Program Return to Work BPJAMSOSTEK Tekan Angka Pengangguran

Arbi
Program Return to Work BPJAMSOSTEK Tekan Angka Pengangguran
Kegiatan Evaluasi dan Koordinasi Program Return to Work (RTW) kepada Rumah Sakit Pusat Layanan Kecelakaan Kerja (PLKK) di Jakarta , Senin (25/11/2019).

Jakarta, HanTer – BPJAMSOSTEK Kantor Cabang Jakarta Menara Jamsostek menggelar Evaluasi dan Koordinasi Program Return to Work (RTW) kepada Rumah Sakit Pusat Layanan Kecelakaan Kerja (PLKK) di Hotel Grand Melia, Jakarta Selatan, Senin (25/11/2019).

“Kegiatan ini rutin, selama 2019 ini yang ketiga kalinya digelar. Kali ini, kita ingin memperdalam informasi terkait Program Return to Work (RTW) kepada mitra rumah sakit PLKK yang bekerjasama dengan BPJAMSOSTEK,” jelas Kepala Bidang Pelayanan BPJAMSOSTEK Cabang Menara Jamsostek, Melati Ratimanjari dalam kesempatan tersebut.

Melati memaparkan, Return to Work (RTW) atau kembali bekerja merupakan manfaat tambahan dari Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). RTW ini mencakup proses rehabilitasi dan pelatihan kerja bagi kasus peserta yang mengalami kecelakaan kerja maupun terinfeksi penyakit akibat kerja.

“Program ini bertujuan untuk mencegah pekerja menjadi pengangguran usai mengalami kecelakaan kerja. Dulu dengan tingkat kecacatan akibat kecelakaan kerja membuat tingkat pengangguran tinggi. Sekarang Alhamdulillah dengan program RTW banyak yang bisa kembali bekerja. Kalaupun perusahaannya tidak bisa menerima karena kecacatannya, kita berikan pelatihan keterampilan baru hingga bisa diterima di tempat kerja lain,” jelas Melati.

Dalam prosesnya, lanjut Melati, jika pekerja mengalami kecacatan akan diberikan rehabiltasi dan alat bantu, kemudian diberikan pendampingan dan motivasi untuk kembali bekerja. “Dalam rehabilitasi medis kita pantau hingga pulih. Kita bekerjasama dengan BLK (balai latihan kerja) dan job fair,” katanya.

Melati memaparkan, dalam waktu dekat BPJAMSOSTEK juga akan mendatangkan alat bantu gerak dengan teknologi bionik guna membantu mempercepat kesembuhan pekerja yang membutuhkan rehabilitasi medik. Alat ini nantinya akan dikerjasamakan dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

“Kita juga informasikan kepada semua RS PLKK nanti bisa melakukan rujukan untuk kasus-kasus kecelakaan berat yang membutuhkan rehabilitasi medik bisa merujuk ke RSCM,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, peserta yang merupakan perwakilan dari RS PLKK mempertanyakan terkait penyakit akibat kerja yang terjadi terhadap petugas kesehatan di rumah sakit, seperti petugas yang tertular virus HIV karena tertusuk jarum suntik dari pasien.

“Dalam kasus penyakit akibat kerja, BPJAMSOSTEK baru bisa menanggung biaya pengobatan jika diagnosis dari dokter sudah tegak atau sudah dipastikan infeksi tersebut benar-benar penyakit akibat kerja. Untuk kasus tertusuk jarum suntiknya, itu merupakan kecelakaan kerja, namun untuk memastikan infeksi yang terjadi merupakan penyakit akibat kerja harus melalui tujuh tahap pemeriksaan yang nantinya akan dinilai oleh dokter penasehat,” papar Melati.

Lebih jauh, Melati yang mewakili Kepala Kacab BPJAMSOSTEK Jakarta Menara Jamsostek Agoes Masrawi menuturkan bahwa selama menjalani pengobatan dan tidak bekerja setiap peserta akan mendapatkan santunan berupa penggantian gaji. Nilainya sendiri adalah 100 persen untuk tiga bulan pertama, 75 persen untuk 6 bulan selanjutnya, dan 50 persen hingga pekerja dinyatakan sembuh.

“Sekarang kita juga punya Program Vokasi Indonesia Bekerja, yang memberikan pelatihan peningkatan keterampilan dan pemberian keterampilan baru bagi pekerja yang putus kontrak atau mengalami PHK,” jelasnya. (Arbi)