Aksi Massa Bergaya Pocong di Depan Kejagung Minta Hukum Tidak Mati

Safari
Aksi Massa Bergaya Pocong di Depan Kejagung Minta Hukum Tidak Mati

Jakarta, HanTer - Hantu pocong berlumuran darah meramaikan aksi unjuk rasa Kamisan desak adili Novel Baswedan di depan kantor Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Jakarta, Kamis (16/1/2020). Aksi pocong yang berdiri di depan pelataran Kejagung itu mendesak agar berkas kasus sarang burung walet yang menyeret nama Novel Baswedan, penyidik KPK itu untuk segera di limpahkan ke Pengadilan.

"Kami rakyat kecil minta keadilan dan minta kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk menanggapi aspirasi kami, segera adili Novel Baswedan ke Pengadilan," ungkap Koordinator aksi Ahmad.

Menurut Ahmad, adanya diskriminasi dalam upaya penegakan hukum terkhusus pada kasus Novel di Bengkulu telah menciderai rasa keadilan masyarakat. 

"Ini namanya reformasi diperkosa. Keadilan untuk rakyat kecil di kucilkan, sementara Novel masih bebas berkeliaran tebar pesona bak pahlawan di KPK. Dia tidak ingat dengan dosa-dosa masa lalunya. Hukum harus adil, mana sekarang katanya persamaan hukum. Omong kosong," sesal Ahmad lagi.

"Keadilan sudah mati, mana suara aktivis-aktivis HAM. Reformasi sudah dijarah," tuturnya.

Dikatakan Ahmad, sudah menjadi kewajiban bagi tim Kejaksaan untuk menegakkan hukum ke Novel Baswedan. Makanya pihaknya berharap dalam aksi Pocong yang diawali dengan mengelilingi Gedung Korps Adhyaksa itu direspon langsung oleh ST Burhanuddin untuk memerintahkan anak buahnya melimpahkan berkas Novel ke Meja Hijau.

"Aksi ini sebagai pengingat, jangan sampai hukum untuk mengadili Novel Baswedan jangan sampai mati seperti pocong. Jangan biarkan pembunuh dan penganiaya bebas berkeliaran," pungkasnya.

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan. "Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.