umrah berpotensi kedaluwarsa. Apabila masa itu berakhir maka calon jamaah harus membuat ulang visa lagi. Tentu ini sangat memberatkan karena harus mengeluarkan uang kembali.  Pembuatan visa sendiri cukup mahal sekitar US$195 hingga US$ 200 per orang hampir 3 jutaan bila dirupiahkan," paparnya.

Kerugian Fintech

Belum lagi kerugian yang dialami fintech, yakni usaha pembiayaan berbasis teknologi akibat penangguhan visa umroh. Tentunya ikut terdampak karena berimbas sepinya peminat. Turunnya minat investasi dan minat ber umrah karena kekhawatiran virus corona mengakibatkan keberlangsungan usaha fintech mulai tidak stabil, bahkan bila seperti ini berlangsung lebih dari tiga bulan, bisa-bisa mengarah ke gulung tikar.

Meski begitu, keputusan Arab Saudi untuk menangguhkan visa bagi seluruh jemaah umrah patut dihargai. Mengingat kesehatan dan keselamatan warganya dan calon jamaah umroh jauh lebih prioritas dibanding pelaksanaan umroh. Apalagi kebijakan ini juga semuanya semata-mata untuk kemaslahatan bersama. 

Sementara itu, Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Mahrus Ali mengatakan, saat ini ada 1015 travel umrah yang mengerjakan bisnis perjalanan haji khusus dan umrah. Mewabahnya virus Corona memang memukul biro travel yang sekuran-kurangnya memiliki 7-15 karyawan. Jumlah itu belum termasuk cabang-cabang travel  di daerah. 

Sementara terkait berapa nilai kerugian yang dialami pihak travel dan jamaah akibat penutupan sementara umroh tersebut, Mahrus Ali enggan menyebut secara angka karena hingga kini masih direkap. 

"Harus ada audit, perkiraan jumlah kerugian yang dialami travel dan jamaah hanya membaca potensi ril kerugiaan dari gagal berangkat mulai dari visa, tiket dan akomodasi," paparnya.

#Corona   #covid-19   #umrah   #ibadah   #masjid