Gelar Pengajian di Kejagung, Massa Minta Novel Diadili

Safari
Gelar Pengajian di Kejagung, Massa Minta Novel Diadili
Kali ini dalam aksinya mereka membaca Yasinan bersama sebagai bentuk protes kepada Jaksa Agung yang dinilai tak peka akan nasib korban dan keluarga korban Novel Baswedan sekaligus menuntut agar berkas kasus Novel dilimpahkan ke Pengadilan.

Jakarta, HanTer - Kelompok massa dari Corong Rakyat kembali menggelar aksi adili Novel Baswedan di depan Gerbang Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta, Senin (13/1/2020). Aksi mereka agak berbeda dengan kemasan aksi sebelumnya.

Kali ini dalam aksinya mereka membaca Yasinan bersama sebagai bentuk protes kepada Jaksa Agung yang dinilai tak peka akan nasib korban dan keluarga korban Novel Baswedan sekaligus menuntut agar berkas kasus Novel dilimpahkan ke Pengadilan.

"Aksi kita saat ini berbeda dengan aksi sebelumnya yang lebih kearah penyampaian orasi tetapi aksi kali ini kita membacakan surat Yasin agar kasus Novel Baswedan segera di buka kembali. Semoga dengan dibacakan surat Yasin, Jaksa Agung diberikan hidayah dan dibukakan pintu hatinya untuk melimpahkan kasus Novel ke Pengadilan," tegas Koordinator aksi Corong Rakyat Ahmad.

Usai pembacaan surat Yasin, massa Corong Rakyat juga menyerukan beberapa tuntutan agar Kejagung tidak sampai mematikan keadilan bagi rakyat kecil sebab kasus Novel hingga tahun 2020 masih belum ada kejelasan.

"Hukum jangan hanya tajam kebawah dan tumpul ke atas, kasus Novel ini sebagai contohnya. Semoga dengan membaca Yasin ini bisa mengetuk pintu hati pimpinan Kejaksaan Agung agar ada kejalasan kasus tersebut. Semua sama dimata hukum termasuk yang namanya Novel Baswedan," terang Ahmad.

Pihaknya juga mengancam akan kembali menggelar aksi serupa hingga pihak Kejaksaan Agung memberikan tanggapan atas perkembangan kasus Novel tersebut. "Aksi lanjutan bila perlu kita lakukan setiap hari sampai Novel diadili. Sekali baca Yasin ini juga untuk mengusir roh-roh jahat agar tidak melindungi pembunuh," pungkasnya.

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan. "Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.