Hafizurrachman jadi Tersangka, Amir Hamzah Apresiasi Polisi dan Kejaksaan

Safari
Hafizurrachman jadi Tersangka, Amir Hamzah Apresiasi Polisi dan Kejaksaan

Jakarta, HanTer -  Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, resmi menyerahkan tersangka Muhammad Hafizurrachman  Syarif terkait kasus "menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam Akta otentik" kepada pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan, Selasa (7/1/2020).

 

Dengan diserahkannya tersangka ke pihak Kejari Jakarta Selatan tersebut maka tersangka yang sebelumnya ditahan di Polda Metro Jaya resmi menjadi tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan untuk selanjutnya dititipkan di Rutan Cipinang  per 7 Januari 2020 kemarin untuk menjalani sidang.

 

Penyandang dua gelar doktor (UGM dan UNJ) mantan dosen FKM UI tersebut ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Polda Metro Jaya pada tanggal 5 Juli 2019 setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan mulai dari pemanggilan saksi hingga gelar perkara. Pemeriksaan oleh Penyidik Polda Metro Jaya sebagai tindak lanjut laporan Amir Hamzah Dilaga dengan Laporan Polisi Nomor LP/4277/IX/2016/PMJ Dit-Reskrimum tanggal 5 September 2016.

 

"Saya sangat mengapresiasi langkah pihak kepolisian dan kejaksaan yang telah memproses laporan saya terkait tindak pidana yang dilakukan Hafiz.  semoga hal serupa tidak terjadi di kemudian hari," ungkap Amir Hamzah di Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (7/1/2020).

 

Menurut Amir, yang dilakukan Hafizurrachman tersebut selain pidana tapi juga mencoreng citra seorang dosen yang sejatinya menjadi teladan bagi para peserta didik dan masyarakat terlebih lagi yang bersangkutan memiliki gelar doktor dari universitas ternama dan MPH dari Amerika.

 

Dengan terbuktinya tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Hafizurrachman, Amir juga berharap Mendikbud mencabut atau membatalkan keputusan Menristekdikti No 113/KPT/2017 dan No 116/KPT/2017 masing - masing tanggal 3 Pebruari 2017 tentang Perubahan Badan Penyelenggaraan STIKIM -STIKOM dari YIMA 1999 menjadi YIMA 2003 tidak sesuai dengan peraturan perundang - undangan dan ketentuan yang berlaku,  merugikan pihak lain yang lazim disebut sebagai pebuatan melawan hukum.

 

Kasus ini  berawal pada tahun 1999 pelapor Amir Hamzah Dilaga dan Hafizurrachman bersama 4 (empat)  rekan lainnya mendirikan Yayasan Indonesia Maju Akta No 1 tanggal 2 Juli 1999, Notaris Drs. Andy A. Agus SH selanjutnya disebut YIMA 1999. Pada tahun 2000 YIMA 1999 memperoleh Ijin Pendirian dan Penyelenggaraan STIKIM.

 

Pada tahun 2002 diadakan rapat pendiri YIMA 1999 dengan salah satu keputusannya antara lain "Menyetujui pembubaran YIMA 1999".

 

Persetujuan tersebut  tidak dilaksanakan karena bertentangan dengan BAB X Pasal 62 UU Yayasan. Setahun kemudian pada tanggal 1 Agustus 2003 YIMA 1999 memperoleh Ijin penyelenggaraan STIKOM (membuktikan bahwa YIMA 1999 tidak  bubar dan masih tetap eksis).

 

Pada tanggal 4 September 2003 tersangka Hafizurrachman mendirikan Yayasan baru dengan nama yang sama yaitu Yayasan Indonesia Maju Akta No 3 tanggal 4 September 2003, Notaris R. Hendro N. Asmoro SH selanjutnya disebut YIMA 2003, sekaligus membuat pernyataan sepihak yaitu membubarkan YIMA 1999 dan mengalihkan perijinan STIKIM-STIKOM dari YIMA 1999 kepada YIMA 2003 tanpa hak dan tanpa sepengetahuan pendiri lainnya.

 

Nama Yayasan yang sama dilarang oleh Undang - Undang Yayasan pasal 15 ayat (1) huruf a,

 

Pada tanggal 15 Pebruari 2006 YIMA 1999 menyesuaikan Anggaran Dasarnya dengan UU Yayasan sekaligus berganti nama menjadi Yayasan Indonesia Sakti,  selanjutnya disebut YIS d/h YIMA 1999, dengan kata lain sejak 15 Pebruari 2006 Badan Penyelenggaraan STIKIM - STIKOM adalah YIS d/h YIMA 1999.

 

Perubahan anggaran Dasar dan nama YIMA 1999 menjadi YIS membuat Hafizurrachman gugat dan laporkan Amir Hamzah Dilaga  secara Perdata di PN Jakarta Selatan dan Pidana di Polda Metro Jaya dengan pokok aduan bahwa YIMA 1999 sudah sah bubar sesuai keputusan rapat pendiri YIMA 1999 semenjak 22 Agustus 2002.

 

Gugatan dan laporan bahwa YIMA 1999 telah sah bubar tanggal 22 Agustus 2002 ditolak oleh Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap,  bahkan Amar putusan hakim dalam rekonpensi menyatakan YIMA 1999, sah, berlaku, belum bubar dan masih eksis dengan pertimbangan hakim bahwa rapat pendiri YIMA 1999 tidak dapat membubarkan YIMA 1999 karena berbenturan dengan BAB X Pasal 62 UU Yayasan.

 

Karena pembubaran YIMA 1999 ditolak oleh Pengadilan maka Hafizurrachman menotarilkan hasil rapat pendiri YIMA 1999 pada tangfal 22 Agustus 2002 yang sudah berganti nama menjadi YIS melalui Akta No 3 tanggal 13 Juli 1999, Noraris Sukarmin SH,  MKn secara melanggar hukum dan tidak mengindahkan keputusan pengadilan.

 

Atas dasar Akta yang berisi keterangan palsu tersebut Dirjen AHU mencatat YIS dalam daftar Yayasan bubar pada tanggal 22 Pebruari 2010 tanpa ada bukti legal administrasi sebagaimana dimaksud pada BAB X oasal 62 UU Yayasan secara melanggar hukum dan merugikan pihak lain.

 

Oleh karena pencatatan YIS dalam daftar Yayasan bubar bertentangan dengan BAB X Pasal 62 UU Yayasan, putusan pengadilan dan diduga berisi keterangan palsu maka Amir Hamzah Dilaga melapor Hafizurrachman dalam perkara tindak pidana pemalsuan keterangan ke dalam Akta No 3 tanggal 13 Juli 2009 pada tanggal 5 September 2016 di Polda Metro Jaya. Atas laporan tersebut maka pada tanggal 5 Juli 2019 Hafizurrachman ditetapkan sebagai tersangka dan pada tanggal 20 Desember menjadi tahanan Polda Metro Jaya.