Buka Rapimnas HKTI, OSO: Jangan Bergantung Impor

Danial
Buka Rapimnas HKTI, OSO: Jangan Bergantung Impor
Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (BPO HKTI) Oesman Sapta Odang saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) HKTI, Sabtu (9/11/2019), di Jakarta.

Jakarta, HanTer - Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (BPO HKTI) Oesman Sapta Odang menyatakan bahwa HKTI harus mendorong pertumbuhan ekonomi lewat sektor pertanian. 

Dia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan makmur, kalau daerah belum mencapai kemakmuran. Menurut dia, daerah makmur, bila pertanian sudah mencapai kemakmuran.  

"Kita tidak mungkin harus bergantung terus kepada impor. Sebabnya itu, HKTI harus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pertanian," kata Oesman saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) HKTI, Sabtu (9/11/2019), di Jakarta.   

Rapimnas itu mengangkat tema "Penguatan SDM HKTI Guna Meningkatkan Kinerja Dalam Rangka Mewujudkan Konsolidasi Organisasi". "Ini hari adalah hari kebangkitan HKTI," tegas Oesman.

Mantan ketua DPD yang karib disapa OSO itu mengatakan HKTI harus fokus pada lima program prioritas. Pertama meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani, penyuluh, dan peneliti. 

"Terapkan teknologi, digitalisasi dari hulu sampai ke hilir," kata pria kelahiran Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat, 18 Agustus 1950 itu. 

Kedua, membangun infrastruktur desa seperti air, listrik, jalan, jembatan, gudang, pasar, internet, tempat jemur produk pertanian dan sebagainya. Ketiga, lanjut OSO, permudah regulasi perizinan, industrialisasi, ekspor, dan sebagainya. Keempat, perkuat kelembagaan pertani, yakni dengan memperkuat koperasi dan BUMN sektor pertanian. Kelima, permudah akses pembiayaan atau permodalan.

"Jadi, lima hal ini sanyat penting. Sosialisasikan kepada masyarakat seluruh Indonesia," ungkap OSO yang juga ketua umum Partai Hanura ini.

Dia berulang kali mengatakan bahwa HKTI saat ini adalah organisasi yang paling terbesar di seluruh Indonesia. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Ketua Umum HKTI Jenderal (Purn) Moeldoko,  tercatat anggota HKTI mendekati 70 orang. 

"Kalau pemilu, 70 juta pemilih itu sudah menang. Yang sisanya dibagi dengan yang lain. Jadi, tidak salah kalau Jokowi itu menang, itu karena antara lain adanya HKTI ini," ujarnya. 

OSO juga berulang kali menegaskan bahwa organisai itu butuh 5S yakni trategi, struktur, skill,  sistem, speed and target. "Ini sangat diperlukan, dan merupakan bagian dari perjuangan," katanya.

Lebih jauh OSO juga berharap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang baru menjagar pro aktif bekerja sama HKTI. OSO menilai Syahrul sangat menguasai pertanian. Saat menjadi gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul berhasil memajukan pertanian daerahnya.  

"Jadi, daerah yang dipimpinya surplus produksi pertanian. Kita doakan agar Kementan dengan HKTI terus lengket bekerja sama," pungkas OSO.