DPR Tunda Rapat Panja Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro Batal Buka-bukaan

Danial
DPR Tunda Rapat Panja Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro Batal Buka-bukaan
Ilustrasi Jiwasraya

Jakarta, HanTer - DPR RI membatalkan rapat panitia kerja Jiwasraya yang sebelumnya direncanakan hari ini. Dari informasi yang dihimpun, ternyata rapat ditunda tanpa alasan yang jelas, Selasa (25/2/2020).

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung), Febrie Adriansyah mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan materi yang hendak dipaparkan dalam rapat Panja.

“Pihak sana (DPR RI) menunda, tidak jadi Selasa,” ujar Febrie di Komplek Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin (24/2/2020).

Lanjutnya, ada kemungkinan membawa para tersangka, menurut Febrie masih belum ada rencana membawa enam orang tersangka kasus Jiwasraya dalam rapat Panja

Padahal, melalui kuasa hukumnya, tersangka Benny Tjokrosaputro menawarkan untuk hadir di Panja membeberkan apa yang diketahuinya.

“Jangan berandai-andai lah, belum ada rencana,” katanya.

Diketahui, kuasa hukum Muchtar Arifin, Benny Tjokrosaputro menyatakan bersedia jika diundang ke Panja. Pasalnya, ia mengaku memiliki data yang sebenarnya atas kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Benny Tjokrosaputro menjelaskan kesediaan itu akan membantu dirinya dari dugaan adanya kezaliman atas penyidikan Jiwasraya. Ia menduga ada pihak penguasa tertentu yang sengaja membuatnya seolah-olah menjadi dalang kasus tersebut.

Sebelumnya penyidik Kejagung telah menetapkan enam orang tersangka dalam kasus Jiwasraya. Mereka adalah Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Komisaris Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, mantan Kepala Divisi Investasi Jiwasraya Syahmirwan, dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto.

Sesuai penghitungan sementara, nilai total aset yang disita penyidik Kejaksaan Agung dalam kasus ini mencapai Rp11 triliun. Mayoritas aset yang disita merupakan milik Benny Tjokrosaputro yang juga mengharapkan adanya keadilan. "Tolong BPK RI dan Kejagung periksa juga pembelian saham langsung maupun lewat manajer-manajer investasi tahun 2006-2016. Siapa aja yang buat lubang awal Jiwasraya,” ujar Benny dalam keterangan tertulisnya.

Lanjut Benny, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Kejagung jangan asal merampas aset PT Hanson International Tbk (MYRX) yang merupakan perusahaan publik guna menutup kesalahan yang dilakukan pihak lain.

Kejagung telah menahan Benny Tjokro sejak 24 Januari 2020 lalu. Selain itu, Kejaksaan juga menahan mantan direksi Jiwasraya yakni Hendrisman Rahim dan Harry Prasetyo, Presiden Komisaris PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM) Heru Hidayat.