Tajuk: Penyebaran Info Hoaks Corona dan Penimbunan Masker

***
Tajuk: Penyebaran Info Hoaks Corona dan Penimbunan Masker

Sangat kelewatan dan keterlaluan mereka yang menyebar info hoaks soal virus corona dan mereka yang melakukan penimbunan masker dan cairan pembersih tangan atau hand sanitizer (antiseptik). Sangat tepat tindakan aparat kepolisian untuk menindak tegas dan menangkap pelakunya.

Hingga saat ini, Polri berhasil mengungkap 12 kasus penimbunan masker dan hand sanitizer di seluruh Indonesia dalam dua hari terakhir.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Asep Adisaputra di Mabes Polri, Jakarta, Kamis mengatakan dari 12 kasus ini, ada 25 orang yang menjadi tersangka.
Kita mengecam tindakan pelaku penimbunan karena sudah merugikan masyarakat untuk keuntungan dirinya. Atas perbuatannya, 25 tersangka tersebut bakal dijerat hukum karena melanggar Pasal 107 UU Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp50 miliar.

Sementara itu soal info hoaks terkait corona, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menyatakan, hingga saat ini sudah ada 127 hoaks yang tersebar di Indonesia terkait virus corona.  

Berita hoaks itu di antaranya China ingin belajar agama Islam karena warga Islam bebas dari virus corona.  Ada lagi virus corona menular lewat gigitan nyamuk. Ini hoaks. Faktanya informasi tersebut adalah salah. WHO Western Pasific melalui akun resminya menyatakan bahwa virus corona tidak dapat ditularkan lewat gigitan nyamuk.

Info hoaks sangat merugikan masyarakat.  Warga menjadi resah dan panik. Sementara si penyebar hoaks tertawa gembira. 

Terkait hoaks, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangani lima kasus penyebaran berita hoaks terkait virus corona Covid-19. Hal ini merupakan hasil dari patroli siber pemantauan berita-berita hoaks di dunia maya dalam sepekan terakhir.

Asep menjelaskan modus berita hoaks yang ditindak di antaranya penyampaian berita bohong mengenai adanya informasi WNA yang terjangkit corona sehingga diimbau masyarakat agar menjauhi WNA itu.

Ada juga penyebaran berita bohong dalam bentuk video yang menceritakan di sebuah rumah sakit ada pasien yang memiliki gejala flu dan pilek. Kemudian disebutkan bahwa pasien itu adalah suspect  atau terduga corona. Padahal sesungguhnya tidak seperti itu.

Berita-berita hoaks seperti tadi kami lakukan penindakan hukum, dijerat dengan Undang-Undang Pidana dan UU ITE karena mereka telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Meski sudah sejumlah pelaku penyebar informasi bohong atau hoaks dan ujaran kebencian ditangkap dan diadili, hoax tetap saja mewarnai ruang publik kita. 

Tak heran jika Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD beberapa waktu lalu menyebut pembuat hoaks yang belakangan marak beredar melalui media sosial adalah setan, atau "anaknya iblis".

Untuk menjaga kerukunan bangsa kita berharap semua anak bangsa jangan saling menghujat karena kita bersaudara, jangan saling jelekkan karena kita bersaudara, jangan saling fitnah karena kita bersaudara, jangan saling mendemo, habis energi kita untuk hal-hal seperti itu, karena kita bersaudara.
 
Kita mengajak semua pihak untuk menggunakan medsos dengan bijak dan untuk kepentingan-kepentingan yang positif. Kita juga mengajak pers tidak menyebar hoaks, karena itu bukan nilai-nilai Islami, bukan tata nilai ke-Indonesia-an, karena tata nilai kita adalah budi pekerti yang baik, nilai-nilai sopan santun.
 
Masyarakat harus tidak turut serta menyebarkan informasi tanpa ada klarifikasi dan verifikasi. Jika berita yang disebarkan itu hoaks, maka masyarakat bisa dikenakan pidana penjara maksimal selama 10 tahun. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan fatwa hukum dan pedoman dalam beraktivitas di media sosial (medsos) atau muamalah medsos.  Fatwa tersebut diantaranya menyatakan haram bagi setiap Muslim dalam beraktifitas di media sosial melakukan ghibah (menggunjing), fitnah (menyebarkan informasi bohong tentang seseorang atau tanpa berdasarkan kebenaran), adu domba (namimah) dan penyebaran permusuhan.

Mulai saat ini masyarakat harus melawan hoax yang marak di berbagai media sosial karena hal tersebut merupakan salah satu ancaman terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.

#Corona   #depok   #wni   #masker   #sanitizer   #pencegahan   #sembako   #polisi