Serbu Kedubes China, Puluhan Ribu Orang Ikuti Aksi Bela Uighur

Alee/Danial
Serbu Kedubes China, Puluhan Ribu Orang Ikuti Aksi Bela Uighur
Istimewa

Jakarta, HanTer - Diperkirakan puluhan ribu orang menghadiri Aksi Bela Uighur di depan Kantor Kedutaan Besar China, Jumat (27/12). Aksi ini digelar karena Pemerintah China telah menindas etnis Uighur dan sudah menjadi persoalan umat Islam sedunia, termasuk Indonesia.

Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif mengemukakan aksi unjuk rasa yang diikuti massa ormas dan umat Islam dari berbagai daerah itu
untuk menentang penindasan terhadap etnis Uighur. “Hadir lebih 10 ribuan orang," kata Slamet, Kamis (24/12).

Selain PA 212, Front Pembela Islam (FPI) juga bakal turut serta dalam aksi menentang penindasan etnis Uighur di depan kantor Kedubes China. Surat edaran telah diterbitkan.

Dalam surat, DPP FPI menginstruksikan anggota dan simpatisan seluruh Indonesia untuk datang ke Jakarta mengikuti aksi unjuk rasa.

"Kepada FPI di seluruh Indonesia agar turun ke Jakarta pada hari Jumat, 27 Desember 2019, untuk mengikuti Aksi Bela Muslim Uighur bersama GNPF, PA 212, para habaib, ulama, santri, ormas Islam dan Umat Islam di Kedubes China," mengutip bunyi surat edaran DPP FPI yang diterbitkan 18 Desember lalu dilansir CNN Indonesia.

Kamp Re-dukasi

Dalam surat itu, Ketua Umum FPI Ahmad Sobri Lubis mengatakan pihaknya mengecam dan mengutuk keras tindakan pemerintah China terhadap etnis Uighur. Dia menilai tindakan yang dilakukan oleh China terhadap etnis Uighur sudah tidak bisa lagi ditolerir.

Sobri mengaku telah menerima informasi bahwa etnis Uighur di China dilarang memiliki dan membaca Alquran. Pemerintah China, lanjutnya, juga mewajibkan etnis Uighur mengikuti kamp re-edukasi.

"Kami akan melakukan aksi nasional di depan Kedubes China atau Tiongkok pada hari Jumat, 27 Desember 2019, pukul 13.00 WIB atau salat Jumat," ujar Sobri di Jakarta, Jumat (20/12).

Pemerintah China disorot negara-negara lain, termasuk Indonesia, lantaran diduga melakukan tindakan keras terhadap etnis Uighur dan minoritas muslim.

Akan tetapi, Pemerintah China membantah kamp Xinjiang digunakan untuk menindas etnis Uighur. Mereka mengklaim kamp tersebut digunakan untuk melatih keterampilan etnis Islam Uighur.

Harus Bersikap

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mendukung dan meminta aksi bela Uighur berjalan damai dan pesan dukungan untuk Uighur dari aksi itu mendunia.

"Aksi nanti saya harap berjalan tertib, damai dan memang menjadi kegelisahan kita bersama bagaimana respon ummat Islam Indonesia, saya harap pihak Kedubes Tiongkok bisa memfasilitasi dan menjelaskan kepada massa sejernihnya masalah ini,” kata Abdul Kharis dalam keterangan pers  kepada wartawan di Jakarta, Kamis  (26/12/2019).

Dia juga meminta Dubes Tiongkok harus melihat bahwa aksi nanti adalah solidaritas ummat Islam terhadap saudara mereka dibelahan bumi lainnya wabil khusus Xinjiang, Tiongkok sehingga pesan aksi ini bisa sampai Beijing dengan baik.

Abdul Kharis mengatakan sepakat dengan langkah pemerintah Indonesia untuk tidak ikut campur urusan dalam negeri China terkait muslim Uighur. Namun Abdul Kharis Almasyahari meminta pemerintah untuk menyatakan sikap agar China memberikan kebebasan beragama terhadap warga negaranya.

"Menurut saya harus ada pernyataan sikap. Ya sikap itu bisa saja mengimbau jangan dilakukan pembatasan beribadah, berikan kebebasan untuk menjalankan agama bagi muslim yang ada di Uighur. Ada keberpihakan terhadap penindasan pada muslim Uighur," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari dalam keterangan pers  kepada wartawan di Jakarta, Kamis  (26/12/2019).

#Uighur   #china   #islam