Aktivis Serukan Tritura Tuntaskan Kasus Sarang Burung Walet

Safari
Aktivis Serukan Tritura Tuntaskan Kasus Sarang Burung Walet

Jakarta, HanTer - Aktivis Corong Rakyat kembali beraksi di Gedung Kejaksaan Agung RI Jakarta Selatan, Kamis (30/1/2020). Aksi kali ini merupakan sudah kesialan kalinya yang digelar berturut - turut selama dua pekan. Kali ini dalam aksinya mereka makan beling dan menyerukan Tritura adili penyidik KPK Novel Baswedan atas perkaranya sarang burung walet di Bengkulu.

 

Adapun isi Tritura versi mereka  di antaranya, pertama, seret Novel Baswedan ke Pengadilan. Kedua, meminta Jaksa Agung limpahkan berkas perkara Novel di Bengkulu ke Pengadilan. Ketiga, pecat seorang pembunuh dan penganiaya dari KPK.

 

"Keadaan penegakan hukum di Kejaksaan sudah masuk dalam tataran penyakit kronis karena tak berani mengadili Novel Baswedan," tegas Koordinator aksi Ahmad.

 

Dikatakannya, pihaknya berharap melalui seruan TRITURA Adili Novel Baswedan ini Presiden Jokowi sebagai nahkoda negeri harus berani mengambil sikap dan tindakan tegas kepada anak buahnya agar melimpahkan berkas perkara Novel ke Pengadilan.

 

"Jangan sampai pemerintah juga ikutan pura-pura tuli melihat tindakan Novel yang merasa kebal hukum. Perlu ada pembenahan dan menjadi momentum demi mengembalikan wibawa Kejaksaan dimata publik dengan menyeret Novel ke Pengadilan," sambungnya.

 

Kata Ahmad, pihaknya lebih baik mogok makan dan makan beling jika Jaksa Agung tak segera menuntaskan kasus Novel Baswedan. ST Burhanudin ikuti lah jejak pendahulumu Baharudin Lopa agar mendengarkan aspirasi rakyat dan bisa menegakkan keadilan.

 

"Makan beling menjadi bukti Kejaksaan tidak peka atas aspirasi masyarakat yang sepertinya tuli atau buta atas kasus kebiadan Novel yang hingga beberapa tahun ini belum terungkap," pungkasnya.

 

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan.

 

"Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.