Tajuk: Malaysia Sudah Terapkan Lockdown, Indonesia Perlukah?

***
Tajuk: Malaysia Sudah Terapkan Lockdown, Indonesia Perlukah?
Ilustrasi (ist)

Malaysia memutuskan untuk melaksanakan lockdown atau karantina (menutup kota atau negara) mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020 di seluruh negara bagian. Kebijakan ini untuk membendung penularan wabah COVID-19 dan dari kemungkinan merenggut nyawa masyarakat Malaysia. Demikian disampaikan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin, Senin malam.

Lockdown tersebut antara lain meliputi larangan menyeluruh pergerakan dan kegiatan massal di seluruh negeri, termasuk aktivitas keagamaan, olah raga, sosial dan budaya.  Kemudian, pembatasan menyeluruh semua perjalanan warga Malaysia ke luar negeri.

Lalu, pembatasan masuk semua wisatawan dan warga asing, penutupan semua PAUD, sekolah pemerintah dan swasta termasuk sekolah harian, sekolah berasrama penuh, sekolah internasional, pusat tahfiz, lembaga pendidikan tingkat rendah, menengah dan prauniversitas.

Selanjutnya, penutupan semua institusi pendidikan tinggi (IPT) pemerintah dan swasta serta institut latihan ketrampilan di seluruh negara bagian dan penutupan semua lembaga pemerintah dan swasta.

Namun, ujar dia, tindakan tersebut perlu dijalankan oleh pemerintah untuk membendung penularan wabah COVID-19 dan dari kemungkinan merenggut nyawa masyarakat Malaysia.

Di Malaysia, jumlah kasus virus corona meningkat tajam secara mendadak yaitu 190 kasus hingga Minggu malam (15/3), disusul dengan 125 kasus baru pada Senin (16/3). Dengan demikian, jumlah keseluruhan orang yang dijangkiti wabah COVID-19 itu adalah 553. Dari jumlah tersebut, sebanyak 511 orang sedang dirawat di rumah sakit sedangkan 42 orang sudah sembuh.

Di Indonesia soal Lockdown masih menjadi pro kontra. Namun, Presiden Joko Widodo tidak memasukkan lockdown (menutup kota atau negara) sebagai salah satu kebijakan untuk mengurangi penyebaran penyakit saluran pernafasan yang disebabkan virus corona jenis baru (COVID-19).

Menurut Presiden. sampai saat ini tidak berpikiran ke arah kebijakan lockdown yang paling penting dilakukan adalah mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain.

Saat ini sudah ada beberapa negara yang melakukan lockdown sebagian maupun seluruh wilayah negaranya yaitu Italia sejak 9 Maret 2020, Denmark sejak 13 Maret 2020, Filipina sejak 12 Maret 2020 hingga Irlandia pada 12-29 Maret 2020.

Di Indonesia, sejumlah daerah juga sudah menetapkan penyebaran COVID-19 ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Daerah-daerah tersebut adalah kota Solo dengan memerintahkan siswa belajar di rumah selama 2 pekan dan penutupan seluruh kawasan wisata. Ada juga provinsi Banten serta 3 kota dan kabupaten di dalamnya yaitu kabupaten Tangerang, kota Tangerang dan kota Tangerang Selatan.

Sedangkan kota DKI Jakarta juga menutup sebagian besar tempat wisata selama 2 pekan serta meliburkan sekolah juga selama 2 pekan dan mengurangi jumlah perjalanan KRL, MRT dan bus transjakarta.

Hingga Minggu (15/3), Indonesia memiliki 117 kasus COVID-19 positif dengan 5 orang meninggal dunia dan tercatat sembuh 8 orang. Mereka tersebar di Jakarta, Tangerang, Bandung, Solo, Yogyakarta, Bali, Manado, Pontianak.

Kita sepakat dengan pendapat Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang meminta pemerintah mengundang para ahli untuk mempertimbangkan secara matang pemberlakuan” lockdown” apabila diperlukan mengingat wabah COVID-19 sudah ditetapkan sebagai bencana nasional.

Untuk di Indonesia, menurut dia, meskipun jumlah kasus positif COVID-19 terus bertambah, Indonesia belum juga menerapkan kebijakan "lockdown". Hingga Minggu (15/3), jumlah kasus positif virus tersebut di Indonesia mencapai 117 kasus dengan 5 orang meninggal dunia, 8 orang berhasil sembuh, serta 7 orang lainnya diperkirakan akan sembuh.

Harapan kita jika penyebaran virus corona terus meluas dan jumlah korban semakin banyak, tak salah apabila mengikuti langkah sejumlah Negara lain untuk menerapkan lockdown.

Kita meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran COVID-19, salah satu caranya adalah dengan memulai mengurangi aktivitas di luar rumah. Hal ini dilakukan agar penanganan COVID-19 bisa lebih maksimal agar penyebaran dari virus itu bisa dihentikan atau setidak-tidaknya bisa dihambat.

Tentu saja semua komponen bangsa untuk meningkatkan kesadarannya untuk menaati imbauan dari pemerintah, saling mengingatkan, bekerja sama dan tolong-menolong agar penularan dari virus ini tidak meningkat dan penanganan COVID-19 bisa dilakukan dengan baik.