Aksi Pawai Jumat Keramat, Massa Serukan Adili Novel Baswedan

Safari
Aksi Pawai Jumat Keramat, Massa Serukan Adili Novel Baswedan
Kelompok massa berbagai elemen seperti Gerakan Mahasiswa Pengawal Keadilan (GMPK) dan Corong Rakyat menggelar aksi pawai Jumat Keramat didepan Kejaksaan Agung (Kejagung) Jakarta, Jumat (10/1/2020).

Jakarta, HanTer  - Kelompok massa berbagai elemen seperti Gerakan Mahasiswa Pengawal Keadilan (GMPK) dan Corong Rakyat menggelar aksi pawai Jumat Keramat didepan Kejaksaan Agung (Kejagung) Jakarta, Jumat (10/1/2020). Dalam aksinya mereka mendesak agar Kejagung mengadili Novel Baswedan, yang saat menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu diduga menganiaya tersangka pencuri burung walet hingga tewas.

"Tidak ada di negeri ini yang kebal hukum. Melalui aksi pawai pada Jumat Keramat ini, kami berkali-kali mengingatkan agar Jaksa Agung segera adili Novel Baswedan," tegas Koordinator aksi Ahmad saat berorasi.

Selain menggelar aksi pawai, mereka juga aksi yang tergolong nekat saat hujan cukup deras dengan tiduran di tengah jalan tepat di depan Gedung Kejaksaan. Mereka mengaku kecewa lantaran sampai detik ini, kasus Novel tak kunjung di sidangkan di Pengadilan.

"Novel Baswedan bukan Tuhan yang punya dosa yang harus dipertanggung jawabkan. Semua sama dimata hukum, termasuk Novel Baswedan," jelasnya.

Kata dia, tidaklah fair apabila Mabes Polri saja bisa mengungkap kasus penyiraman Novel, tapi kenapa Kejagung tidak melanjutkan berkas kasus penganiayaan Novel ke Pengadilan. 

"Sama saja yang mereka lakukan ini adalah pelanggaran HAM," katanya.

Mereka juga memberikan sindiran keras kepada aktivis HAM yang tidak peka atas kejadian tersebut, yang justru lebih berpihak pada penyidik KPK.

"Aktivis HAM mana suaramu ? Kasus penyiraman Novel sudah kau bela, terus kapan kasus dugaan penganiayaan dan pembunuhan oleh Novel Baswedan tidak kalian perjuangkan," paparnya.

Dalam satu kesempatan Novel Baswedan sudah membantah keterlibatannya dalam kasus penganiayaan pencuri sarang burung walet  pada 2004 lalu itu. Novel juga menyebut penuntutan kasus tersebut dihentikan kejaksaan, walau sempat masuk ke pengadilan. "Hal itu semakin memperkuat dugaan selama ini bahwa dibalik ini semua aktor intelektualnya, yang itu-itu saja orangnya," beber Novel.