TAJUK: Komjen Idham Azis dan Wajah Polri yang Humanis

***
TAJUK: Komjen Idham Azis dan Wajah Polri yang Humanis
Istimewa

Banyak mengapresiasi Komjen Pol Idham Aziz menjadi calon tunggal Kapolri. Terkait hal itu berbagai harapan disampaikan kepada Idham dan sejumah "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan ke depan.

Selain menjamin profesionalitas institusi Polri untuk menghadirkan keadilan dan rasa aman bagi seluruh masyarakat, Idham harus mampu mewujudkan penegakan hukum yang adil dan menghadirkan rasa aman segenap lapisan masyarakat.

Idham akan menghadapi kinerja Polri ke depan yang semakin berat dalam menghadapi berbagai dinamisasi dan globalisasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Itulah sebabnya Idham harus mampu menunjukkan kapasitas, kapabilitas, kompetensi, dan komitmen untuk meningkatkan kinerja Polri dan dalam melakukan penegakan hukum, menjamin rasa aman masyarakat.

Tentu saja Polriharus  terus melakukan pengawasan ke dalam yang cukup intens, meningkatkan kinerja, penguatan kelembagaan, serta profesionalisme para anggotanya. Hal ini perlu dilakukan untuk menjawab tantangan perubahan yang cepat dan juga harapan masyarakat atas tegaknya keadilan dan hadirnya rasa aman di tengah masyarakat.

Tantangan berat lain yang harus mendapat perhatian khusus yang harus diselesaikan adalah kejahatan terorisme, siber, dan kejahatan transnasional.

Sementara itu Idham juga harus mengusut tuntas dan menemukan pelaku pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Publik tetap berharap pelakunya ditemukan. 

Juru Bicara KPK Febdri Diansyah mengatakan, jika sudah ditemukan, jangan sampai hanya berhenti pada pelaku di lapangan, tetapi juga sampai ke siapa yang menyuruh, misalnya kalau ada yang menyuruh atau aktor intelektualnya seperti itu.

Sebelumnya, Idham berkomitmen untuk mengungkap kasus penyerangan Novel. Menurut dia, dirinya akan menunjuk Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) yang baru untuk mengungkap kasus tersebut.

Menurut Febri, KPK berharap ke depan KPK bisa bekerja sama dengan lebih baik antara KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung untuk melakukan upaya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang lainnya.

Terlebih, kata Febri, KPK bersama Polri dan Kejaksaan Agung juga sudah mempunyai nota kesepahaman bersama dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengemukakan, ada dua "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan ke depan. Selain persoalan radikalisme dan terorisme, pekerjaan rumah terbesar Polri menyangkut pemberantasan korupsi dan peredaran narkoba.

Menurutnya, kedua hal itulah yang turut mengusik rasa keadilan dan menjadi keresahan terbesar masyarakat dan menunggu taji Polri dalam mencegah dan menindak korupsi serta peredaran narkoba.

Menurut dia, tren peningkatan kinerja Polri di kedua bidang itu memang sudah terlihat membaik namun seharusnya masih bisa lebih ditingkatkan lagi.

Selain penegakan supremasi hukum dan peningkatan kualitas aparat, Polri juga perlu melakukan berbagai terobosan digitalisasi di internal Polri dari Polsek hingga Mabes, maupun dalam proses penegakan supremasi hukum.

Publik masih merindukan "wajah" Polri yang humanis. Harapan kita, jangan ada lagi cerita rakyat dibuat susah atau terganggu kenyamanan hidupnya akibat tingginya tingkat kriminal karena lemahnya penegakan hukum.

Itulah sebabnya, respons cepat dalam manajemen penanganan perkara menjadi sangat penting untuk ditingkatkan sehingga setiap melihat wajah aparat kepolisian, baik yang sedang bertugas di lapangan maupun yang bertugas di kantor, rakyat bisa ceria karena merasa terlindungi, bukan justru merasa takut apalagi terintimidasi.

Dibawah kepemimpin Idham masalah radikalisme dan isu keamanan menyangkut narkoba dan lain-lain, harus diselesaikan.

Kita mendukung dan menyokong Idham dalam menjalankan programnya sehingga institusi polri dapat sesuai dengan semboyan yang dicanangkan, yaitu menjadi Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter).