Kontroversi Seputar Penambahan Kursi Wamen

sammy
Kontroversi Seputar Penambahan Kursi Wamen

Jakarta, HanTer - Kontroversi seputar rencana penambahan enam wakil menteri (Wamen) kerap bergulir. Hal tersebut menuai Pro dan kontra di berbagai kalangan.

Pengamat Politik, Ray Rangkuti, menilai, beranjak dimasa periode kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dengan banyaknya Wamen, seolah Jokowi tak lagi menaruh perhatian pada efisiensi pemerintahan. Terlebih, alasan satu kementerian harus menambah posisi Wamen dinilai kurang jelas kriteria dan tujuannya.

Ray, mengatakan, jika keberadaan Wamen untuk membantu beban pekerjaan yang besar, beberapa pos Wamen itu malah kurang tepat.

"Misalnya, Wamen untuk Menteri Pertahanan, Menteri Desa, Menteri Pariwisata/Ekonomi Kreatif, bahkan Menteri Agama. Terlebih, model rekrutmen Wamen-nya dilakukan secara sepihak oleh presiden," katanya di Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, tidak jelas sejauh apa menteri terkait dilibatkan oleh Presiden dalam hal menentukan perlu tidaknya Wamen bagi kementerian yang dipimpinnya. "Dan, siapa kiranya menteri yang layak untuk menempati posisi itu," tukas Ray.

Dirinya melihat, penunjukan Wamen dalam Kabinet Indonesia Maju relatif tidak sejalan dengan efesiensi struktur pemerintahan dan bukan lagi bagian dari visi Presiden Jokowi.

Mengakomodasi

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin, menilai kursi Wamen hanya untuk mengakomodasi pihak-pihak yang berjasa bagi Presiden Jokowi. Bahkan menurutnya, posisi tersebut disinyalir mendapat kursi untuk mencari proyek.

"Karena kita tahu mereka merupakan tim sukses dari parpol dan non-parpol yang ketika Pilpres banyak keluar uang," tandas Ujang di Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Untuk diketahui, Presiden Jokowi telah melantik 12 Wamen pada Jumat, 25 Oktober 2019. 

Agenda Lain

Pengamat politik Hendri Satrio memberikan pandangannya terkait mengapa Presiden Jokowi harus membagi-bagi kursi kabinet. Menurutnya, Jokowi punya maksud lain selain membahagiakan banyak orang dengan membagi jabatan menteri dan wakil menteri dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 ini.

Hendri merasa ada maksud lain Presiden Jokowi akhirnya membagi kabinet untuk banyak golongan dan partai politik. Ada kemungkinan ini adalah persiapan Jokowi setelah tidak lagi menjabat Presiden.

"Presiden pasti melihat presiden-presiden sebelumnya. Bagaimana nasib saya kalau sudah tidak jadi presiden. Kan kalau dia sendirian hari ini menentukan nasibnya sendiri, yang senang itu rakyat. Tapi bagaimana nasib dia nanti setelah tidak jadi presiden lagi," ucap Hendri di Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Hendri merasa nantinya akan ada agenda-agenda lain yang muncul di kemudian hari untuk kepentingan masing-masing golongan dan partai. Sehingga, lanjut dia, tidak heran jika Jokowi mengantisipasi hal itu dengan membagi-bagi kursi kabinet.

Presiden Jokowi mengaku belum ada rencana penambahan Wamen pada Kabinet Indonesia Maju. Pernyataan ini sekaligus menjawab kabar adanya penambahan enam posisi wakil menteri.

"Belum (penambahan wakil menteri, red)," kata Jokowi usai menjadi inspektur upacara peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu (10/11/2019).