Fatwa MUI Larang Salat Jumat di Masjid Tepat

Safari
Fatwa MUI Larang Salat Jumat di Masjid Tepat

Jakarta, Hanter - Majelis Ulama Indonesia (MUI) merilis Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 yang antara lain melarang umat menyelenggarakan ibadah salat Jumat di kawasan yang mengancam penyebaran COVID-19 tidak terkendali, dan boleh mengganti salat Jumat dengan salat Dzuhur di rumah. 

Selain itu, umat Islam diminta untuk menjaga kebersihan dan kesehatan dengan membawa perlengkapan salat ketika di masjid serta rajin mencuci tangan.

Menanggapi hal ini pengasuh Ponpes Tahfidz Qur'an (PPTQ) Al Bayan, Bojonegoro, Jawa Timur, Ustadz Harits Abu Ulya mengatakan, Fatwa MUI tersebut, khususnya soal larangan salat Jumat tidak perlu diperdebatkan. Dalam fiqh memang didiskusikan, ada ijtihad dalam kondisi darurat tertentu untuk solat Jum'at memang bisa diganti dengan solat Dzuhur.

"Misal kondisi banjir, hujan lebat yang sangat, badai maka boleh solat Dzuhur saja dan salat Jumat tidak dilaksanakan," ujar Ustadz Harits Abu Ulya kepada Harian Terbit, Rabu (18/3/2020).

Salat di Rumah

Sementara itu, pengurus MUI Pusat, KH Anton Tabah Digdoyo mengatakan, Islam adalah agama yang sangat lengkap detil dan sempurna. Dalam ibadah maupun muamalah ada batas-batas darurat syar'i yang harus ditaati. Mencintai masjid memang diharuskan. Tapi ada batas-batas dharuri. Salat jamaah di masjid wajib bagi laki-laki tapi ada udzur syar'i antara lain sakit. Hujan deras ada wabah penyakit dan sebagainya. 

Dalam situasi seperti itu maka ada batas dhoruri. Contoh, Nabi Muhammad SAW sesuai hadist Bukhory nomor 3214 dan Ibnu Majah nmr 937. Muslim 1693. Abudaud 1063 pernah perintahkan muazin lafal "Hayya ala sholah" diganti Sholluuu fi rihaalikum (salatlah di rumah-rumah kalian tidak usah di masjid). 

"Seperti sekarang Masjidil Haram pun sepi karena ditutup untuk umum," paparnya.

Dibenarkan

Terpisah Ustadz Novel Bamukmin mengemukakan, sesuai ajaran Islam dalam melakukan ibadah apapun sangat dipertimbangkan manfaat dan mudhorot dalam keselamatan jiwa bahkan disaat saat tertentu dituntut untuk mempertaruhkan nyawa membela agama Islam (jihad). 

“Saat corona mewabah,  ibadah berjamaah salat wajib 5 waktu dan ibadah salat jumat ketika sdh mengancam keselamatan jiwa seperti bencana alam contohnya, banjir, tsunami, gempa bumi atau saat ini virus corona maka wajib ditiadakan sementara khususnya didaerah daerah terpapar virus covid- 19. Umat wajib melaksanakan ibadah dirumah masing masing. Jadi fatwa MUI tersebut sudah tepat disampaikan saat ini di daerah daerah yg sdh positif terpapar virus corona covid -19,” ujar Novel

Ketua Dewan Fatwa MUI Hasanuddin, fatwa ini disahkan pada Senin (16/3/2020). "Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker hukumnya haram," kata Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/3/2020). 

#MUI   #Sholat   #jumat   #corona