Dirut KBN Disebut Bermasalah; Pengalaman Mengelola BUMN Terbilang Moncer

Oni
Dirut KBN Disebut Bermasalah; Pengalaman Mengelola BUMN Terbilang Moncer

Jakarta, HanTer - Sinergi Kawal BUMN menilai jika pemberitaan yang menyebut  PT KBN (Kawasan Berikat Nusantara) serta terkait dengan disebutnya Direktur Utamanya Satar Taba sebagai figur yang bermasalah adalah tidak benar.

 

Juru Bicara Sinergi Kawal BUMN, Abdul Rohim mengatakan, PT. KBN dibawah pimpinan Sattar Taba tercatat berhasil meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

 

“Sebagai seorang yang memiliki pengalaman dalam mengelola BUMN, kiprah Dirut KBN Sattar Taba terbilang moncer. Sebelum didapuk sebagai Dirut KBN, Sattar Taba telah dipercaya mengelola PT Semen Tonasa," kata Abdul Rohim dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (29/10/2019.

 

Dalam proses perjalanan, lanjutnya, dia menilai kinerja BUMN Semen Tonasa cukup baik.Dia meyakini bahwa kebaikan demi kebaikan yang telah banyak ditorehkan oleh Dirut KBN Sattar Taba selama berkarier di BUMN menjadi parameter Kementerian BUMN.

 

Sementara terkait dengan rumors Pelabuhan Marunda yang lebih tepat disebut sebagai upaya perampasan aset negara, PT. Kawasan Berikat Nusantara secara hukum telah menyampaikan gugatan atas konsesi pengelolaan pelabuhan marunda selama 70 tahun oleh PT KCN.

 

"Kontrak kerjasama inilah pangkal masalah karena temuan BPK menyatakan bahwa ada kerugian negara dalam kontrak tersebut dan, ada Potensi Loss keuangan negara hingga 50 triliun jika kerjasama tersebut tetap berjalan,” katanya.

 

Menurutnya, beberapa catatan yang berhasil dihimpun dari beberapa sumber, PT KCN selama proses kerjasama dengan PT KBN tidak pernah melakukan RUPS sejak tahun 2015 sebagai prasyarat manajemen perusahaan yang sehat. Selain itu, sejak 2015, PT KCN juga tidak pernah menyetorkan dividen kepada PT. KBN.

 

Hal ini tentu menjadi pertanyaan karena tidak ada mekanisme pertanggungjawaban kinerja yang dapat dinilai.

 

Untuk itu, sinergi Kawal BUMN berpandangam bahwa segala opini, isu dan pemberitaan negatif yang dialamatkan kepada Direktur Utama PT KBN sesungguhnya merupakan sebuah upaya menghadang langkah penyelamatan perusahaan serta aset negara oleh PT KBN yang jika dibiarkan akan dirampas pihak-pihak yang tak bertanggung jawab atas nama kerjasama.

 

"Perampasan aset negara jauh dari hakikat Nawacita, karena kita tentu tak ingin kekayaan negara berupa lahan dan potensi keuntungan yang dapat dihasilkan dinikmati oleh sekelompok orang yang tak berhak atas itu,” pungkasnya.