Ketemu Iwan Bule Jelang Konggres PSSI, La Nyalla: Menpora Harusnya Netral

Danial
Ketemu Iwan Bule Jelang Konggres PSSI, La Nyalla: Menpora Harusnya Netral
Ketua DPD RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengkritik pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dengan salah satu calon Ketua Umum PSSI, Komjen Pol M Iriawan alias Iwan bule.

Jakarta, HanTer - Ketua DPD RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengkritik pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dengan salah satu calon Ketua Umum PSSI, Komjen Pol M Iriawan alias Iwan bule.

Menurut La Nyalla, Menpora Zainudin Amali tidak menjaga netralitasnya jelang Konggres pemilihan Ketua Umum PSSI.

"Menpora yang baru, seharusnya menjaga netralitas menjelang Kongres PSSI yang akan digelar tanggal nopember 2019," ujar La Nyalla, Kamis (31/10/2019).

Pasalnya menurut Dia, Komjen Pol M Iriawan alias Iwan bule masih berstatus calon, belum menjadi Ketua Umum PSSI.

"Seharusnya, jika ingin netral, pak menteri mengundang dan dialok dengan semua Calon Ketua Umum dan Exco. Karena di mata hukum semua calon memiliki hak yang  sama. Pemerintah dalam hal ini Menpora harus netral," tegasnya.

Sebelumnya, Menpora sendiri mengaku tidak akan ikut campur dalam kegiatan Konggres PSSI. Namun dengan pertemuan tersebut, Menpora Zainudin Amali dianggap tidak konsisten dengan ucapannya.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin intervensi ke dalam tubuh PSSI. Terkait carut marut Kongres, Menpora berpegangan pada FIFA.

Kisruh soal pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Komite Eksekutif (Exco) PSSI menjadi pekerjaan rumah buat Zainudin setelah ditunjuk sebagai Menpora dalam Kabinet Indonesia Maju selain tentu saja persiapan Indonesia di ajang SEA Games 2019 di Filipina.

Pada program televisi Mata Najwa episode "Kongres Bisa Apa", Zainudin datang sebagai pembicara. Hadir pula La Nyalla Mattalitti, Vijaya Fitriyasa, dan sejumlah calon Exco, termasuk Esti Puji Lestari selaku calon Wakil Ketua Umum PSSI.

Zainudin tidak berbicara banyak di tengah panasnya perdebatan menyoal Kongres. Namun, ketika ditanya oleh Najwa Shihab mengenai instruksi Presiden Jokowi kepadanya sebagai Menpora dalam kabinet baru, Zainudin menyebut ada kegalauan di tubuh orang no. 1 Indonesia itu.

"Pada saat diskusi dengan Pak Presiden Jokowi, banyak hal yang kami diskusikan, soal pemuda dan olahraga secara keseluruhan. Jokowi menyampaikan kegalauan beliau mengenai prestasi sepak bola di Indonesia, mengapa sulit sekali berprestasi, dan lain sebagainya," tutur Zainudin.

Sadar sepak bola menjadi sorotan utama, Zainudin mengaku bingung karena kondisinya sudah semrawut. Namun, ia memberikan kepercayaan penuh kepada federasi tiap cabang olahraga untuk bekerja sesuai tata cara.

"Sebelum masuk kabinet, saya mengikuti perkembangan sepak bola, carut marutnya luar biasa, mau mulai dari mana saya bingung," ketusnya lagi.

"Kami di Kemenpora memberi kepercayaan penuh kepada tiap cabor untuk bekerja, tapi tetap dalam supervisi kita. Lagipula, masih ada KONI yang memantau perkembangan sepak bola dan olahraga yang lain," sambungnya.

Untuk diketahui, Calon Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti sebelumnya juga  mempermasalahkan mundurnya jadwal Kongres. Pria berusia 60 tahun itu ngotot bahwa FIFA dan AFC telah menyarankan agar Kongres digelar pada 25 Januari 2019.

Seperti diketahui, PSSI mengumumkan bahwa Kongres akan dihelat pada 2 November mendatang. Sempat terjadi adu debat antara La Nyalla dengan Refrizal, calon anggota Exco.

Mengenai hal tersebut, Menpora enggan ikut campur terlalu dalam. Zainudin Amali khawatir langkah pemerintah dianggap intervensi ke tubuh PSSI.

"Kita tidak mau terlalu dalam ikut campur, karena kita takut nantinya dikira pemerintah melakukan intervensi. Dari Pak Presiden juga tidak memberikan instruksi atau arahan khusus, jadi tugas kami akan tetap memantau, memberi dan menerima masuka," tambah Zainudin.

"Kaitan dengan kongres PSSI, tentu kami akan dengarkan masukan-masukan, termasuk dari federasi, dari PSSI itu sendiri. Kami hanya berpegang pada induk Anda. Kalau induknya (FIFA) oke, kita oke. Kalau tidak, ya tidak. FIFA pasti akan menjatuhkan sanksi kalau mereka melihat ada yang tidak benar, kita tidak mau itu," katanya lagi.