Salamudin: Sektor Migas Ajang Permainan Mafia

Alee
Salamudin: Sektor Migas Ajang Permainan Mafia
Ilustrasi (ist)

Jakarta, HanTer - Peneliti senior Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng berpendapat keberadaan mafia minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia tidak hanya bercokol di industri hulu, namun juga hilir. Besarnya keuntungan yang bisa diraup membuat oknum-oknum mafia terus bermunculan.

 

“Seluruh masalah dalam sektor migas sudah karatan dan tak mungkin dapat diberantas. Jadi terima nasib saja rakyat Indonesia,” kata Salamudin kepada Harian Terbit, Sabtu (11/1/2020).

 

Menurutnya, masalah di sektor migas itu antara lain selain sektor hulu, mafia juga merekayasa produksi, dan hal ini terjadi dalam banyak kasus. Disisi lain, cost recovery dimark-up, mereka lebih sibuk memburu cost recovery daripada berproduksi.

 

Masalah lain, sektor migas bagian negara dimakan korupsi, bagaimana kasus TPPI sampai sekarang merupakan tempat cuci uang dan lahan korupsi. Kasus korupsinya tidak tuntas.

 

“Impor migas menjadi ajang permainan para mafia. Dari jaman Soeharto yang namanya markup harga pembelian minyak sampai kapal terus  terjadi,” katanya.

 

Dia mengatakan, ekspor migas hampir tak dapat dapat dimonitor oleh siapapun. Meski negara ini bangkrut namanya mafia ekspor minyak tak akan pernah tersentuh.

 

Masalah lain, lanjut Salamudin, distribusi minyak di dalam negeri kencing dimana mana, tidak ada satu pihak pun yang dapat memonitornya.

 

Kemudian, subsidi migas menjadi alat untuk memperbesar keuntungan mafia, subsidi tak pernah dirasakan oleh rakyat.

 

“Bisnis ritel migas menjadi ajang jual beli perijinan, calo dan makelar papa minta saham. “Utang BUMN migas tak jelas pemanfaatannya, mega peoyek dalam BUMN migas menjadi ajang untuk memperkaya kontraktor,” papar Salamudin.