Para Pelaku Penistaan Agama Tak Ditangkap, Bom Waktu Bagi Jokowi

Safari
Para Pelaku Penistaan Agama Tak Ditangkap, Bom Waktu Bagi Jokowi

Jakarta, HanTer - Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anton Tabah Digdoyo menegaskan, jika pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) melakukan pembiaran terhadap kasus-kasus penistaan agama termasuk pembiaran korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), sama saja Jokowi memasang bom waktu. Bom tersebut akan meledak dahsyat meluluhlantakkan pemerintahannya.

"Ingat, penistaan agama masuk crime index sangat serius hingga Indonesia punya UU khusus selain KUHP dan fatwa Mahkamah Agung (MA) agar hakim memvonis optimal penista agama, ujar Anton Tabah Digdoyo melalui saluran telepon, Minggu (17/11/2019).

Anton juga menegaskan, terhadap kasus penistaan agama harusnya aparat juga langsung bertindak, tidak perlu menunggu laporan dari masyarakat karena penistaan agama bukan delik aduan tapi delik umum. Oleh karena itu polisi harus langsung memproses hukum para pelaku penista agama. Karena saat ini pemerintah dan aparat sepertinya cuek dan terkesan melakukan pembiaran terkait dugaan kasus penistaan agama yang semakin marak di negeri ini.

Di antara dugaan pelaku penista agama yang hingga kini belum tersentuh hukum yakni dosen UI Ade Armando yang pernah mengatakan tidak perlu lagi menghafal Al Quran di zaman digital saat ini. Dia juga meminta perguruan tinggi negeri tidak diskriminatif dengan hanya menerima kepada penghafal Al Quran. Tidak sampai disitu, Ade juga menyebut, penghafal Al Quran disebutkannya tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan.

Hina Nabi

Terbaru, putri Presiden pertama Soekarno, Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri yang biasa dipanggil Sukmawati juga telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya lantaran membuat pernyataan yang membandingkan Proklamator Ir Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, Sukmawati juga pernah dilaporkan atas kasus dugaan penistaan agama soal azan dan cadar. Namun, polisi akhirnya menerbitkan SP3 karena mengaku tidak menemukan unsur pidana.

Anton Tabah mengatakan, sejak Orde Baru (Orba) sampai era reformasi masa Presiden SBY, pemerintah selalu sigap dan cepat menangani kasus penistaan agama. Alasannya, karena derajat keresahan umat sangat tinggi. Di era Orba kasus penistaan agama yang menonjol adalah Arswendo Atmowiloto yang membuat polling di Tabloid Monitor, siapa tokoh yang berpengaruh.

Arswendo meletakkan dirinya di atas nama Nabi Muhammad SAW. Arswendo pun akhirnya dipenjara maksimal 5 tahun tanpa remisi. Sedangkan di era SBY, ada dua kasus yaitu Lia Eden yang mengaku Malaikat Jibril dan Ahmad Musadeq yang mengaku Nabi. Dua-duanya diproses cepat dan dipenjara 3 tahun dan tanpa mendapatkan remisi.

"Lha, di era Jokowi ini ada satu kasus yang nonjol yaitu Ahok yang bilang jangan mau ditipu Al Quran. Ini kasus sangat berat tapi nyaris tak tersentuh hukum sehingga muncul aksi 411 dan 212," ujarnya.

Sikap Polri

Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin mengatakan, yang membuat banyak pihak melakukan penistaan agama karena sikap Polri yang belum tegas. Padahal sudah sangat banyak pelaporan terhadap pelaku dugaan penistaan agama. Oleh karena itu Novel berharap dengan Kapolri yang baru bisa dengan cepat merespon masalah penistaan agama. Karena penistaan agama merupakan kasus sensitif yang sangat mengancam kesatuan bangsa.

"Dari beberapa kasus hanya Ahok yang bisa diproses hukum sampai tuntas, itupun karena umat Islam melakukan aksi bela Islam hingga 7 jutaan orang dengan aksi yang berjilid-jilid," ujarnya.

Novel mengungkapkan, sampai kapan penistaan agama akan terus terjadi maka jawabannya ada di para pimpinan negeri ini, mulai dari presiden, wakil presiden, menteri, DPR, dan jajaran petinggi atau pejabat negara ini dari eksekutif, yudikatif dan legislatif. Para petinggi tersebut mayoritas beragama Islam oleh karena itu harus setia kepada Pancasila mengamalkan sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa yang unsur ketuhanan agama manapun dilarang untuk dinistakan.

Dipolisikan

Koordinator Laporan Bela Islam (Korlabi) Damai Hari Lubis jug telah melaporkan Putri Presiden pertama Soekarno, Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri yang biasa dipanggil Sukmawati dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama, Jumat (15/11/2019). Sukmawati dilaporkan terkait pernyataan yang membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW. Laporan tersebut diterima Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP/7393/XI/2019/PMJ/Ditreskrimum.

"Ya Sukmawati dilaporkan oleh anggota Korlabi," ujar Ketua Korlabi, Damai Hari Lubis, Minggu (17/11/2019).

Damai menjelaskan, pelapor sebagai seorang muslim kecewa dengan pernyataan Sukmawati yang dinilai menghina dan menistakan Nabi Muhammad SAW. "Seorang muslim yang kecewa karena merasa panutannya nabi besar Muhammad Rasulullah SAW dihina atau dinistakan laporkan Sukmawati atas pernyataannya," ujarnya.

Sebelumnya, Sukmawati menjelaskan maksud pernyataannya terkait Bung Karno lebih berjasa di awal abad ke-20 untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Sukmawati mengaku saat itu bertanya pada awal abad ke-20, yang berjuang memerdekakan Indonesia itu Yang Mulia Nabi Muhammad SAW atau Insinyur Soekarno? Pertanyaan tersebut dia lontarkan kepada mahasiswa dan generasi muda saat acara Focus Group Discussion (FGD) Divisi Humas Polri bertajuk ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’ di Jakarta Selatan pada Senin (11/11/2019) lalu.

Tujuannya bertanya soal itu menurut Sukmawati adalah ingin mengetahui apakah generasi muda paham dengan sejarah Indonesia atau tidak.

“Ya bertanya, saya ingin tahu jawabannya seperti apa, fakta sejarahnya, pada ngerti enggak sejarah Indonesia? Terus dijawab mahasiswa itu Insinyur Soekarno,” ujar Sukma, Jumat (15/11/2019).

Maka dari itu, Sukmawati menegaskan tidak ada maksud untuk melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW atau membandingkannya dengan Proklamator negeri ini. Dia menjelaskan, pertanyaan itu konteksnya terkait kemerdekaan Republik Indonesia di awal abad ke-20. Sementara para Nabi sudah meninggal dunia pada awal abad 20.

“Ibu hanya bertanya, menurut fakta sejarah di abad 20 di mana pastinya kan nabi sudah tidak ada. Selama ini kan saya agak merasa generasi muda tahu sejarah kemerdekaan yang berdarah-darah enggak sih, itu yang saya ingin tahu juga. Saya mau bertanya saja, di awal abad 20,” tuturnya.