Saat Jabat Gubernur DKI Tidak Dibenahi: Jokowi Baru Sekali Kena Macet Curhat, Rakyat Setiap Hari

Safari
Saat Jabat Gubernur DKI Tidak Dibenahi: Jokowi Baru Sekali Kena Macet Curhat, Rakyat Setiap Hari

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo (Jokowi) terjebak macet sampai 30 menit saat menuju undangan Bank Indonesia (BI) di kawasan Jalan Prof Dr Satrio, Jakarta Selatan. Karuan saja keluhan orang nomor wahid di Indonesia itu ditanggapi berbagai kalangan, yang antara lain menyatakan bahwa warga hampir setiap hari mengahadapi kemacetan.

 

Menanggapi hal tersebut, pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, Presiden Jokowi yang kerap mengeluh dan curhat terkait kondisi saat ini. Terakhir Jokowi curhat mengenai kondisi jalan raya Jakarta sehingga ibu kota negara harus dipindah bisa jadi hanya role play untuk mencari justifikasi suatu tujuan yang sebenarnya kurang tepat. Oleh karena itu dengan curhat maka diharapkan bisa dibenarkan oleh publik.

 

"Sangat jelas ketika menjabat sebagai Gubernur DKI dan mau jadi capres 2014, Jokowi mengatakan, permasalahan kemacetan dan banjir di Jakarta akan mudah teratasi jika dia menjadi presiden," ujar Aminudin kepada Harian Terbit, Senin (2/12/2019).

 

Oleh karena itu, sambung Aminudin, menjadi aneh setelah menjadi Presiden, Jokowi malah mengeluh kemacetan Jakarta untuk dijadikan alasan pindah ibu kota negara. Kepindahan ibu kota negara justru mengkonfirmasi kegagalan Jokowi sendiri mengatasi kemacetan dan berbagai persoalan di Jakarta sebagai ibu kota negara. Harusnya cari solusi bukan malah memindahkan ibu kota negara yang membutuhkan biaya yang besar.

 

Jika memang persoalan macet dijadikan alasan fokus saja terus benahi kemacetan Jakarta. Biaya yang dikeluarkan untuk sektor transportasi Jakarta sudah kelewat banyak seperti MRT dan LRT," jelasnya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang mengatakan, jauh sebelum Jokowi jadi gubernur DKI dan Presiden, kemacetan DKI adalah salah satu problem ibu kota. Oleh karena itu keluhan Jokowi tidak perlu. Apalagi jika disandingkan dengan keluhan rakyat selama ini. Apakah keluhan rakyat selama ini didengar dan diperjuangkan Jokowi. "Apakah presiden dengarkan dan perjuangkan, keluhan rakyat?" tanyanya.

 

Edysa menuturkan, selama menjadi gubernur DKI dan Presiden, maka program yang dikerjakan selama ini apa saja. Menjadi pertanyaan yang dilakukan Jokowi selama ini hanya mengeluh. Padahal Jokowi bisa melakukan pekerjaan untuk mengurus negara tanpa harus mengeluh. Oleh karena itu keluhan yang dilakukan Jokowi selama ini bukan menunjukkan Jokowi sebagai penguasa yang sensitif dan peka terhadap masalah yang dialami rakyat.

 

"Semua itu bukan tiba-tiba terjadi dan bukan juga rakyat biasa yang membuat kebijakan pembangunan serta membangun kerja sama dengan produsen mobil. Artinya mulai dari perencanaan pembangunan sampai penyediaan kendaraan serta pengaturan lalu lintas itu tugas negara. Bukan alasan macet yng membuat ibu kota harus pindah," paparnya.

 

Edysa menilai, curhatan atau keluhan Jokowi i sebenarnya telah menampar muka Jokowi sendiri. Apalagi saat Jokowi menjadi gubernur DKI dan maju memjadi calon presiden, Jokowi berjanji jika menjadi presiden maka akan menyelesaikan kesemrawutan DKI. Tapi hal tersebut tidak dikerjakan. Tapi malah mengusulkan pindah ibu kota negara.

