Investasi Bodong Terus Menelan Korban, Siapa yang Awasi?

***
Investasi Bodong Terus Menelan Korban, Siapa yang Awasi?

Investasi ilegal, bodong, fiktif, dan sejenisnya ternyata tak pernah hilang. Buktinya, sampai saat ini terus memakan korban. Teranyar, kasus investasi bodong alias ilegal MeMiles yang dikelola PT Kam And Kam, yakni master marketing berinisial Dr E dan kepala IT berinisial PH.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur menetapkan dua tersangka baru kasus investasi ilegal yang diduga melibatkan sejumlah artis ini. 

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan di Mapolda Jatim di Surabaya, Jumat, mengatakan, pihak Polda menyita barang bukti Rp122 miliar. Selain itu, telah disita pula 18 unit mobil, dua unit sepeda motor dan beberapa barang berharga lainnya.

Selain itu, Polda Jatim juga akan memanggil beberapa artis atau figur publik yang diduga terlibat dalam promosi hingga pembelian saham investasi bodong tersebut. Polda sudah melayangkan surat panggilan terhadap figur publik atau artis yakni inisial ED, MT, AN dan J. Pemeriksaannya beda-beda tanggal.

Dalam praktiknya, MeMiles menjanjikan hadiah fantastis dan tak masuk akal pada nasabah, semisal hanya dengan investasi ratusan ribu, nasabah sudah bisa membawa pulang sejumlah barang elektronik seperti TV, lemari es hingga AC.

Peminat MeMiles juga sangat besar. Dalam delapan bulan beredar mengantongi omzet mencapai Rp750 miliar. Saat ini memiliki 264 ribu nasabah atau member.

Sudah sangat lama praktik investasi bodong tumbuh subur di negeri ini, tidak pernah mati. Seakan tidak tersentuh oleh aparat penegak hukum. Padahal sudah banyak masyarakat yang terjebak  dan menjadi korban penipuan serta  kerugian finansial bisa ratusan miliar rupiah. 
Berdasarkan laporan, total dana nasabah yang tersangkut di berbagai investasi bodong ataupun investasi yang masuk kategori mencurigakan bisa mencapai puluhan triliun rupiah. 

Menjamurnya investasi bodong ini tentu juga ada peran masyarakat. Mereka tergiur dengan keuntungan yang dijanjikan, sehingga tidak hati-hati, dan tidak teliti. Ada juga masyarakat yang terjebak karena ingin cepat kaya, tanpa harus kerja keras. Gara-gara ingin cepat kaya, akhirnya menjadi korban penipuan.

Penipuan lewat investasi bodong tidak akan terjadi seandainya calon nasabah tetap kritis menghadapi berbagai penawaran investasi yang menjanjikan hasil investasi yang tinggi dengan mengabaikan risiko, karena sudah dininabobokan bayangan tambahan pendapatan tanpa harus bekerja keras. Namun, saat kerugian datang tidak siap menghadapinya. 

Untuk mencegah korban investasi bodong perlu edukasi terhadap masyarakat bagaimana cara berinvestasi yang benar. Di satu sisi, maraknya investasi bodong menunjukkan dana yang di masyarakat cukup besar, tetapi sayangnya belum paham bagaimana memilih cara berinvestasi yang aman, misalnya melalui pasar modal dalam bentuk reksa dana. 

Penipuan lewat investasi bodong tidak akan terjadi seandainya calon nasabah tetap kritis, hati, dan teliti, terutama  ketika ada perorangan atau perusahaan yang memberikan penawaran investasi dengan keuntungan yang menjanjikan atau berlipat ganda dalam waktu singkat. Korban biasanya ingin cepat kaya tanpa mau bersusah payah, dan secara umum mereka memang miskin informasi mengenai investasi. 

Berbagai kalangan sudah mengingatkan agar masyarakat cerdas dan kritis dalam berinvestasi supaya tidak tertipu. Tentu masyarakat juga harus mencari tahu apakah perusahaan investasi itu berbadan hukum atau tidak. Ingatlah, dalam hal investasi kalimat “tidak ada makan siang yang gratis’, juga berlaku.

Sayangnya, banyak masyarakat yang terkesima oleh tingginya return saja. Tetapi, lupa akan risikonya. Persepsi yang sepertinya banyak dimanfaatkan pihak yang menjual investasi bodong. Saat kerugian datang tidak siap menghadapinya.

Praktek investasi bodong harus dihentikan agar korban tidak terus berjatuhan. Aparat penegak hukum dan otoritas jasa keuangan harus mengawasi ketat perusahaan-perusahaan investasi. Selain itu, masyarakat harus diberitahu tentang aturan-aturan yang berkaitan dengan investasi. Karenanya  sosialisas harus digencarkan, terutama tentang keuangan ke kampus-kampus atau perkumpulan-perkumpulan, dan lainnya.

Kita berharap sudah saatnya fungsi dan kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ditingkatkan lagi, tak hanya sebatas mengawasi produk investasi keuangan bank dan non bank. Akibatnya, tindakan OJK juga terbatas. 

Kita kembali mengingatkan masyarakat agar menyeleksi tawaran investasi yang datang silih berganti. Yang paling utama diperhatikan adalah menakar risiko terlebih dahulu, bukan menghitung return. Kenyataannya, selama ini korban investasi bodong sudah mengetahui risiko, tapi tetap masuk ke instrumen berisiko tinggi, karena ingin meraih untung besar dalam waktu cepat.  Ingin kaya tanpa harus bekerja keras.

Peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk mengantisipasi maraknya investasi bodong. Jika mengetahui ada perusahaan investasi mencurigakan segera laporkan ke OJK atau kepolisian. 

Masyarakat juga perlu memperkuat literasi keuangan sebagai upaya mencegah penyebaran berbagai bentuk investasi bodong yang sangat merugikan dan meresahkan banyak warga di Tanah Air.

Seluruh masyarakat Indonesia harus meluangkan waktu untuk mengecek legalitas, jangan mudah tergiur dengan tawaran tidak jelas, serta gunakan rasional agar terhindar dari investasi bodong.