Tajuk: Rupiah Melemah, Waspada Resesi Dan Rusuh Sosial

***
Tajuk: Rupiah Melemah, Waspada Resesi Dan Rusuh Sosial

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi masih melemah di atas level Rp15.000 per dolar AS.

Pada pukul 09.42 WIB, rupiah bergerak melemah 42 poin atau 0,28 persen menjadi Rp15.215 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.173 per dolar AS.

Penyebaran COVID-19 sendiri membuat bank sentral dan lembaga keuangan global mengambil langkah-langkah stimulus untuk mengimbangi dampak virus tersebut terhadap ekonomi.

Bank sentral Inggris Bank of England sebelumnya memangkas suku bunganya 50 basis poin. Sementara itu, Pemerintah Inggris mengucurkan dana 12 miliar pound atau 15,43 miliar dolar AS untuk memerangi COVID-19.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, akibat Corona banyak dana asing yang pergi dari negara berkembang dan berdampak pada pelemahan mata uang di Asia. Corona memang berdampak ke perilaku investor global terhadap kepemilikan investasi mereka di berbagai negara. Mereka cenderung menjual dulu karena itu ada outflow, dan kalau kondisi baik mereka akan masuk lagi. Kita akan terus memantau ini.

Pelemahan kurs yang lebih dalam perlu diwaspadai. Selain memberatkan para importir dan impor barang modal untuk pengembangan industri maupun proyek pembangunan, pelemahan nilai tukar bisa membuat investor keluar dari Indonesia.  

Tentunya pelemahan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena dapat membuat defisit transaksi berjalan kian membengkak. Pelemahan berkepanjangan juga akan berdampak negatif terhadap industri dalam negeri. Sudah saatnya pemerintah meningkatkan ekspor, terutama industri manufaktur.  

Selain itu harga-harga  barang impor akan melambung, tentu saja akan menggerus daya beli rakyat. Perusahaan yangg menggantungkan jalan bisnisnya dari bahan baku atau barang jadi impor juga akan bermasalah sehinga PHK massal akan semakin banyak. 

Akibat dari semua itu, Indonesia bisa masuk ke dalam resesi yang sesungguhnya, ujung-ujungnya rakyat tidak mampu membeli kebutuhan pokok yang bisa meicu kerusuhan sosial. Harus diingat, sejarah membuktikan belum ada satupun pemimpin Indonesia yang kekuasaannya dapat bertahan saat resesi datang disaat perut rakyat lapar.

Itulah sebabnya resesi harus dicegah. Tim ekonomi Jokowi harus cerdas dan mampu membvuat terobosan-terobosan, bukan malah seperti kebingungan, seakan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal, rakyat dan para pelaku usaha menginginkan pemerintah bertindak cepat untuk membuat terobosan kebijakan agar rupiah menguat. 

Perlu langkah konkret agar pelemahan rupiah itu tidak menaikkan harga kebutuhan pokok rakyat, apalagi dalam situasi menghadapi puasa dan hari raya. Langkah cepat dan terobosan-terobosan harus segera dilakukan BI dan tim ekonomi Jokowi agar masyarakat tidak panik dengan nilai rupiah yang melemah. 

Mereka-mereka yang berduit tidak melakukan tindakan membeli dolar secara berlebihan yang justru dapat memicu semakin sulit untuk mempertahankan nilai rupiah.

Memperkuat nilai tukar nilai rupiah sangat penting dilakukan, karena, menjadi salah satu kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional dan menjaga stabilitas politik. Itulah sebabnya, negeri ini membutuhkan orang-orang cerdas, bukan pejabat ‘asbun’ dan bodoh. Dengan demikian resesi dan rusuh sosial bisa dicegah dan negeri ini aman, rakyat sejahtera.