 

"Itu artinya Jokowi lempar tanggung jawab. Dan tak menjawab permasalahan ibu kota," paparnya.

 

Memang Parah

 

Pengamat transportasi asal Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah, Djoko Setijowarno mengatakan, kemacetan di Jakarta memang parah dan menjadi salah satu alasan kuat yang membuat ibu kota negara pindah. "(Kemacetan) salah satu alasannya pindah ibu kota negara," paparnya.

 

Djoko menyebut sebagai solusi sebelum ibu kota negara pindah bisa terwujud maka daerah-daerah yang menjadi penyangga Jakarta juga harus melakukan hal yang sama yakni urai kemacetan arus lalu lintas.

 

Tanggapan Warga

 

Curhat Jokowi juga mendapat tanggapan warga ibukota. "Curhatan itu berlebihan, apalagi Jokowi pernah menjabat Gubernur DKI dan telah jauh- jauh hari mengenal Jakarta sebagai kota dengan tingkat kemacetan yang tinggi. Hanya bedanya, masyarakat yang terkena dampak macet hampir setiap hari nggak curhat," kata Hendri, karyawan swasta.

 

Hendri menduga curhatan Jokowi tersebut bisa jadi untuk mempertegas alasan untuk ide wacana memindahkan ibukota negara RI menjadi lebih kuat. Padahal kemacetan di Jabodetabek telah terjadi belasan tahun lalu, bahkan pernah ada perkataan, lebih mudah benahi kemacetan Jakarta saat menjadi Presiden tapi sudahlah, itu sudah berlalu dan tidak pernah ada realisasinya.

 

“Saya menyarankan agar para pejabat publik dari level teratas harusnya memberikan solusi karena mereka digaji menggunakan uang rakyat dan sepenuhnya bekerja bagi kemaslahatan orang banyak. Bukan bercurhat apalagi tidak memberi solusi atas masalah yang terjadi," tandasnya.

 

Terpisah, Heri Wiyono juga karyawan swasta juga mengatakan, Jokowi seorang pemimpin negara mestinya ketika terjebak macet dalam perjalanan maka tinggal semprot saja pimpinan Polri yang membidangi lalulintas. Tidak pantas seorang pemimpin curhat, maksudnya apa dan melemahkan siapa. "Alasanya semua bisa dikordinasikan dengan baik. Kita saja ada masalah atau ketika nyinyir di medsol kena pasal," paparnya.

 

Sementara itu Bayu Koosyadi, karyawan swasta yang berkantor di kawasan Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat mengatakan, curhatan Jokowi yang terjebak kemacetan arus lalulintas bisa jadi adalah teguran terhadap dirinya sendiri yang tidak sempat menyelesaikan permasalahan Jakarta yakni macet dan banjir ketika masih menjabat gubernur DKI Jakarta.

 

"Kemacetan di ibu kota Jakarta adalah kesalahan kolektif yang terlalu memfokuskan pembangunan di Jakarta khususnya dan pembangunan di Pulau Jawa pada umumnya," paparnya.

 

Yusnir Ocu, penikmat angkutan publik mengatakan, kemacetan Jakarta bukan hal baru. Oleh karena itu mengeluh dengan kemacetan Jakarta adalah cerita basi dan tidak penting. Mengurai kemacetan Jakarta juga tidak cukup dengan mengeluh, contoh kecil saja, kita yang saat ini tinggal di Jakarta dan beraktifitas di Jakarta mengeluh setiap hari macet. Padahal kita sendiri naik motor atau mobil. Padahal kita tau sumber macet itu adalah mobil dan motor.

 

Apalagi, katanya, yang mengeluh itu seorang presiden yang juga pernah memimpin kota ini. mengeluarkan kata yang pesimis menurut saya itu. Seharusnya dia bukan mengeluh, tapi malah mengajak masyarakat untuk menggunakan angkutan umum biar macetnya kurang. itu jauh lebih baik dari pada mengeluh.

#Jokowi   #macet   #jakarta