Boyamin: Dari Awal Tidak Serius, Kapolri Baru Diragukan Mampu Ungkap Dalang Penganiaya Novel

Safari
Boyamin: Dari Awal Tidak Serius, Kapolri Baru Diragukan Mampu Ungkap Dalang Penganiaya Novel

Presiden Joko Widodo memberikan waktu kepada Kapolri Jenderal Pol Idham Azis yang baru saja dilantik untuk menyelesaikan kasus penyerangan/penganiayaan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan hingga Desember 2019. Bisakah Idham Azis menuntaskan kasus tersebut dengan transparan?

 

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman meragukan kasus penganiayaan terhadap Novel Baswedan bakal tuntas. Pasalnya, saat Idham Azis menjabat Kabareskrim gagal untuk membongkar kasus tersebut. Padahal Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Novel telah dibentuk.  

 

"Maka potensi gagal untuk menuntaskan kasus Novel akan makin besar ketika Pak Idham Azis jadi Kapolri baru," ujar Boyamin Saiman kepada Harian Terbit, Jumat (1/11/2019).

 

Boyamin menilai, kasus Novel akan semakin kabur karena saat ini juga ada aksi saling lempar tanggung jawab dengan Kabareskrim yang baru. Oleh karena itu secara logika bahasa saja sudah nampak tidak adanya keseriusan dari polisi untuk menuntaskan kasus Novel. Padahal publik berharap dengan Kapolri baru bisa menyelesaikan kasus Novel yang saat ini juga telah dibawa ke Amnesty Internasional.

 

"Apapun jika tidak serius maka kegagalan yang akan didapat. Jadi ya (kasus Novel) Polri akan gagal yang kesekian kalinya untuk menemukan pelaku penyiraman Novel," paparnya.

 

Boyamin juga menyebut TPF kasus Novel yang dibentuk Tito juga gagal untuk menemukan pelaku dan motif penyiraman air keras terhadap Novel. Apalagi hasil TPF juga tidak dipublikasikan ke publik. "Nyatanya gagal sampai detik ini tidak mampu menemukan tersangka dan motifnya," tegasnya.

 

Sementara itu, pengamat hukum dari Universitas Nasional (Unas) Dr Ismail Rumadan juga berharap Kapolri baru bisa menunjukkan kinerja yang baik di mata publik, terutama terhadap kasus kasus yang belum tertangani dengan serius pada masa kepemimpinan Kapolri sebelumnya. Kasus Novel adalah satu di antara kasus yang sangat serius dan menjadi tantangan besar bagi Polri untuk mengungkap pelaku dan dalang dibalik kasus tersebut.

 

"Sampai hari ini polisi pun belum menemukan siapa pelaku dan dalangnya, sehingga masyarakat bertanya-tanya apakah polisi serius atau tidak dalam mengungkap kasus Novel. Harapan tentu kepada Kapolri yang baru agar citra Polri di masyarakat bisa dipercaya," paparnya.

 

Menurut Ismail, jika semangatnya untuk memperbaiki citra Polri maka diyakini kasus Novel bisa diselesaikan oleh Kapolri yang baru. Apalagi kasus Novel telah berjalan 2 tahun tanpa diketahui pelaku dan motifnya. Padahal Tim Pencari Fakta (TPF) juga telah dibentuk ketika Kapolri masih dijabat Tito Karnavian.

 

“Saya juga tidak paham apa kesulitannya (untuk mengungkap kasus Novel). Padahal dalam mengusut kasus teroris sangat canggih dan cepat bisa mendeteksi keberadaan pelaku teroris. Kok terhadap kasus Novel polisi nampak tidak profesional," paparnya.

 

Kasus Teror

 

Juru Bicara KPK Febri Diansyah juga berharap selain menuntaskan kasus Novel, Kapolri yang baru juga dapat menuntaskan berbagai kasus teror yang di antaranya menimpa pimpinan KPK. Ketua KPK Agus Rahardjo dan wakilnya Laode M Syarief yang pernah mengalami teror di kediamannya beberapa waktu lalu. Agus diteror dengan bom palsu yang digantungkan di pagar rumahnya. Sedangkan Laode mengalami teror berupa pelemparan bom molotov di rumahnya oleh orang tidak dikenal.

 

"Yang juga sangat penting adalah kita perlu secara serius menyikapi upaya-upaya serangan dan teror terhadap penegak hukum," katanya kepada wartawan, Kamis (31/10/2019).

 

"Misalnya ada teror terhadap rumah dua pimpinan KPK, meskipun rumah ketua KPK disebut pada saat itu yang diletakkan di pagarnya itu adalah fake bomb, tapi di rumah Pak Laode ada molotov yang dilempar saat itu," ungkapnya.

 

Febri mengatakan hingga kini belum diketahui peneror kediaman dua pimpinan KPK tersebut. Ia pun berharap Idham Azis dapat mengungkap pelaku teror itu agar kejadian serupa tidak terulang terhadap para penegak hukum yang lain.

 

DPR Awasi

 

Terpisah, anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan memastikan pihaknya akan terus memantau perkembangan penanganan kasus penyiraman air keras yang dialami Novel Baswedan di era Kapolri baru Idham Azis. Komisi III pun memastikan akan selalu menanyakan perkembangan penanganan kasus Novel Baswedan dalam rapat bersama Kapolri.

 

“Pasti. Setiap saya rapat dengan Kapolri saya selalu menanyakan kasus Novel Baswedan. Saya akan terus mengawasi itu,” ujar Arteria Dahlan di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (1/11/2019)

 

Kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel ini terjadi sejak 2017. Untuk mengungkap kasus tersebut, Kapolri yang kala itu dijabat Tito Karnavian membentuk Tim Pencari Fakta (TPF). Namun hingga tugas TPF berakhir, tidak juga diketahui siapa pelaku dan motif  teror air keras tersebut. Akibat serangan itu membuat mata Novel rusak sehingga harus menjalani perawatan di Singapura.