Ekonomi Memburuk Bikin Publik Tak Puas Kepada Jokowi-Ma’ruf

Safari
Ekonomi Memburuk Bikin Publik Tak Puas Kepada Jokowi-Ma’ruf

Jakarta, HanTer - Berdasarkan hasil Survei Alvara Research Center, kepuasan publik terhadap kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) pada periode kedua menurun.

CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan, dibandingkan kepuasan publik pada survei periode sebelumnya, untuk pertama kalinya sejak 2018, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi berada di bawah 70 persen.

Menanggapi hasil survei ini, Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya'roni mengatakan, saat ini kepercayaan publik terhadap Jokowi memang jelas menurun. Karena fakta di lapangan cocok dengan perhitungean Badan Pusat Statistik (BPS). Ekonomi dikuartal IV 2019 hanya tumbuh 4,97 persen. Angka tersebut mengkonfirmasi penurunan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu wajar bila kepuasan publik terhadap Jokowi juga menurun.

"Selain itu, ada beberapa kebijakan Jokowi yang makin menyulut penurunan kepuasan publik seperti kenaikan BPJS, kenaikan tarif tol, harga pangan, dan lainnya," ujarnya. 

Sya'roni menuturkan, kepuasan publik kuncinya ada di ekonomi. Bila ekonomi membaik, maka publik akan puas. Tapi faktanya ekonomi makin memburuk. Solusinya, Jokowi harus segera perbaiki dan rombak ekonomi. Apalagi selama 5 tahun pertumbuhan ekonomi tidak bergeser dari 5 persen. Itu artinya, tim ekonomi Jokowi tidak kapabel. Bila tetap dipertahankan, maka jangan berharap ada perbaikan ekonomi. 

"Bila perbaikan ekonomi tidak kunjung datang, maka kepuasan publik terhadap Jokowi akan makin melorot," tandasnya.

Lampu Kuning

Sementara itu, Koordinator Gerakan Perubahan (Garpu) Muslim Arbi mengatakan, adanya hasil Survei Alvara Research Center yang menunjukan kepuasan publik terhadap kepemimpinan Jokowi merupakan cerminan dari rendahnya kepuasan publik. Apalagi ekspektasi publik di periode kedua Jokowi kali ini sangat besar. 

"Kalau ternyata kepuasan publik rendah. Apalagi mendekati lampu kuning. Ini mesti dievaluasi total atas kinerja Jokowi dan kabinetnya," ujar Muslim Arbi kepada Harian Terbit, Jumat (14/2/2020).

Muslim menuturkan, kalau kepercayaan publik menurun seperti di bilang dari Alvara itu sudh lampu kuning. Ya publik hopless (tidak ada harapan) lah. Publik tidak bisa lagi berharap banyak, karena kecewa. Yang terjadi ya social distrust (ketidakpercayaan publik)," paparnya.

Diketahui berdasarkan hasil Survei Alvara Research Center, menunjukkan, tingkat kepuasan publik pada Januari 2020 sebesar 69,4 persen. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan tingkat kepuasan publik periode pertama pemerintahan Jokowi pada Januari 2015 sebesar 77,2 persen.

Dari hasil survei, naiknya iuran BPJS dan pembatasan akses internet beberapa waktu lalu juga berpengaruh terhadap penurunan tingkat kepuasan publik. Sementara itu, tujuh aspek lainnya yang memiliki tingkat kepuasan publik terendah pada Januari 2020 antara lain, peningkatan ekonomi keluarga 64,7 persen, penegakan hukum 63,6 persen, kesejahteraan tenaga kerja 62,2 persen, dan pemberantasan korupsi 61,5 persen.

Kemudian, kemudahan lapangan kerja 60,8 persen, stabilitas harga bahan pokok 56,2 persen, dan pengentasan kemiskinan 51,9 persen. "Dari aspek dengan tingkat kepuasan publik yang paling rendah Januari 2020 ini, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, dan pengentasan kemiskinan merupakan aspek yang mengalami penurunan cukup besar dibandingkan Agustus 2019," kata dia.