Berpayung Hitam, Aktivis Minta Kejagung Tuntaskan Kasus Sarang Burung Walet

Safari
Berpayung Hitam, Aktivis Minta Kejagung Tuntaskan Kasus Sarang Burung Walet

Jakarta, HanTer - Aktivis Corong Rakyat kembali gelar aksi Kamisan di Gedung Kejagung RI, Kamis (6/2/2020). Aksi Kamisan yang mengenakan payung hitam dan pakaian serba hitam tersebut, tidak lain ingin mengawal Jaksa Agung agar berani menyeret penyidik KPK Novel Baswedan ke Pengadilan terkait kasus dugaan penganiayaan terhadap tersangka pencuri burung walet.

 

"Melalui aksi Kamisan ini, kami kembali mengadu ke Jaksa Agung agar kasus Novel saat menjabat sebagai Kasat Reskrim di Bengkulu segera di tuntaskan," tegas Koordinator aksi Ahmad.

 

Ahmad menyakini Novel Baswedan hingga kini masih dihantui rasa berdosa kepada para korban kasus sarang burung walet. Tapi, ia menyayangkan semua pihak menutup rapat-rapat dan sengaja agar kasus tersebut hilang di telan bumi.

 

"Novel yang dulu pernah jadi Polisi harusnya mengayomi masyarakat, tapi kenapa bertolak belakang. Korban sudah memenangkan pra peradilan, kenapa tidak dilanjutkan kasusnya," ujar Ahmad lagi.

 

Dia pun mengkritik melalui aksi teatrikalnya penampakan orang gila sebagai pesan bahwa hanya orang yang tak waras masih membela mati-matian ke Novel Baswedan dan sengaja kasusnya di tutupi agar tidak terendus lagi ke publik.

 

"Aneh, hanya orang yang gak waras aja bela mati-matian ke seorang penganiaya. HAM tidak berlaku untuk Novel, ini sangat aneh," bebernya.

 

Lebih jauh, Ahmad membandingkan bahayanya Novel dengan virus Corona yang sangat mematikan.

 

"Novel masih bebas berkeliaran, bahkan berkarir dilembaga super body, Novel sangat ganas ketimbang virus corona kenapa tidak disentuh hukum ya," tukasnya.

 

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan.

 

"Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.