Ironis dan Menyedihkan; Indonesia Negeri Bahari, Ikan Saja Harus Impor

Safari
Ironis dan Menyedihkan; Indonesia Negeri Bahari, Ikan Saja Harus Impor
Istimewa

Impor Garam, Beras, Cabai dan Bawang

Jakarta, HanTer - Tak hanya impor beras, cabai, bawang dan garam, Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam perikanan cukup besar, 12,54 juta ton per tahun, dan negeri ini  terdiri dari 70 persen wilayah lautan,  ternyata harus mengimpor ikan. Namun, Indonesia masih mengimpor ikan dari beberapa negara tetangga, termasuk dari China. 

"Ironi dan menyedihkan jika Indonesia menjadi negara pengimpor ikan. Melengkapi kesedihan kita menjadi pengimpor garam. Tidak tanggung tanggung quota tahun 2020 ini 2,92 juta ton garam industri dari kebutuhan 4,1 juta ton," kata pemerhati politik, M Rizal Fadillah dalam keterangan tertulisnya kepada Harian Terbit, Minggu (9/2/2020).

Rizal Fadilah memaparkan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengkritik besaran quota impor garam ternyata karena temuannya di pasar pada tahun 2019 banyak garam yang tercecer. Masih ingat juga beras impor 20 ribu ton sehingga membuat beras bulog busuk dan harus dibuang. Impor beras sebesar 1,174 juta ton per tahun. 

“Negara agraris produsen beras terbesar ketiga setelah Cina dan India, yang konon surplus ternyata juga masih impor beras.  Di era Pemerintahan Jokowi ini impor sangat besar," tegasnya.

Rizal Fadilah menilai, Indonesia negara "importir" yang luar biasa. Rezim belum mampu mengolah potensi alam dengan baik dan benar. Sayangnya pada bisnis impor ini menjadi juga lahan basah korupsi. Impor bawang putih saja telah menyeret anggota Komisi VI DPR RI Dharmatra sebagai tersangka. 16 tempat di Bogor dan Bandung telah digeladah. Impor sapi menyeret politisi Luthfi ke penjara. 

Rizal Fadilah memaparkan, ketika ikan saja impor, maka wajah Indonesia coreng moreng. Gula, jagung, kedelai, hingga cabai pun impor. Baja dan besi sudah pasti. Memantaskan diri dengan  tenaga kerja impor bahkan rektor pun hendak diimpor. Tapi memang negeri ini banyak mengada ada. 

Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Yugi Prayanto, keputusan impor ikan disebabkan kebutuhan yang mendesak. Jika tidak memilih impor, maka kerugian yang dirasa bisa menjadi lebih besar bagi industri olahan ikan. 

"Kita impor saya pernah dengar dari India, mungkin ada dari China. Keperluan itu adalah untuk industri pengolahan dalam negeri karena mereka (industri pengolahan), dari 660 unit pengolahan ikan itu kekurangan pasok, karena ikan di negeri kita (terbatas)," kata Yugi kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/1/2020).

Terbatasnya stok ikan yang dihasilkan oleh nelayan dalam negeri disebabkan sulit keluarnya izin kapal di atas 30 GT (gross tonage). Sehingga, nelayan banyak yang memilih untuk tidak melaut karena tidak memperolehnya izin tersebut.

Kesulitan itu membuat Indonesia harus bergantung pada impor ikan dari China. Data Trademap menunjukkan bahwa impor berbagai macam jenis komoditas perikanan RI dari China nilainya mencapai US$ 71,6 juta atau setara dengan Rp 1 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$. Jumlah tersebut setara dengan 25% dari total nilai impor sektor perikanan RI 2018 yang mencapai US$ 290,8 juta (Rp 4,07 triliun).

Indonesia mengimpor berbagai macam hasil perikanan dari China mulai dari ikan hidup, ikan beku, ikan segar, crustacean, moluska, hingga ikan yang sudah diolah. Impor terbesar hasil perikanan Indonesia dari China adalah ikan yang dibekukan. Nilainya mencapai US$ 61,9 juta pada 2018. Bahkan pada 2017 jumlahnya lebih tinggi dari itu, mencapai US$ 77,3 juta.

Proporsi ikan beku yang diimpor dari China mencapai 41% dari total impor ikan beku Indonesia pada 2018. Tercatat impor ikan beku Indonesia dari China periode 2014-2018 telah tumbuh 11%.

Tidak Dibenarkan

Ketua Dewan Penasehat Barisan Relawan Nusantara (Baranusa) Mohamad Jokay juga menegaskan tidak dibenarkan Indonesia mengimpor ikan. Karena Indonesia adalah lumbung ikan. Oleh karena itu pemerintah malu jika harus mengimpor ikan. Impor ikan juga jelas penghinaan terhadap nelayan Indonesia yang seolah - olah nelayan Indonesia tidak mampuh memenuhi kebutuhan pasokan ikan. 

'Padahal, ikan hasil tangkapan nelayan kita hampir setiap hari melimpah. Logikanya nelayan asing saja mencuri ikan di laut kita, artinya laut kita penuh dengan ikan dan termasuk hasil laut lainnya. Masa ikan saja impor," paparnya.

Jika benar Indonesia mengimpor ikan, sambung Jokay maka pemerintah khususnya Kementerian Perikanan harus bertanggung jawab. Karena impor ikan bukan solusi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, melainkan akan menambah beban masalah ekonomi masyarakat khusus nelayan. Harusnya pemerintah memberdayakan mendidik nelayannya dengan teknologi canggih guna menangkap ikan di laut.

"Makanya tolak impor ikan. Jujur, saya menolak kebijakan tersebut. Karena berdampak kepada ekonomi nelayan kita. Saya jadi heran sama pemerintah, apa sih maunya. Masa semua serba impor. Di mana jiwa berdikarinya?" paparnya.

Ironi

Pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, sangat ironi sebagai negara bahari dan kepulauan Indonesia harus impor ikan dari China. Apalagi proporsi ikan beku yang diimpor dari China mencapai 41% dari total impor ikan beku Indonesia pada 2018. Padahal selama ini RRC termasuk nelayamnya terbanyak melakukan pencurian di perairan Indonesia terutama di perairan Natuna.

Dari data FAO tahun 2014, volume pencurian ikan yang terjadi di Indonesia mencapai 11-26 juta ton/tahun. Nilai ini setara dengan 10-23 miliar dolar Amerika. Hal tersebut secara signifikan mengurangi pasokan ikan bagi industri pengolahan perikanan nasional, sehingga kebutuhan impor ikan terus meningkat. Jadi ironi besar, Rakyat Indonesia justru membeli ikannya sendiri yang dicuri bangsa lain.

Korea Selatan berani tembak kapal nelayan RRC yang mencuri di perairan lautnya. Ini yang tidak pernah di lakukan tezim Jokowi. Bahkan Jokowi terkesan melindungi semua kepentingan China Indonesia yang sebagian besar merugikan kepentingan nasional Indonesia sendiri. Kalaupun di media terlibat perang kata dg RRC itu hanya retorika pencitraan seolah Jokowi berani tidak nurut dengan RRC. Padahal tak subtansial sama sekali," paparnya.

#Impor   #ikan   #nelayan