Miris, Era Revolusi Industri 4.0 Indonesia Masih Impor Cangkul

Safari
Miris, Era Revolusi Industri 4.0 Indonesia Masih Impor Cangkul
Ilustrasi (ist)

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempertanyakan kenapa Indonesia harus impor cangkul dari negara lain, padahal harusnya bisa memberdayakan usaha kecil di dalam negeri.

Menanggapi impor cangkul ini, pengamat kebijakan publik dari Lembaga Kajian dan Analisa Sosial (LeKAS) Karnali Faisal mengatakan, sangat miris di era revolusi industry 4.0 Indonesia masih impor cangkul. Karena memproduksi cangkul tidak membutuhkan teknologi yang tinggi dan ribet. Oleh karena itu pada dasarnya Indonesia sanggup memproduksi cangkul sendiri. Apalagi bahan baku seperti besi yang juga melimpah di Indonesia.

“Hanya saja, pemerintah juga harus introspeksi mengapa cangkul impor lebih diminati. Ini bisa jadi terkait kualitas produk maupun harga. Maka langkah pemerintah berikutnya adalah bagaimana mendorong industri-industri seperti itu memiliki daya saing," ujar Karnali kepada Harian Terbit, Senin (11/11/2019).

Karnali menuturkan, impor cangkul dipertanyakan karena jika mengutip data Kementerian Perindustrian maka jelas produksi cangkul dalam negeri mencapai 500 ribu unit per tahun. Angka produksi cangkul sebesar itu maka masih bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga tidak perlu impor. Oleh karena itu adanya impor cangkul menunjukkan mentalitas oknum pengusaha yang lebih mengedepankan profit sesaat ketimbang ikut memikirkan kelangsungan hidup anak-anak bangsa.

"Mereka tidak sadar, masuknya barang impor akan membuat produksi dalam negeri tidak laku. Ini tentunya bisa menyebabkan dampak negatif secara berantai baik bagi negara dalam bentuk pemasukan pajak maupun lapangan kerja," tandasnya.

Karnali mengakui, impor cangkul pasti ada pihak yang diuntungkan. Paling tidak oknum-oknum importir yang melakukan aksi profit taking dari impor tersebut. Keuntungan itulah yang membuat mereka tidak memikirkan kelangsungan hidup anak-anak bangsa.

Dilematis

Pengamat masalah sosial masyarakat, Frans Immanuel Saragih mengatakan, masalah impor ini memang dilematis yang dihadapi pemerintah. Karena impor yang dilakukan pemerintah bukan hanya terjadi jenis cangkul saja. Karena impor yang sama terjadi juga terhadap garam, beras dan lainnya. Padahal Bulog menyatakan bahwa persediaan bahan pangan tersebut masih banyak dan aman. 

"Ironisnya, disaat impor pangan berlangsung, tiba - tiba muncul laporan Asian Development Bank (ADB) ada puluhan juta warga kelaparan," ujar Frans kepada Harian Terbit, Minggu (10/11/2019).

Menurut Frans, untuk mengetahui siapa yang bermain terkait impor cangkul maka perlu ada audit, karena tanpa audit yang benar maka akan sulit menemukan penyebab sebenarnya. Perlu tim audit independent untuk membongkar impor cangkul yang pada dasarnya bisa diproduksi di dalam negeri. Impor cangkul dilakukan seolah olah kebutuhan domestik tidak mampu dipenuhi oleh produksi cangkul lokal.

"Impor cangkul juga terjadi tidak hanya baru-baru ini saja, tapi sudah menahun. Dilansir dari media sudah terjadi sejak 2015, tetapi kenapa baru sekarang dipermasalahkan?" tanyanya.

Frans menegaskan, impor cangkul tidak perlu terjadi. Karena saat ini industri besi dan baja juga sudah ada di Indonesia. Tidak heran adanya impor cangkul membuat banyak pihak menjadi miris. Untungnya, adanya impor cangkul menjadi sorotan publik sehingga diharapkan menjadi perubahan dan menghidupkan kembali industri cangkul lokal, besi dan baja yang ada di Indonesia.

"Padahal harga cangkul lokal juga lebih murah dan kualitasnya cukup baik untuk para petani dan pengguna lainnya," paparnya.

Toko Online

Di toko online Bukalapak, harga cangkul khususnya dari impor beragam, ada yang dijual Rp 54.000, Rp 65.000, bahkan ada yang sampai dua kali lipatnya. Salah satu pelapak menjual Kepala cangkul merek 'Buaya' seharga Rp 75 ribu. Ukurannya Panjang 23 cm x Lebar 17 cm dengan berat 1 Kg."Kuat dan tahan lama," kata pelapak mempromosikan.

Di Tokopedia, pedagang menjual sampai Rp 170 ribu untuk satu mata cangkul. "Barang original impor jaminan kuat, tidak sama seperti barang tiruan yang besinya gampang peot dan pecah, jaminan tajam dan awet," tulis pedagang.

BPS mencatat Januari-Agustus 2019. BPS mencatat impor cangkul/garpu cangkul mencapai US$ 93.155, dengan volume 210.575 Kg.Sedangkan data terbaru BPS, impor cangkul sepanjang Januari-September 2019 senilai US$ 101,69 ribu dengan total berat 268,2 ton, alias tak ada kenaikan yang signifikan.