Kader Pertamina Harus Diberi Peluang Jabat Dirut, Pengamat: Direksi Pertamina dan PLN Bukan Tokoh Eks Napi

Harian Terbit/Danial
Kader Pertamina Harus Diberi Peluang Jabat Dirut, Pengamat: Direksi Pertamina dan PLN Bukan Tokoh Eks Napi
Mobil tanki pertamina usai melakukan pengisian bbm

Mencuatnya nama Basuki T. Purnama (Ahok), yang terus menjadi perbincangan publik, lantaran bakal menduduki posisi penting di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai tanggapan dari berbagai kalangan.

Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand berpendapat, kriteria yang pas untuk posisi komisaris utama dan direksi di Pertamina maupun PLN adalah orang yang tidak pernah dihukum (eks napi) oleh pengadilan atas sebuah perbuatan melanggar hukum baik pidana umum maupun pidana korupsi atau masalah hukum lainnya.

“Juga seorang tokoh yang memiliki jaringan dan pengalaman dan pemahaman yang luas dibidang energi baik energi terbarukan maupun energi tak terbarukan. Juga mereka yang harus berpendidikan sesuai bidangnya, minimal S2,” kata Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Selain itu, lanjut Ferdinand, calon komisaris dan direksi Pertamina-PLN harus mempunya jaringan, pengalaman dan hubungan yang baik dengan partai politik di DPR. “Akan lebih baik lagi jika punya pengalaman sebagai komisaris BUMN serta diterima semua kalangan terutama internal,” papar Ferdinand. 

Pertamina

Sementara itu, pengamat energi yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menyarankan pemerintah juga memberikan peluang kepada kader terbaik Pertamina untuk menjabat sebagai dirut BUMN itu. 

"Sudah saatnya jabatan Dirut Pertamina juga diberikan kesempatan kepada kader terbaik mereka," kata Sofyano dalam keterangan tertulisnya diterima di Pontianak, Jumat.

Karena, menurut dia, hingga saat ini sudah empat kali berturut turut jabatan Dirut Pertamina diisi oleh orang nonkarier dan ternyata hasilnya pun biasa-biasa saja.

"Apakah pemerintah yang berkuasa tidak percaya dengan kemampuan kader atau orang karir Pertamina sehingga tidak menempatkan mereka menduduki kursi Dirut Pertamina tersebut," ujarnya.

Sofyano menambahkan jika nantinya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang terpilih sebagai Dirut Pertamina, maka membuktikan bahwa pemerintah masih tetap tidak "percaya" dengan kemampuan SDM atau orang karir Pertamina sehingga kembali memilih orang luar yang memimpin Pertamina.

"Seperti yang kita ketahui, apakah selama ini Dirut Pertamina dan atau Menteri BUMN tidak berhasil membina orang karir Pertamina sehingga mereka tidak dipercaya dan tidak pantas mendapat kesempatan memimpin Pertamina," katanya.

Didukung

Relawan Jokowi yang tergabung dalam wadah Organ Relawan Negeriku Indonesia Jaya mendukung Ahok untuk memimpin BUMN karena dinilai mempunyai kompetensi yang sangat cukup.

Koordinator Organ Relawan Negeriku Indonesia Jaya, C Suhadi kepada wartawan di Jakarta, Jumat, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi langkah Menteri BUMN Erick Thohir yang mempertimbangkan Ahok untuk masuk dalam jajaran pimpinan BUMN.

“Ini merupakan langkah yang tepat karena Ahok mempunyai kompetensi, pengalaman, dan dedikasi yang sangat baik untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Ia berpengalaman mengelola keuangan negara, juga bagaimana menghasilkan pertambahan nilai," katanya.

Sebagai relawan dan pengagum Ahok, Suhadi sangat mendukung Ahok menduduki jabatan strategis seperti menjadi Dirut di PT Pertamina (Persero).

Hal itu kata dia, tidak lain karena Pertamina merupakan BUMN yang dapat banyak menghasilkan devisa.

Suhadi juga meminta agar Ahok tidak lagi dikaitkan dengan isu bekas narapidana, karena Ahok sudah menjalani hukuman dan sudah bebas.

“Maka tidak ada rumus yang melarang Pak Ahok untuk jadi pejabat di BUMN, karena undang-undang hanya melarang berkaitan jadi menteri dan atau pengawas KPK, di luar itu boleh,” katanya.