DPR Soroti Pelecehan Seksual Siswi SMK, Organ Terlarang Digerayangi Ramai-ramai

Harian Terbit/Danial
DPR Soroti Pelecehan Seksual Siswi SMK, Organ Terlarang Digerayangi Ramai-ramai
Aksi 5 murid pelaku pelecehan seksual di ruang kelas. (Foto Tangkap Layar Facebook)

Anggota Komisi X DPR, Bramantyo menyesalkan insiden bullying mengarah ke pelecehan seksual yang menimpa seorang siswi SMK di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut), digerayangi ramai-ramai oleh pria dan wanita viral di media sosial (medsos).

"Berkenaan apa yang terjadi di Bolaang Mongondow menimpa siswi SMK itu, saya sangat menyesalkan hal seperti itu terjadi, Saya berharap ada tindakan tegas dari pihak sekolah dan juga orang tua murid terhadap para pelakunya," kata Bramantyo di Jakarta, Selasa (10/3/2020).

Politikus Demokrat menuturkan, kasus tersebut merupakan salah satu bentuk bullying dan sudah mengarah ke pelecehan seksual. Terkait hal  ini Bramantyo menegaskan sudah menyampaikan hal ini kepada Mendikbud, bahwa sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan tegas, untuk menyelesaikan permasalahan bullying di sekolah.

"Karena seharusnya lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak-anak mengenyam pendidikan dan menjadi kaum yang terdidik," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, video yang viral itu berdurasi 26 detik. Dalam video yang tampak di dalam kelas itu, terlihat seseorang yang mengenakan seragam putih-abu-abu dipegangi kaki dan tangannya oleh sejumlah orang. Organ terlarang si siswi dipegang-pegang, baik oleh pria maupun wanita yang memegangi kaki dan tangan siswi tersebut.

5 Pelaku Tersangka

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulawesi Utara Kombes Pol Jules Abraham Abas mengatakan lima pelaku dalam kasus pelecehan seksual terhadap seorang siswi SMK di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulut, telah ditetapkan sebagai tersangka.

"Kelimanya sudah ditetapkan sebagai tersangka," kata Kombes Jules saat dihubungi dari Jakarta, Selasa malam.

Namun demikian, kelima tersangka tidak ditahan, melainkan dikenakan sanksi wajib lapor setiap hari. "Tidak ada yang ditahan karena para pelaku masih pelajar. Selain itu, orang tua (pelaku) memberikan jaminan," ujarnya.

Meski para tersangka tidak ditahan, namun proses hukum tetap berjalan. Lima pelaku adalah tiga siswa dan dua siswi. Tiga siswa tersebut berinisial RM, NP, dan PL. Sementara dua siswi berinisial NR dan PN.

Baik pelaku, maupun korban adalah murid-murid di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. 

Dari hasil pemeriksaan sementara, motif pelaku melakukan aksinya adalah untuk bercanda di kelas saat menunggu guru masuk.

#Pelecehan   #sekolah   #pelajar   #sma   #dpr