Diduga Ada Kriminalisasi, Bebaskan Rio Wijaya

Safari
Diduga Ada Kriminalisasi, Bebaskan Rio Wijaya

Jakarta, HanTer - Ketua Serikat Pekerja (SP) JICT Hazris Malsyah menduga ada  kriminalisasi lewat laporan balik manajemen terhadap aktivis serikat pekerja JICT Rio Wijaya. Oleh karena itu laporan balik terhadap Rio bisa dikatakan sebagai bentuk serangan balik yang sistematis terhadap aktivis serikat pekerja. 

"Suara kritis pekerja dibungkam dan iklim pemberangusan serikat di JICT telah mengancam hak-hak dan keamanan pekerja," ujar Hazris di Jakarta, Senin (25/11/2019).

Hazris mengungkapkan, adanya dugaan kriminalisasi tersebut maka menjadi alasan pekerja pelabuhan dan gerakan buruh bersama rakyat (GEBRAK) serta Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) untuk menyuarakan keadilan untuk Rio Wijaya dan mendesak. Oleh karena itu pihaknya mendesak segera bebaskan Rio Wijaya dan hentikan kriminalisasi.

"Selain itu hentikan serangan terhadap aktivis serikat pekerja baik di JICT maupun di tempat kerja lainnya," tandasnya.

Hazris menyebut, beberapa fakta kejanggalan kasus kriminalisasi Rio antara lain, dari bukti visum, Rio dicekik dan ada luka benda tumpul di belakang kepala serta retak di rusuk kiri. Kekerasan apalagi pengeroyokan dalam lingkungan kerja seharusnya tidak boleh terjadi.  Dengan kata lain, manajemen JICT gagal dalam menjamin lingkungan kerja tanpa kekerasan.   

"Rio dilaporkan balik atas tuduhan penghinaan di facebook dan penganiyaan. Tidak ada bukti kuat karena Rio tidak menyebutkan nama siapapun di facebook. Selain itu menjadi tanda tanya bagaimana Rio bisa melakukan penganiyaan sementara dari bukti visum, Rio lah yang dikeroyok secara brutal," paparnya.         

"Dari UU yang dikenakan kepada Rio, seharusnya tidak bisa dijadikan alasan penahanan. Kecuali ditentukan oleh Jaksa lewat dakwaan," tambahnya.

Hazris juga meminta manajemen JICT untuk menjamin lingkungan kerja tanpa kekerasan dan anti-serikat. Oleh karena itu tangkap dan segera adili pelaku pengeroyokan Rio Wijaya. Adapun elemen buruh yang menuntut Rio dibebaskan yakni Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) dengan anggota, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

Selain itu, Konfederasi Serikat Nasional (KSN), Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN), Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI), Jaringan Komunikasi SP Perbankan, Sekolah Mahasiswa Progresif, Pergerakan Pelaut Indonesia, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), Aksi Kaum Muda Indonesia (AKMI), Perempuan Mahardhika, LMND-DN, Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEEER), Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (SEMAR UI), dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA).

Kekerasan yang dialami Rio terjadi pada tanggal 20 Agustus 2019. Kala itu Rio dikeroyok di ruang sekuriti perusahaan oleh dua orang supervisi sekuriti JICT (YA) dan (SA) dan satu orang pegawai organik Pelindo II (A) tanpa alasan yang jelas. 
  
Dengan bekal bukti visum, Rio melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya. Selang beberapa minggu, dua pelaku (YA) dan (A) telah ditangkap dan ditahan. Saat ini satu pelaku (SA) masih dalam pencarian. Namun Rio dilaporkan balik oleh manajer sekuriti JICT (LIM) di Polres Pelabuhan (KP3) terkait dengan tuduhan penghinaan facebook (UU ITE) dan tuduhan penganiayaan kepada (YA). 

Rio akhirnya ditahan di Polres Pelabuhan pada Kamis (21/11/2019) pukul 21.30 WIB dan dikenakan pasal 45 Ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE, dan Pasal 351 KUHP dan 352 KUHP tentang penganiayaan.