Mencegah Banjir di Jabodetabek, Kalangan Dewan Dukung Rekayasa Cuaca

Harian Terbit/Sammy
Mencegah Banjir di Jabodetabek, Kalangan Dewan Dukung Rekayasa Cuaca
Suasana mendung di Jakarta (ist)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan ekstrem berpotensi akan kembali melanda Indonesia dari Minggu (5/1/2020) hingga Rabu (15/1/2020). 

Terkait hal itu, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Mohamad Taufik, mendukung dilakukannya rekayasa cuaca guna meminimalisir atau mencegah potensi terjadinya banjir di Jabodetabek.

Taufik mengatakan, rekayasa cuaca menjadi bentuk pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk membuat hujan ekstrem tidak menyebabkan terjadinya banjir.

"Melalui rekayasa cuaca itu, hujan bisa diarahkan di wilayah lautan. Sehingga, potensi terjadinya banjir di wilayah daratan bisa diminimalisir," ujarnya, di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Kamis (9/1/2020).

Ia menambahkan, meskipun sudah dilakukan rekayasa cuaca, kesiapsiagaan dan kewaspadaa perlu terus dilakukan.

"Saya minta seluruh Organisasi Perangkat Daerah di Pemprov DKI harus terus siaga serta mengimplementasikan early warning system dan melakukan mitigasi bencana dengan baik," terangnya.

Tidak kalah penting, sambung Taufik, semua pompa, baik stasioner maupun mobile, termasuk yang ada di underpass-underpass harus dipastikan dalam kondisi prima dan siap digunakan.

"Saya kira, semua yang menjadi langkah antisipatif dan penanganan terkait banjir harus dimaksimalkan," tandasnya.

Untuk diketahui, Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta TNI melakukan rekayasa cuaca untuk mengurangi intensitas hujan di kawasan Jabodetabek. Hasilnya hujan dengan intensitas sedang sampai lebat berhasil dialihkan ke laut sebelum memasuki Jabodetabek.

Teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang diterapkan adalah menyebar Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 6,4 ton menggunakan dua pesawat jenis CN 295 dan Casa 212-200. Hal itu dilakukan dengan tujuan menyemai awan di barat daya, barat, dan barat laut.

Melalui penyemaian yang dilakukan, hujan berhasil diturunkan di Laut Jawa yang ada di barat laut Jabodetabek dan kawasan Selat Sunda yang ada di barat daya Jabodetabek.

Antisipasi 

Adapun pihak BMKG memperkirakan hujan ekstrem berpotensi akan kembali melanda Indonesia dari Minggu (5/1/2020) hingga Rabu (15/1/2020). Pemerintah pun mulai memodifikasi cuaca dengan cara menyebar garam untuk memecah awan dan mengimbau masyarakat waspada.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan prakiraan cuaca ekstrem dipicu oleh fenomena madden julian eselasion , yaitu pergerakan aliran udara basah dari timur Afrika ke Samudera Hindia lalu melewati Indonesia dan berakhir di Samudera Pasifik.

"Tanggal 5 hingga 10 (Januari 2020) masuk lewat Sumatera Barat, pantai barat, lalu ke Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Jawa, termasuk Jabodetabek, Jawa Barat hingga Jawa Timur. Dampaknya terjadi hujan dengan intensitas tinggi atau lebat bahkan bisa ekstrim," kata Dwikorita di Gedung II BPPT,

Kemudian, kata Dwikorita, pada 11 Januari 2020 pergerakan udara akan berarak-arakan menuju wilayah timur seperti Kalimantan hingga tiba di Sulawesi pada 15 Januari dan berakhir di Samudera Pasifik.

"Ini prakiraan BMKG, mohon diperhatikan oleh masyarakat. Hujan akan meningkat menjelang malam hari sampai dini hari," tegas Dwikorita.

Menurut Dwikorita, prakiraan cuaca ini berbeda dengan hujan lebat yang mengguyur Jakarta pada 1 Januari 2020 lalu.

Dwikorita mengatakan hujan lebat pada saat perayaan tahun baru lalu disebabkan oleh gejala cold surge atau seruak atau terobosan udara dingin yang masuk lewat Laut China Selatan akibat pengaruh dari perbedaan tekanan udara di China, Tibet, dan Hong Kong.

#Cuaca   #hujan   #banjir   #jakarta