Corona Merajalela, Ekonomi Memburuk; Turunkan Harga dan Putuskan Hubungan dengan China

Safari

Jakarta, HanTer - Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia semakin meluas dan tak terkendali, korban berjatuhan. ekonomi rakyat semakin memburuk, ditambah kerja-kerja kabinet pemerintahan yang tidak efektif. Terkait hal ini ProDEM menuntut 'Tritura 2.0'. Turunkan harga, turunkan kabinet, dan putuskan hubungan dengan China.

"Aktivis ProDEM menuntut 'Tritura 2.0'. Turunkan harga, turunkan kabinet, dan putuskan hubungan dengan China," ujar Iwan Sumule seperti dilansir dari akun Twitter @IwanSumule, Sabtu (21/3/2020).

Menanggapi tuntutan ProDEM ini, Aktivis PRIMA (Perhimpunan Masyarakat Madani) Sya'roni mengatakan, Tritura 2.0 yang disampaikan ProDEM sangat wajar. Namun dari ketiga tuntutan tersebut, saat ini yang paling mendesak adalah tuntutan ketiga,  yaitu putuskan hubungan dengan China, sebagai negara yang menjadi sumber dari virus Corona.

"Saat ini wabah corona sedang mengganas di Indonesia. Semua tahu bahwa corona berawal dari China. Sampai Presiden AS Donald Trumph menyebutnya virus China. Oleh karena itu untuk mencegah penyebaran corona solusi terbaik adalah putuskan hubungan dengan China," ujar Sya'roni kepada Harian Terbit, Minggu (22/3/2020).

Sya'roni menuturkan, terkait tuntutan pertama ProDEM yakni Turunkan Harga, maka pemerintah tidak hanya diharuskan menurunkan harga tapi lebih dari itu pemerintah harus menyediakan sembako untuk pekerja harian/informal agar mereka bersedia tinggal di rumah selama masa tanggap darurat corona. Karena pekerja harian/informal harus keluar rumah untuk mendapatkan uang.

Soal tuntutan kedua yaitu turunkan kabinet agak janggal. Alasannya, bila seluruh kabinet rezim Jokowi dianggap gagal maka seharusnya yang paling bertanggung jawab adalah pucuk pimpinannya.  

“Fakta politik saat ini bahwa Presiden Jokowi didukung oleh mayoritas parlemen sehingga sulit dimundurkan. Sehingga kemungkinan untuk mundur ataupun dimundurkan dua-duanya akan sulit terwujud. Maka saat ini yang paling logis adalah mengganti menteri-menteri yang tidak kapabel menghadapi corona. Hal itu dilakukan agar rakyat tidak menjadi korban lagi,” katanya.

Transparan

Terpisah, pengamat politik Internasional dari The Indonesian Democracy Initiative (TIDI), Arya Sandhiyudha, Ph.D mengatakan, adanya tuntutan dari ProDEM maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, keterbukaan, dan kebersamaan. Oleh karena itu penting untuk membangun masyarakat informasi, agar ia mendorong Pemerintah terus bekerja optimal dan transparan. Di sisi lain masyarakat juga aktif partisipasi dengan semua agenda dan protokol Pemerintah Pusat dan Daerah dalam menanggulangi wabah Covid-19.

"Masyarakat informasi ini yang nanti akan turut menentukan sukses tidaknya Indonesia menerapkan praktek dan pendekatan menghadapi wabah Covid-19," paparnya.

Diantara pendekatan yang wajib dikawal bersama, sambung Arya, yaitu Pemerintah Pusat dan Daerah menerapkan kombinasi 3 pendekatan, pertama, pendekatan transparansi dan krusial (transparent and crucial approach) musti pro-aktif menyampaikan Informasi Publik terkait wabah Covid19 secara benar, akurat, dan tidak menyesatkan. Dalam mengelola informasi terkait Covid19 sebagai informasi serta-merta yang penyampaiannya tidak boleh ditunda, karena dapat mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum. 

Kedua, tapi perlu diingat dari praktik negara-negara yang demokratis dan sangat terbuka sekalipun tetap ada pendekatan kehati-hatian (cautious approach) terutama terkait rahasia data pasien tetap dilindungi dan dijaga. Ketiga, begitupun pendekatan cepat dan murah (prompt and cheap approach) dalam pelayanan publik karena situasi prihatin ini kan sangat memukul sebagian kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi.

Seperti diketahui hingga Minggu (22/3/2020), total kasus positif corona terus bertambah. Pasien Positif Corona 514 Orang, 48 Meninggal, 29 Sembuh.

Iwan Sumule mengemukakan, alasan Tritura ProDEM wajib didukung karena kondisi ekonomi, nilai tukar rupiah terus anjlok dan sudah menyentuh angka Rp 16 ribu per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi juga diprediksi akan terjun bebas hingga angka 2 persen, bahkan bisa 0 persen. Di sisi lain, tidak kelihatan langkah serius pemerintah mengendalikan dua kejadian luar bisa tersebut.

#Corona   #covid-19   #ekonomi   #perdagangan   #rakyat   #china   #sembako