Sidang Gugatan Perdata, PT Garuda Indonesia Harus Bayar Kerugian PT SJL

Safari

Jakarta, HanTer - Sidang gugatan yang diajukan PT Sumber Jaya Limec Cargo (SJL) terhadap maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Sidang Kamis (21/11/2019) ini merupakan kali ketiga yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Agustinus Setya Wahyu Triwiranto dengan agenda pemeriksaan dokumen  penggugat dan tergugat.

 

Dalam sidang ketiga ini berlangsung singkat yakni sekitar 30 menit. Sidang selanjutnya akan digelar Kamis (28/11/2019) mendatang.

 

Reinhart Frans Cesar, SH.,MH, kuasa hukum PT SJL mengatakan, sesuai Peraturan Mahkamah Agung (Perma)

Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan maka terbuka damai atau mediasi antara penggugat dan tergugat. Namun persoalannya bukan masalah damai atau tidak damai antara PT SJL dan Garuda Indonesia. Namun bagaimana kerugian yang dialami PT SJL dibayar oleh PT Garuda Indonesia.

 

"Karena dari kerjasama dengan PT Garuda Indonesia, PT SJL mengalami kerugian yang nilainya juga cukup besar. Total kerugian materil dan immateril yang dialami PT SJL sekitar Rp17 miliar. Makanya kami mengajukan gugatan melawan hukum," ujar Reinhart Frans Cesar, SH.,MH, yang didampingi Try Sarmedi Saragih, SH., MHum di PN Jakarta Pusat, Kamis (21/11/2019).

 

Reinhart menegaskan, atas kerugian PT SJL, maka PT Garuda Indonesia, sebagai perusahaan BUMN harus bersikap bijaksana. Apalagi selama menjadi mitra PT SJL juga memberikan keuntungan yang tidak sedikit untuk PT Garuda. Dalam tiga tahun terakhir rata-rata PT SJL memberikan keuntungan kepada PT Garuda Indonesia sekitar Rp60 miliar.

 

"Dengan keuntungan sebesar itu maka atas dasar apa PT Garuda Indonesia memutus sepihak kepada PT SJL. Ada dokumen - dokumen yang dimiliki PT SJL dalam memberikan keuntungan kepada PT Garuda Indonesia," tegasnya.

 

Terpisah Direktur Utama PT SJL

Lim Bendy mengakui, selama pemutusan sepihak tersebut memang perusahannya mengalami kerugian. Karena selama 8 bulan ini tidak ada pemasukan. Sementara pihaknya harus tetap menggaji para karyawan. Setiap bulannya hampir Rp 150 juta biaya operasional perusahaan. Biaya tersebut belum termasuk gaji karyawan PT SJL.

 

Diketahui pemutusan keagenan sepihak oleh Kargo Garuda dilakukan melalui surat nomor GARUDA/JKTGCA/20049/19 pada 4 Februari 2019 yang ditandatangani oleh Pjs GM Cargo Sales Area Jakarta Raya Anandhito Prakoso. Dalam surat pemutusan keagenan itu disebutkan, merujuk pada syarat dan ketentuan keagenan kargo domestik dan internasional pasal 18 mengenai pencabutan status keagenan kargo.

 

Padahal SJL merupakan mitra bisnis dibidang keagenan kargo udara yang sudah 15 tahun. Kontribusi SJL ke Kargo Garuda cukup besar. Bahkan agunan untuk menjalin kerjasama dengan Garuda juga telah diberikan oleh SJL. Namun pada tahun 2019, pasca pergantian jajaran direksi PT Garuda Indonesia, secara tiba-tiba status keagenan PT SJL dicabut tanpa alasan yang jelas. Melalui email dengan surat pemutusan keagenan kargo domestik nomor Garuda/JKTGCA/20049/19 tanggal 4 Febuari 2019 dan Surat Pemutusan Keagenan Kargo Domestik Nomor Garuda/MESAM/20064/19 tertanggal 5 Febuari 2019.

 

Sementara itu, saat diminta tanggapannya terkait gugatan tersebut VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M. Ikhsan Rosan belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi dan dikontak melalui  WA, Rosan belum menjawab mengenai hal itu.