SMI Akan Pungut Cukai Minuman Energi, RR: Srintil Beraninya Uber yang Kecil-Kecil

Alee
SMI Akan Pungut Cukai Minuman Energi, RR: Srintil Beraninya Uber yang Kecil-Kecil

Jakarta, HanTer - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) akan mengenakan cukai untuk minuman berpemanis. Rencana itu diusulkannya saat menghadiri rapat dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (19/2).

Usulan Sri Mulyani ini dikritik ekonom senior Rizal Ramli (RR), meski tak menyebut nama Sri Mulyani. ‘Classic moves’ Srintil doyannya uber yang kecil-kecil, sama besar-besar malah divoor kurangi pajak, tax holiday 20 tahun dan lainnya. Memang mengurangi konsumsi gula bagus, tapi buat rakyat bawah itu sumber energi tambahan,” kata mantan anggota tim panel penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini.

Lewat akun Twitter @RamliRizal, mantan Menko Perekonomian ini  menyinggung soal keberanian Sri Mulyani. Dia mengkritik Sri Mulyani, hanya berani mengejar pajak yang kecil tetapi ciut dengan pengusaha besar. 

"Kelakuan Srintil, beraninya uber yang kecil-kecil, ngomong bayar pensiunan berat, tapi mau hapus royalty batu bara," kicau Rizal, Selasa (11/2/2020).

Kesehatan

Pemerintah mengklaim minuman berpemanis dapat membahayakan kesehatan karena menimbulkan penyakit diabetes hingga obesitas.

Sri Mulyani mengungkapkan minuman berpemanis yang diusulkan dikenakan cukai adalah minuman yang siap dikonsumsi dan konsentrat yang dikemas dalam bentuk penjualan eceran. Contohnya, minuman kemasan kopi susu.

Sri Mulyani mengusulkan tarif cukai untuk teh kemasan sebesar Rp1.500 per liter. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, jumlah produksi teh kemasan sebanyak 2,19 juta liter per tahun. Dengan pengenaan itu, potensi penerimaan negara diproyeksi sebesar Rp2,7 triliun.

Kemudian, tarif cukai karbonasi diusulkan sebesar Rp2.500 per liter. Jika jumlah produksi karbonasi mencapai 747 juta liter per tahun, maka ada potensi penerimaan negara sebesar Rp1,7 triliun.

Lalu, Sri Mulyani menyatakan potensi penerimaan negara dari pengenaan cukai minuman kemasan, seperti kopi hingga minuman energi sebesar Rp1,85 triliun.

Angka itu bisa terealisasi jika tarif cukai yang diusulkan sebesar Rp2.500 per liter dengan jumlah produksi 808 juta liter per tahun.

Jika dijumlah, total potensi penerimaan negara dari pengenaan cukai minuman berpemanis sebesar Rp6,25 triliun dalam satu tahun. "Pembayaran cukai nanti dilakukan saat keluar dari pabrik atau pelabuhan. Pembayaran dilakukan secara berkala setiap bulan," pungkas Sri Mulyani.