Tajuk: Perlu Tindakan Tegas Bagi Penyebar Info Hoaks Soal Corona 

***
Tajuk: Perlu Tindakan Tegas Bagi Penyebar Info Hoaks Soal Corona 

Di tengah upaya pemerintah dan masyarakat memerangi virus corona atau Covid-19, ternyata masih ada orang-orang biadab yang tega menyebarkan informasi bohong dan menyesatkan. Perbuatan para penyebar hoaks virus corona membuat resah masyarakat.

Hingga Polri melakukan langkah cepat dan kembali menangkap pelaku penyebaran berita bohong atau hoaks terkait virus corona atau Covid-19. Jumlah tersangka penyebaran hoaks Covid-19 itu bertambah dari sebelumnya 22 menjadi 30 tersangka.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Asep Adi Saputra mengatakan, delapan orang ditangkap dalam waktu satu hari karena terbukti menyebarkan hoaks Covid-19.

Asep menyatakan, tim Siber Polri terus melakukan pengetatan patroli siber untuk mencegah maraknya penyebaran hoaks terkait Covid-19.
Tim Siber Polri juga terus memberikan literasi digital agar masyarakat tidai mudah mempercayai hoaks. Polri, sambung Asep, akan menindak secara tegas para penyebar hoak yang akan mengakibatkan kegaduhan di masyarakat.

Berita hoaks itu di antaranya China ingin belajar agama Islam karena warga Islam bebas dari virus corona.  Ada lagi virus corona menular lewat gigitan nyamuk. Ini hoaks. Faktanya informasi tersebut adalah salah. WHO Western Pasific melalui akun resminya menyatakan bahwa virus corona tidak dapat ditularkan lewat gigitan nyamuk.

Modus berita hoaks yang ditindak di antaranya penyampaian berita bohong mengenai adanya informasi WNA yang terjangkit corona sehingga diimbau masyarakat agar menjauhi WNA itu.

Ada juga penyebaran berita bohong dalam bentuk video yang menceritakan di sebuah rumah sakit ada pasien yang memiliki gejala flu dan pilek. Kemudian disebutkan bahwa pasien itu adalah suspect  atau terduga corona. Padahal sesungguhnya tidak seperti itu.

Berita-berita hoaks seperti tadi kami lakukan penindakan hukum, dijerat dengan Undang-Undang Pidana dan UU ITE karena mereka telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Meski sudah sejumlah pelaku penyebar informasi bohong atau hoaks dan ujaran kebencian ditangkap dan diadili, hoax tetap saja mewarnai ruang publik kita. 

Tak heran jika Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD beberapa waktu lalu menyebut pembuat hoaks yang belakangan marak beredar melalui media sosial adalah setan, atau "anaknya iblis".

Kita mengajak semua pihak untuk menggunakan medsos dengan bijak dan untuk kepentingan-kepentingan yang positif. Kita juga mengajak pers tidak menyebar hoaks, karena itu bukan nilai-nilai Islami, bukan tata nilai ke-Indonesia-an, karena tata nilai kita adalah budi pekerti yang baik, nilai-nilai sopan santun.
 
Masyarakat harus tidak turut serta menyebarkan informasi tanpa ada klarifikasi dan verifikasi. Jika berita yang disebarkan itu hoaks, maka masyarakat bisa dikenakan pidana penjara maksimal selama 10 tahun. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan fatwa hukum dan pedoman dalam beraktivitas di media sosial (medsos) atau muamalah medsos.  Fatwa tersebut diantaranya menyatakan haram bagi setiap Muslim dalam beraktifitas di media sosial melakukan ghibah (menggunjing), fitnah (menyebarkan informasi bohong tentang seseorang atau tanpa berdasarkan kebenaran), adu domba (namimah) dan penyebaran permusuhan.

Mulai saat ini masyarakat harus melawan hoaks yang marak di berbagai media sosial karena hal tersebut merupakan salah satu ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.